hello my moots it's me eva (formerly @ryeebeena)
my old account has been suspended permanently since this morning and i can't got back my account. thank you very much for your understanding
Sulit menemukan orang yang membenci Son Heung-min. 🇰🇷
Di dunia sepak bola, itu hampir mustahil.
Pemain hebat biasanya punya hater. Rival klub, rival negara, atau sekadar orang yang tidak menyukai gaya bermainnya.
Tapi Son berbeda.
Bukan karena ia selalu mencetak gol. Bukan karena ia kapten Timnas Korea Selatan. Melainkan karena hal-hal kecil yang sering tidak masuk statistik.
Saat hujan sebelum pertandingan, ia pernah melindungi kepala seorang mascot kecil dengan tangannya sendiri.
Di kesempatan lain, ia melihat seorang anak menggigil kedinginan. Son langsung melepas jaketnya dan memakaikannya kepada anak tersebut.
Ketika Tottenham datang ke Seoul untuk tur pramusim, Son bahkan datang ke bandara membawa papan "Welcome" untuk menyambut rekan-rekan setimnya.
Hal-hal sederhana. Hal-hal yang tidak akan membuatnya memenangkan Ballon d'Or.
Tapi justru itulah yang membuat banyak orang menyukainya.
Karena di balik semua gol, assist, dan penghargaan, Son tidak pernah terlihat seperti seorang superstar. Ia tetap terlihat seperti seseorang yang hanya ingin membuat orang lain tersenyum.
Dan mungkin di dunia sepak bola modern yang penuh ego dan sorotan, itu adalah kualitas yang paling langka dari semuanya.
Ironisnya, Son justru sedang menjalani salah satu periode tersulit bersama Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026. Korea Selatan belum tampil sesuai harapan, sementara Son masih berusaha menemukan performa terbaiknya di tengah tekanan yang semakin besar.
Namun anehnya, dukungan untuk Son tidak pernah benar-benar hilang.
Karena selama bertahun-tahun, ia menunjukkan bahwa menjadi pemain hebat dan menjadi manusia baik bisa berjalan beriringan.
Pada akhirnya, gol bisa berhenti datang. Performa bisa naik dan turun.
Tapi karakter seseorang biasanya tidak berubah.
Dan mungkin itulah alasan mengapa sampai hari ini, sulit menemukan orang yang membenci Son Heung-min. ❤️
@fadillahhiday4t@unmagnetism bener kak. aku baca di section2 berita kr dari sejak kualifikasi ini korea emang lagi goyah karena KFA lagi kacau parah. presidennya gamau mundur, korupsi, even hong myung bo aja sempet ada isu bisa kepilih karena nepotism
Horrendous soccer today from the South Korean team.
Sloppy, lethargic, no urgency whatsoever. Terrible decision not to start Son Heung min for the first half, the best Korean soccer player of all time.
It's like they started the game playing to lose.
@ARSHolicID@The_RedsIndo itu juga. sebenernya dari sebelum kualifikasi mereka udah bermasalah. mulai dari penunjukan hong myung bo yang dicurigain pake jalur belakang, trus federasinya yang lagi kacau parah karena chung mong gyu gamau mundur sebagai presiden KFA
Hong Myung-bo looks on like he knows the end is near. 🫠
If we lose, I gotta be honest, this would be the worst loss in World Cup history in my lifetime. Hong bears all responsibility for this disaster. 😤
Years and years and years of mismanagement by Chung Mong-Gyu and the KFA has gotten us here. It’s a tough blow, a real heartbreaker, but this hard reset is what we will need to move forward. The price? The greatest Korean player of all time saying goodbye too early 💔
OB kantor gue cerita: tiap hari dia bersihin ruang interview jam 5 sore.
Dia hafal 2 tipe kandidat.
Tipe A keluar ruangan bilang "Yah, gue bilang gaji terserah aja biar aman".
Tipe B keluar bilang "Gue tembak 8 juta, kasih alasan 3 poin".
Minggu depan, Tipe A dipanggil lagi. Gajinya 4,2 juta. Tipe B? 8 juta. OB udah tau duluan.
Gue tanya Pak OB: "Kok tau Pak?"
"Mas, yang bilang terserah itu mukanya lemes. Tasnya masih jinjing. Ngeluh di pantry 'HRD-nya galak'."
"Yang tembak 8 juta? Dia keluar senyum. Buka HP, catet sesuatu. Bilang ke temennya 'gue kasih data, jadi dia mikir'."
HRD suka yang mikir, bukan yang pasrah.
4 kalimat pembunuh gaji yang OB sering denger di pantry:
1. "Gaji terserah perusahaan aja" → artinya lo ga tau harga lo 2. "Saya ikut standar aja" → artinya lo ga punya standar 3. "Yang penting keterima dulu" → artinya lo desperate 4. "Sebelumnya saya 4 juta" → artinya lo minta 4,5 juta
Ngomong 1 dari 4 ini = auto UMR.
OB: "Yang lolos itu beda Mas."
Dia ga pernah bilang terserah. Dia bawa kertas kecil. Pas HRD tanya gaji, dia buka kertas.
"Pak saya minta 8 juta. Karena 3 hal: saya pegang ads 15jt/bln, ROAS 3x, dan saya bisa mulai senin."
HRD diem. Catet. OB yang lagi ngepel denger. Minggu depan anak itu balik bawa ID card.
Gue bikin rumus G.A.J.I. biar lo ga ngomong terserah lagi.
G — Ga usah sebut angka dulu: Tanya range dulu. "Boleh tau range untuk posisi ini Pak?" A — Angka lo + 20%: Kalau range 6-8, lo tembak 8,5. J — Jelaskan 3 alasan: Bukan "saya butuh". Tapi "saya kasih".
Lanjutan G.A.J.I:
I — Ikut tutup: "Itu angka yang saya ajukan, saya terbuka diskusi kalau ada komponen lain".
Tanpa G.A.J.I = terserah = 4 juta. Pake G.A.J.I = 8 juta + dihargai.
Contoh G.A.J.I temen gue lamar Admin Sosmed:
G: "Range-nya berapa ya Bu?" HRD: "6-7 juta" A: "Saya di 7,5 juta Bu" J: "Karena 1) saya kelola 3 akun aktif, 2) engagement naik 40% di tempat lama, 3) saya bisa edit video sendiri jadi ga perlu vendor" I: "Saya terbuka kalau ada bonus kinerja"
HRD: "Oke saya note". Hasil? Deal 7,2 juta. Bukan 6 juta.
Sebelum G.A.J.I: "Terserah aja Bu" → HRD mikir "oke 4,5 aja deh, dia ga nolak kok" → Lo nyesel 2 tahun.
Setelah G.A.J.I: "Saya 7,5 karena..." → HRD mikir "anak ini tau harga dirinya, harus gue perjuangin ke bos" → Lo dihargai.
cc : bongkarsistem