banyak dari kita yang justru belajar mati-matian buat reparenting diri sendiri biar rantai traumanya putus di kita.
lucu aja kalau ada yang ngira kita toxic by default, padahal anak broken home yang sudah healed biasanya jauh lebih paham cara menghargai komitmen & komunikasi.
Istriku berasal dari keluarga cemara, attachment style-nya secure, dan dia ga mikir kayak gini :))
Sbgai org yg pernah ngalamin depressive mood dan pnya anxiety yg cukup mengganggu, ak ngerasain sendiri pnya pasangan yg supportive itu ngebantu kita pulih dan ngejalanin proses healing.
Tp bukan berarti pasangan bertanggung jawab buat nyembuhin kita. Proses itu tetep tanggung jawab kita sendiri. Pasangan bsa nemenin dan support, tp bukan ngambil alih.
Menurutku wajar klo seseorang menilai family background calon pasangannya. Hanya aja, family background harusnya jadi sesuatu yg diperiksa, bukan alasan buat automatic rejection.
Yg perlu ditanyain:
- Apakah dia sadar sama trauma dan pola yg dia bawa?
- Apakah dia bsa bikin boundary yg sehat sama keluarganya?
- Apakah dia mau berubah dan cari bantuan profesional klo memang dibutuhkan?
Pengalaman keluarga buruk emg bsa memengaruhi attachment, regulasi emosi, dan hubungan romantis pas dewasa. Tp itu risk factor, bukan vonis.
Org yg berasal dari keluarga cemara jg belum tentu ga pnya masalah. Kadang dari luar keliatan baik2 aja, ternyata ada pola atau pengalaman ga nyaman yg ga pernah dibicarain.
Jadi menurutku, bukan cuma soal dia lahir dari keluarga seperti apa. Tp gimana dia sadar, mengelola, dan bertanggung jawab atas pola yg dia bawa ke pernikahan.
Org yg pnya luka tetep layak dicintai dan dinikahi.
Kata pak penerjemah, ada 7.100 bahasa di dunia. But apparently, each person on Earth has 5 different languages of love. As soon as you continue to learn about love, you’ll realize it’s not only 5, but indefinite. Percuma ngasih 5 bhs cinta kl blm mahir memahami bhs cinta org lain
gue lebih takut menikah sama orang yang punya pola pikir begini daripada sama orang broken home.
karena luka masa kecil masih bisa disadari, diproses, dipelajari, dan diputus. tapi orang yang merasa latar belakang keluarga sudah cukup untuk menentukan nilai manusia biasanya—
Pernah baca kalau dalam mendidik anak, jangan sampai bapak selalu jadi pihak yang marah atau menghukum. Bukan berarti bapak nggak boleh tegas, tapi karena anak bisa lebih mudah mengasosiasikan bapaknya dengan rasa takut. Ibu biasanya lebih lekat dengan pengasuhan sehari-hari,
nadin amizah bisa marah-marah dengan lantang soalnya daddy issues (he can go to hell). yang mother issues tiap mau marah sikit aja ditahan soalnya langsung tiba-tiba “ohiya dulu kan ibu begini, makanya wajar dia perlakuin aku begitu. i wish the world were kinder to her….”
As a woman, I'm scared of her (we went through a ton but I'd never call it hatred). As a daughter, I feel sorry for her and understand how it feels to be in her shoes. Makanya sering kali aku mikir lebih baik untuk gak lahir—that way, I can spare both I and her from this fate
@forethinkerr Kasian banget ya jadi anak broken home, udahlah ga disayang di rumah, ga pantas pula dapat sayang dari yg lain. 🙂
Kalo keluargamu bahagia, happy for u. Kamu ga pernah tau seberapa keras org di luar sana utk bangkit dari kubangan masalah keluarganya. Please be nice.
@forethinkerr Keluarga kamu bermasalah kah kak? Soalnya temen-temen aku yang keluarganya cemara, ga pernah berpikiran gini si. Seharusnya kalau keluarga kamu baik-baik aja, empatinya lebih oke ga si?
Turut berdoa semoga perempuan diluar sana ga dipertemukan dengan laki-laki seperti kamu
gue sebagai anak broken home dan jauh dari figur ayah juga sadar diri. gue selalu insecure tiap ketemu cowo yg keluarganya cemara, like "am I even enough for someone who has it all?" tapi statement “jangan nikahin org yg broken home” itu beneran jahat banget sii anjg.
like brooo, do you think we asked for this trauma? harus reparenting diri sendiri, belajar kasih sayang dari nol, and yet people treat us like we are toxic by default. broken home is our circumstance, not our character. lu yang hidupnya privileged punya keluarga utuh mending stop judging and act like you’re better than everyone else😞