BREAKING:
🇮🇷🇺🇸The Iranian embassy in South Africa posted photos of the two commanders who ordered the attack on the school that killed 180 children and wrote:
“Remember these two criminals. Leigh R. Tate, the commander, and Jeffrey E. York, the executive officer of the USS Spruance, who ordered the launch of Tomahawk missiles three times, killing 168 innocent children at a school in Minab.
Don’t they have children of their own?”
"Indonesia merdekanya kecepetan" itu yaudah lah ya. Momentumnya memang ke situ. Semua orang ingin merdeka. Konsekuensinya kita terima.
Yang tidak termaafkan itu adalah Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Literally tidak aja gunanya dan tidak ada tujuannya, seperti MBG tapi jauh lebih ngawur lagi.
Efeknya sangat destruktif: Indonesia terisolasi di perdagangan dunia. Padahal, sebagai negara pasca-kolonial di Posisi Silang, kita masih sangat bergantung dengan ekspor barang dagang dan hubungan internasional yang baik.
Tidak ada ekspor --> tidak ada uang --> tidak ada beras dan tidak ada gaji untuk tentara.
Tidak berlebihan jika kita sebut bahwa Konfrontasi adalah bencana geopolitik terbesar di sejarah Indonesia.
Luka kebencian artifisial antara Indonesia dan Malaysia yang meaningless dan tidak perlu itu sampai hari ini belum sepenuhnya sembuh. Padahal, sudah puluhan tahun berlalu sejak Konfrontasi dilancarkan.
...Yah, ini tidak sepenuhnya benar. Ada sih, alasan di balik Konfrontasi. Saat itu Soekarno berusaha mempersatukan identitas Indonesia lewat cara Iblis, yaitu lewat kebencian, sebagaimana yang dulu dilakukan Hitler.
Indonesia yang majemuk hendak dipersatukan bukan lewat kebanggaan terhadap diri sendiri, melainkan kebencian terhadap pihak lain, terhadap "other" yaitu Malaysia.
Kebencian ini kemudian dilembagakan masif lewat aksi massa dan ormas terkomando melalui institusi-institusi seperti Front Nasional, yang diketuai Soekarno.
Mania kebencian artifisial ini menciptakan atmosfer Cancel Culture yang mencekam dan meneror. Barangsiapa menentang Soekarno dalam hal apapun, seperti Buya Hamka, segera dicancel dan difitnah sebagai antek Malaysia dan dibasmi.
Bahwa Malaysia punya hubungan kultural dengan wilayah-wilayah Indonesia yang terjalin sejak sebelum partisi kolonial tidak dipedulikan oleh Soekarno, yang tentara pusatnya baru saja menduduki dan membantai Sumatra dan Sulawesi dan merampok kebunnya. Kemudian output produksi kebunnya roboh, karena rampok yang mengelolanya bodoh dan korup.
Barangkali wajar saja Soekarno sama sekali tidak peduli, mengingat ia adalah boomer Jawa NPD dari Jawa yang tidak tahu dan tidak empati tentang hubungan kekerabatan dan kultural antara Sumatra, Kalimantan, dan Malaysia. Hubungan ini dikoyak begitu saja tanpa alasan jelas.
Bodoh sekali yang bilang "Soekarno bagus dalam politik luar negeri". Politik luar negeri Indonesia di masa Konfrontasi itu sangat jelek dan berakibat bencana dan penderitaan ekstrem langsung bagi rakyat, yang padahal bisa dihindari dan tidak perlu.
Setelah Soekarno digulingkan, alhamdulillah hubungan Asia Tenggara bisa berangsur-angsur dinormalisasi lagi, terutama dalam hal yang betulan berefek seperti perdagangan.
Wayne Rooney left Everton, joined Manchester United, got married, had three kids, won 16 trophies, lost his hair, got a transplant, became Man United’s all-time top goalscorer.
Went back to Everton, moved to MLS, came back and managed Derby, got relegated, went to Birmingham and got sacked, went to Plymouth and got sacked again, became a pundit… and in all that time, Arsenal still haven’t won either the Premier League or UCL😭
Sign Ben White for £50m. Didn’t work? Go and drop £40m on Timber.
Sign Calafiori for £40m. Didn’t work? Go and drop £60m on Hincapie.
Sign Ramsdale for £30m. Is he too dumb? Go and drop £30m on Raya (in the last year of his contract).
Sign Jesus for £45m. Didn’t work? Go and drop £65m on Havertz. Didn’t work? Go and drop £65m on Gyokeres.
Did your second-choice striker get injured? No problem, here’s £70m for Eze.
No trophies to show for all this money spent? No worries, let’s just blame Manchester City for spending.