Perpustakaan pribadi Pramoedya Ananta Toer pernah dibakar habis oleh tentara, membuat kita semua kehilangan hak membaca delapan naskah yang belum sempat ia terbitkan.
Sampai akhir hidupnya, pembakaran tersebut masih menjadi hal yang membuat Pram geram.
Kasih masukan berisiko masuk penjara. Lempar pertanyaan dibalas lempar molotov. Melaporkan yang tidak baik malah dilaporkan karena mencemarkan nama baik. Kritik keras berujung disiram air keras
.
Kepada siapa rakyat harus berlindung ketika negara tidak mampu melindungi?
Mulai satu satu ku potong dengan cepat tanpa mereka sadari , sepi iya tenang pasti , selang beberapa waktu bertemu dan bertanya , oh maaf aku sudah tidak punya akses untuk mengetahui hidup mu yang sibuk itu .
Alangkah indah nya kata kata itu dan nostalgia dalam dekapan erat beer dan vodak menghasilkan pemikiran pemikiran yang di luar alam sadar mencerminkan sosok seseorang yang seutuh nya , ada dan tidak sama saja tergantung apa yang di bawa nya .
Dari Italia Genoa:
“Jika kita kehilangan kontak selama 20 menit dengan salah satu kapal kemanusiaan, kita akan menutup seluruh Eropa”
-Revolusi global melawan teror muncul di Eropa.