Aeng ga punya rating peaawat ini kerja, tapi seingat aeng ini ada sistem anti icing buat ngiket kabelnya, kalo masih ada alternative procedure di AMM ya ga masalah, engineer pun ga asal2an lah tarohannya nyawa, ada yg namanya limitasi juga.
Kalo punya potensi itu diasah, dikuatin lagi, jgn karena ini itulah asas nasionalisme, fair aja kalo emg bagus mah kan bisa diperhitungkan untuk bisa berpartisipasi, mental titipan org dalam tea rivuh ahh, pokona mah pak jalan terus we teu kudu lieur.
Grup Djarum sering dipertanyakan soal komitmen mereka terhadap sepak bola Indonesia. Salah satu kritik yang paling sering muncul adalah kenapa Como nggak pernah mengorbitkan pemain Indonesia.
Jawabannya simpel: mereka terhalang regulasi.
Serie A punya aturan ketat soal pemain non-EU. Setiap klub hanya boleh mendaftarkan maksimal 2 pemain non-EU per musim, di semua kelompok umur. Mirwan Suwarso sendiri ngasih gambaran yang cukup jelas soal dilema ini:
“Let’s say Como ambil anak Indonesia umur 16 tahun, maka jatah yang tersisa untuk slot non-EU di tim utama tinggal 1, yang biasanya diisi pemain Brasil, Argentina, Uruguay atau Afrika yang secara pengalaman sudah terbukti.”
Artinya, kalau Como pakai satu slot buat pemain muda Indonesia, mereka harus rela mengorbankan satu slot untuk pemain berpengalaman yang bisa langsung berkontribusi di Serie A. Buat klub yang lagi berjuang membangun reputasi di level tertinggi Italia, itu bukan trade-off yang mudah.
Yang menarik, Mirwan juga meluruskan satu hal. Meski slot pemain non-EU jadi penghalang, bukan berarti Como menutup pintu buat orang Indonesia sama sekali. Justru sebaliknya, Grup Djarum melalui Mirwan Suwarso memilih jalur lain: mengorbitkan pelatih muda, analis, dan staf profesional Indonesia ke dalam struktur klub.
“Kita lebih memilih untuk memberikan banyak kesempatan pada pelatih dan analis. Ada salah satu analis kita orang Indonesia, anak Bandung. Kurniawan juga pernah jadi asisten pelatih di sini. Dari tim media sosial dan tim produksi juga banyak dari Indonesia, kurang lebih ada 11 orang anak Indonesia yang saat ini berada dalam tubuh tim.”
Jadi bukan nggak ada kontribusi untuk Indonesia. Jalurnya beda aja, bukan lewat lapangan, tapi lewat ruang analisis, ruang pelatihan, dan balik layar.
Jadi sebelum nuduh Group Djarum nggak cinta Indonesia, mungkin worth it buat pahami dulu sistemnya. Nggak semua hal bisa diselesaikan dengan niat baik kalau regulasinya nggak mendukung.
"Sekali Milan masuk ke dalam nadimu, maka selamanya akan mengalir di darahmu."
Manuel Rui Costa
Yuk reply dengan quote2 yang diucapkan oleh pemain bola lainnya.
Asa hayang seuri keneh, pas diriungkeun di gacoan, ninggali hareupeunna aya dahareun, si pelakuna teu noel2 acan dahereun, ceuk aing mah hakan atuhnya, ai kana kimia jeung alkohol mah hageut dihakan 🤣