@_jamkecil kalo hak pribadi emg ga dibatasi, nahh tapi lu sendiri bikin distingsi yg penting. secara ga langsung, itu mengimplikasikan keyakinan perlu dibatasi secara epistemik
kalo ga dibatasi, kita ga punya standar buat bedain produk pemikiran org waras dan yg ngga
@setobelimacaa@Kayshi0@reyaa27@Glimmerstarmy kausalitas yg lu yakini justru menyeleweng, krn ada sesuatu yg lu kecualikan dr sebab.
kalopun gw terima prima causa/uncaused cause, ga otomatis Tuhan. bisa aja realitas natural yg fundamental, bahkan alam semesta itu sendiri. ga perlu disematkan predikat Tuhan. wkwk bljr lagi
@setobelimacaa@Kayshi0@reyaa27@Glimmerstarmy fallacy dari mn cb😹 jelas2 infinite regress sesuai dgn latar belakang informasi, coba kasih gw bukti apa kontradiksi P dan ¬P-nya.
infinite regress ga punya titik awal, jadi dasarnya apa bilang alam semesta ga akan pernah ada?
@setobelimacaa@Kayshi0@reyaa27@Glimmerstarmy nanya siapa penciptanya aja udah keliru, organ manusia terbentuk karena embriologi dan asal usulnya melalui evolusi. u/ bilang sesuatu diciptakan, penciptanya harus dibuktikan dulu dong
nih gw tes logika lu, lu sendiri bahas soal kausalitas, berarti tuhan juga disebabkan?
@_jamkecil kalau jawabannya ngga, terlepas dari keyakinan masing2, apa yg bikin klaim X lebih layak diterima drpd Y kalau kduanya sama2 hasil lompatan metafisik? klo ga ada yg bs dipastikan 100%, jstru standar apa yg kita pake u/ bedain klaim yg lebih terjustifikasi dari yg skedar diyakini?
@_jamkecil kalau jawabannya iya, implikasinya kita kehilangan fondasi buat membedakan persepsi orang normal dan orang yg mengalami gangguan mental. jangan2 selama ini mereka justru yg normal, kita yg keliru?
@_jamkecil wah, kalau semua lompatan metafisik boleh diambil begitu aja, bahaya dong.
gw juga bisa bilang alam semesta ini simulasi yang dicoding developer. Hukum fisika cuma aturan program, manusia bagian dari sistem yg berjalan berdasarkan algoritma
@_jamkecil lu sendiri bilang manusia bukan pusat semesta, ini gw setuju, tapi kenapa keberadaan objek alam justru lu atribusikan sebagai sesuatu yang diperuntukkan bagi manusia? bisa aja itu hasil proses alam tanpa tujuan yang ditujukan kepada kita
https://t.co/MjNppnBECv
@_jamkecil bruh, jawaban ini belum ngejawab soal definisi teratur. teratur itu ukurannya apa dan dibandingkan dengan apa?
atom membentuk pohon dan gunung cuma menunjukkan adanya struktur alam. manusia bisa mengamatinya/sebagai observer bukan berarti struktur itu diciptakan untuk manusia
so, pandangan STEM dan soshum bisa sejalan, bisa juga nggak. antarbidang soshum sendiri pun bisa berbeda perspektif. lalu, pertanyaannya apa yang niscaya bagi kemajuan teknologi peradaban? tentu penguasaan ilmu STEM itu sendiri
setuju sih, stem bukan berarti ga punya standar moral atau ga paham sosial. orang stem bisa memahami kebutuhan masyarakat tanpa harus jadi ahli soshum.
tapi sebaliknya, orang soshum ga akan bisa bikin aplikasi atau merancang mesin tanpa belajar ilmu teknis.
gw kasih tau yak, kalian itu bukan benci soshum. Kalian benci diaspora-western liberals😹 org2 soshum justru bisa pro industrialisasi. misal org sejarah yg pengen indonesia bangkit. Sementara STEM (bukan spesifik teknik) justru bisa anti, soalnya mikirin keseimbangan ekosistem.
@_jamkecil contohnya gini, buat bilang kamar gw teratur, harus ada ukuran dan pembandingnya.
misalnya barang tertata rapi, dan pembandingnya kamar sebelah yang berantakan. nah, kalau alam semesta, ukuran dan pembandingnya apa?
@_jamkecil ok dpt poinnya, tapi perlu mundur.
gw belum bisa mengamini klaim alam semesta teratur. “teratur” dibandingkan apa?
fine tuning bicara soal regularitas dan nilai konstanta fisika, belum membuktikan alam semesta teratur, apalagi bahwa keteraturan itu dikehendaki oleh suatu agen
@Roffi_Daijoubu atheis tetep bisa percaya sama prima causa, ga ada kontradiksi logis. tapi pertanyaannya kenapa prima causa harus tuhan? kenapa ga objek natural lainnya?
kenapa alam semesta bisa dikatakan teratur? untuk bilang teratur, harus ada komparasinya. apa komparasinya?