Mohamed Salah, Sadio Mane, Roberto Firmino. 3 Nama yang jadi "pemeran utama" Heavy Metal Football di era kejayaan Liverpool versi Jurgen Klopp.
2 nama pertama adalah singanya sedangkan nama ke-3 adalah pawangnya.
Sebuah cerita di hari ulang tahun 2 legenda LFC, Mo Salah kemarin dan Jürgen Klopp hari ini yang dilihat dari sisi Bobby Firmino di autobiografinya "Si Señor: My Liverpool Years"
Udah ada yg baca? Kalo belum...
Gini ceritanya 🧵
Kita sedang memelihara tradisi busuk: menuntut pemain mati-matian di lapangan, sementara kita membiarkan tribun menjadi tempat penampungan sampah kebencian.
𝗦𝗘𝗕𝗨𝗔𝗛 𝗨𝗧𝗔𝗦.
Ust. Adi Hidayat mengingatkan kita:
"Kalau lagi ngerasa kecil dan tidak berharga, baca Surah Ad-Duha. Di sana Allah berjanji bahwa Dia tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu."
@itbfess_x Penggunaan istilah seperti "Sundog", "SDM Rendah", "Hama", hingga generalisasi bahwa suku Sunda adalah "suku problematik" bukan lagi bentuk kritik, melainkan fasisme sosial dan rasisme terselubung. Ironis ketika narasi ini keluar dari jemari mereka yang mengaku "terdidik" -
Mau nikmati hidup dengan nonton bola, tapi pelatih masih Arne Slot. Mau jalani hidup normal dan lupain bola, tapi Presidennya masih Prabowo.
Hidup gini amat.
Begitu juga kalau ada yg bakar polsek dan koramil, itu pasti sekedar kenakalan remaja yg ingin menjadi individu yg unik, gak ada niat meruntuhkan negara dan kapitalisma
Lihat tim sekelas Persib pencatatan historisnya amit-amit. Mumpung keur gabut, urang jieunkeun situs statistik historis semua match Persib ti 1933-2026. Buat nu kieu kurang ti 1,5 jam ge beres. Loba data menarik sih nu bisa dijadikeun kajian antropologi. https://t.co/NcyjbwmURS
Jadi gini yah, buat orang Bandung, Persib itu entitas.
Meskipun ga ngerti ngerti amat tentang bola, buat orang Bandung mah, ada euphoria tersendiri kalau Persib menang.
Persib bukan sekadar klub bola, melainkan warisan budaya dan simbol kebanggaan daerah, gitu ceunah cing.