Semoga Allah segera mempertemukan kita ya Pip. Segeranya itu aku gak pernah minta dalam waktu dekat, tapi aku minta waktu yang berlalu itu gak kurasa lama. 30 tahun tapi kyk 3 hari gtu.
Hari ini tanggal 22 Agustus, 23 April lalu hari kepergianmu. Berarti udah 4 bulan aja kami hidup tanpamu. Bukan gak berasa, tapi ya waktu memang berlalu, hari silih berganti. Aku udah gak banyak nangis kyk beberapa minggu pertama, tapi nangis di beberapa momen tertentu.
aku bisa naik kendaraan umum. Trus balik ke rumahnya kita bareng. Hari ini semua temenku gak ada yg bisa nemenin, ternyata bener ya, partner terbaikku ya cuma kamu... Lain kali aku bs bergerak sendiri si Pip. 🥲. Mungkin karena bawaan hormon aja aku jadi lebih sensitif.
Setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, sama nggak ya rasanya? Soalnya kalo mikirin jauh ke depan, kyknya isi kepalaku nggak sampe. Terus yang lain jg bisa jadi senasib kan ya? Hehe. Kadang jahat si mikir kyk gitu, tapi kan itu pasti.
Setelah kupikir-pikir, gpp lah sementara nggak punya rumah. Toh rumahku jg nggak indah kalau aku nggak tinggal sm kamu, rumah kita di sana pasti udah bagus kan Pip? Aku tinggal di sini jg nggak selamanya. Biar uang yg kukumpulin untuk bekal anak2 aja.
Pip, hari ini aku dan El berhasil beli sepeda bawa pulang berdua naek motor 🥰. Biasanya kita mah selalu mengandalkanmu kalau masalah yg begini2. Hehe. Tinggal belajar nyetir nih Pip. Makasih ya Pip, kamu udah percaya ke kami, kalau kami bisa berdiri dengan kaki kami.
Dear Ben,
Terima kasih sudah memilihku jadi pendampingmu (di antara sekian banyak orang dengan berbagai variasinya yang bisa dengan mudah kau pilih). Dari awal pun aku sadar, ujian kita mungkin tak lama bersama di dunia (karena kamu memang se-greenflag itu),
Terima kasih atas semua ajaran kebaikanmu pada kami, semua kenangan indah yang kamu buat untuk kami. Tidak ada balasan setimpal selain lantunan doa berulang kali kami untuk kebaikanmu dan rencana pertemuan kekal nanti di kehidupan abadi.
Dulu, ketika melihat hari, pagi cepat beranjak siang, siang berganti malam, malam kembali pagi, rasanya cepat sekali, tahu-tahu rambut sudah banyak memutih, lalu menyadari 'berapa lama aku di sini?'. Bekalku rasa-rasanya tidak pernah cukup, dosaku pun tetap bertambah.
Aku belum benar-benar siap kalau harus kembali pulang. Tapi kini, ketika sandaran duniaku sudah berpulang, rasa takutku akan kematian sedikit berkurang, tapi bukan berarti aku siap pulang...Tidak. Bayi-bayi kecil itu masih membutuhkanku.
Satu hari saja.
Kalau boleh meminta, aku ingin satu hari saja bersamamu. Menghabiskan hari dari pagi hingga pagi seperti kisah Cinderella. Tak apa, tak perlu ada sepatu kaca untuk menjemputmu lagi, cukup rinduku ini dapat terobati.