ikan di laut, sayuran di gunung. jaraknya jauh, hidup di tempat yang berbeda. tapi bisa ketemu di tempat yang sama, di atas meja makan. so maybe that’s just how life works. hal-hal yang memang ditakdirkan untukmu, somehow akan nemuin jalannya sendiri. even when it feels far, impossible, atau kayak nggak ada jalan buat bertemu. kalau memang milikmu, life will slowly bring it to you.
in another life, gamau jadi seseorang yang anxious, gamau jadi orang yang selalu ngerasa takut kehilangan, gamau jadi orang yang selalu overthinking kalau gaada penjelasan, selalu panik dan perasa banget kalau di respon beda sedikit, dan selalu di hantui rasa takut kalau rasa sayang kita cuman bikin orang lain capek.
The Best Part of Growing Older: Realizing that the silence you once found boring is actually the purest and truest form of happiness left after weeding out all the clutter in your life.
nemu tulisan cantik di ig, kira kira kaya gini isinya :
jangan taruh semua cinta di satu orang, satu mimpi atau satu tempat aja. coba kasih sebagian ke teman yg selalu ada, ke makanan yang bikin mood bagus, ke hobi yang bikin lupa waktu, ke lagu yang lagi kamu suka, atau mungkin ke hal hal yg bikin kamu tetap jalan hari ini. dan yang paling penting sisain juga cinta untuk diri sendiri. karna hidup itu rapuh kalau bahagianya cuma bergantung ke satu hal aja. karna cinta ga diciptakan buat dikurung tapi disebarin, biar kalau satu runtuh, kamu ga ikutan hancur.
Setelah Bapak meninggal, yang paling sering kulihat bukanlah Ibu menangis. Justru hal-hal kecil. Hal-hal yang dulu tidak pernah terasa istimewa.
Kadang Ibu sedang menonton TV sendirian, lalu tiba-tiba berkata, "Dulu Bapakmu suka acara ini." Atau saat makan, "Kalau ada ikan begini, Bapakmu biasanya nambah." Atau saat lewat toko tertentu, "Dulu Bapak sering beli di sini." Seolah-olah Bapak masih ikut dalam banyak percakapan. Padahal sudah tidak ada.
Sampai suatu hari, beberapa bulan setelah Bapak meninggal, aku melihat Ibu sedang membereskan lemari. Di tangannya ada kemeja lama milik Bapak. Sudah lusuh. Sudah tidak akan dipakai lagi. Aku pikir Ibu akan langsung memasukkannya ke kardus untuk disumbangkan. Tapi Ibu hanya duduk di tepi ranjang. Memegang kemeja itu lama sekali. Lalu berkata pelan, "Dulu kalau habis jahit sampai malam, setelahnya Bapakmu pakai baju ini."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Karena saat itu aku sadar: yang dirindukan Ibu bukan hanya sosok suaminya. Tapi puluhan tahun hidup yang mereka bangun bersama. Semua pertengkaran kecil. Semua obrolan sebelum tidur. Semua pagi yang dimulai dengan orang yang sama. Semua kebiasaan yang dulu terasa biasa, sampai akhirnya hilang.
Dan mungkin itulah bentuk cinta yang paling dalam. Ketika seseorang pergi, tetapi tetap tinggal di setiap sudut rumah, setiap lagu, setiap makanan, setiap kenangan. Sampai bertahun-tahun kemudian, masih ada yang memanggil namanya dalam hati. Seperti Ibu yang kadang masih bercerita tentang Bapak, seolah beliau hanya sedang keluar sebentar.
Padahal yang sebenarnya terjadi, ada seseorang yang sangat dirindukan. Dan rindu itu tidak pernah benar-benar selesai. ❤️🩹
Menurut gue ada beberapa poin yang bisa di katakan setara dalam sebuah hubungan, tidak ada yang posisinya lebih tinggi atau tidak ada yang posisinya lebih rendah.
Hubungan yang setara itu sesimple (Kamu didengar, dia juga didengar), (Kamu dihargai, dia juga dihargai), (Kamu berusaha, dia juga berusaha).
Hubungan yang setara itu memberikan ruang aman bagi kedua pasangan tanpa takut dihakimi atau kehilangan rasa hormat. Tidak ada tuntutan gender seperti contoh "laki laki harus kuat atau perempuan harus selalu ngalah".
Hubungan yang setara itu baru terasa ketika kedua belah pihak merasa aman, dihargai, dan didengar. Kamu tidak merasa lebih tinggi hingga bisa meremehkan, dan tidak merasa lebih rendah hingga harus mengemis perhatian.
Hubungan yang setara itu tidak ada yang berusaha mengontrol atau mendominasi kehidupan pasangannya. Kamu tetap punya ruang untuk tumbuh, mengejar karir, menjalankan hobi, dan berteman, begitu juga dengan dia. Hubungannya sehat, bukan saling ketergantungan.
Setara dalam hubungan itu bukan berarti segala sesuatunya harus dibagi rata 50:50. Setara yang sesungguhnya itu lebih ke rasa saling menghargai satu sama lain dan bukan melulu tentang financial.
Sedikit cerita, dulu temen gw Bapaknya meninggal mendadak, dia anak paling geude dari 3 bersaudara.
Selama proses mandiin jenazah ampe pemakaman dll, dia kuat bgt, gak nangis, tp ekspresinya sama kek si Adek ini, ditahan - tahan.
Hari ke 3 setelah Bapaknya meninggal dia nelpon gw, nanyain ada tempat yg sepi yg gada orang kira kira dimana.
Awalnya gw kira dia mungkin pengen merenung atau pengen curhat atau apa, Sama gw dibawa lah ke kebun Teh Sinumbra, tempatnya emang bagus, sejuk.
Pas udah nyampe, karena dia pengen ke tempat yg bener bener gada orang, kita akhirnya jalan agak jauh dari posisi parkir motor.
Pas udah nyampe, temen gw lalu nangis sejadi jadinya, mana lama bgt kira kira mau 30-40 menit dia nangisin Bapaknya.
Sama gw akhirnya biarin aja dia nangis, gw agak menjauh lah takut ada orang lewat terus nanyain temen gw kenapa.
Ada Bapak Bapak sempet lewat, orang perkebunan mungkin denger tangisan temen gw, cm sama gw keburu dibilangin situasinya kek apa, si Bapak itupun ngerti terus akhirnya ngobrol bentar ama gw terus gw kasih rokok aja sambil ngobrol.
Udah agak lamaan, dia udah gak nangis lagi, gw samperin temen gw terus kasih dia rokok ama minum. Temen gw cuma bilang makasih terus dia bilang udah lega, udah ikhlas ama kepergian Bapaknya.
she lost her spark...
ga seceria dulu,
ga banyak cerita lagi,
lebih milih diem.
but her eyes tell everything 🥀
teruntuk kamu yang lagi ada di fase ini,
semoga segera pulih yaa,
semoga hari-hari baik segera datang kembali 🌹✨
Di kehidupan yang seberisik ini, aku cuma percaya kalau “apa yang memang buat kita, nggak akan ke mana” dan “Tuhan nggak mungkin kasih luka tanpa nyiapin bahagia setelahnya.”
Pola asuh masa lalu emang ngebentuk tangki awal kita. Tapi di psikologi, kunci buat ngisi ulangnya adalah Self-Dependency (kemandirian emosional). Artinya, kita mengambil alih kendali penuh dan gak lagi meletakkan "saklar" kebahagiaan kita di tangan orang lain
kalo secara psikologis, orang yang emosinya sehat itu biasanya nggak butuh banyak temen. circle mereka kecil, bukan karena anti sosial, tapi karena lebih milih kualitas dari pada kuantitas.
mereka tau batasan diri dan kemampuan merasa cukup. jadi, meskipun lagi sendirian, mereka tetap bisa enjoy dan tenang tanpa harus terus ditemenin orang lain.