Kegiatan performative berfoto di depan tumpukan uang hasil pengungkapan kasus oleh JAMPIDSUS ini sangat disukai oleh Presiden Prabowo.
Sekarang JAMPIDSUS tertangkap basah korup.
Ketika Polisi dan TNI ikut-ikutan dalam pusaran konflik, ini semakin menegaskan secara terang-benderang bahwa penegakan hukum di Indonesia tidak bebas kepentingan dan membuat kita bertanya-tanya tentang kasus-kasus yang diungkapkan kejaksaan akhir-akhir ini.
KPK-Polisi vs Jaksa-TNI
Sebagai rakyat, kita nonton aja drama elite ini.
baca berita Jampidsus yang kudunya orang paling depan ngelawan korupsi malah ketangkep korupsi is truly the peak of absurdity in our country 😭
kekayaan yang disita LIMA RATUS EMPAT PULUH SATU MILIAR RUPIAH!
di sudut kota yang sama ada kepala keluarga yang tiap harinya cuman bisa bawa uang 70rb untuk keluarganya 😔
Bro, we're really doomed 😭
Rajin jalan cepat (brisk walking) selama setahun ternyata bisa bikin ukuran hippocampus (bagian otak yang ngatur memori) naik sekitar 2%. Efeknya? Kayak bikin umur otak lo mundur lagi sekitar 2 tahun.
📚 Referensi: PNAS (Erickson et al., 2011)
• Presidennya hobby pidato pake kata kasar + ngitung gak jelas
• Wapresnya main kucing + ai ai an kayak beda dunia
• Menlunya harus diingetin dlu baru gerak
• Menteri PUPR nya rencana dinas keluar negeri bareng keluarga bertepatan final world cup
• Menkeu nya punya anak yg suka parlay dan malah tone deaf
• Ketua MPR nya jadi suruhan pemerintah
• Aparat nya, TNI Polri lagi rebutan kasus, saling tunjukkan kekuatan
• Aparat Hukum, Jaksanya, terindikasi korupsi atas kasus besar yg ditangani
Negara ini sebenarnya sedang menuju ke mana?
JUSTRU KITA BERTERIMAKASIH KE ORANG YANG MEMBOCORKAN KARENA UDAH BONGKAR BOBROKNYA MENTERI LU 😾🫵
ANDAI ITU GA KE-PUBLISH, SI DODY HANGGRODOK ITU UDAH BAWA ANAKNYA PAKE FASILITAS NEGARA. MENTERI KHUWONTOL BILANG AJA LU PEN NONTON PILDUN SEKELUARGA. NGENTT...
Kakak iparku lanjut:
"Titik baliknya tuh gini."
"Istri gue sakit. Demam 3 hari."
"Gue pikir gue bisa handle semua."
"Ternyata gue gak tau:"
"→ Anak minum obat apa kalau batuk"
"→ Gurunya anak namanya siapa"
"→ Jadwal les hari apa aja"
"→ Di mana kartu BPJS disimpen"
"→ Sambel yang istri gue bikin itu resepnya gimana"
WHAT?
PEMADAMAN LISTRIK BERGILIR PLN ADA HUBUNGANNYA DENGAN MBG.
PLN BUKAN KEKURANGAN BATUBARA,
TAPI GAK PUNYA DUIT BUAT BELI BATUBARA
KARENA PEMERINTAH NGK BAYAR PLN DEMI MBG
KALO BENERAN SIH, INI GILAK !!!!
MBG NGEFEK KEMANA-MANA SERIUS...
@txtdrimedia padahal udh didemo, seenggaknya dr situ mereka tau keresahan rakyat, salah satunya ya tentang harga bbm yg naik.
ya Allah, hukumlah secara konstan dan berat para pejabat indonesia yg nirempati, serakah, dan otak kosong itu. AAMIIN.
@txtdrimedia Kalau naikin harga semangat banget, kalau nurunin harga banyak banget alasannya.
Dasar pemerintah bajingan kerjanya nyusahin rakyat doang 🤬😡
Dear buzzer, rakyat akan mengapresiasi jika Dolar bisa dibawah Rp 15.400 dan harga Pertamax dibawah Rp 12.100 (itu start saat Pak Prabowo dilantik). Jadi kalau skrg dolar turun ke 17.720 ya blm layak dipuji. Begitu juga klo besok misal Pertamax turun ke 14.000, berlebihan juga kalau dipuji. Lagian tugas rakyat itu mengkritisi & mengevaluasi, bukannya asal memuji jika memang blm pantas dipuji.
Fun Fact :
1. Dulu yg dapet THR itu cuma PNS, tapi semenjak pekerja demo Pekerja swasta juga dapet THR
2. Dulu juga jam kerja 16 jam ++ tapi semenjak demo jadi 8 jam.
Macet mu yg dirasa sekarang bisa terkonversi jadi bahagia dan sejahteramu di masa depan.
buat yg dukung MBG tetap jalan, nih dengerin suara hati guru-guru yg diwakilkan pak guru Iman
cuman butuh 17 detik buat paham sakitnya jdi guru di tengah fantastisnya anggaran MBG
- ditekan krn bersuara
- gaji seuprit dibanding petugas SPPG
- ada yg gajinya ga dibayar
Harapan WNI saat ini :
1. Ganti presiden dan wakil presiden
2. Ganti semua orang dibelakangnya
3. Rupiah membaik
4. BBM turun
5. Harga stabil
6. Stop MBG
7. Adain pemilu ulang?
Ketua BEM UGM 2025, Tyo hadir dalam "aksi Gejayan memanggil" malam ini.
Tiyo Ardiyanto: "prabowo-gibran membunuh anak anak indonesia, dengan cara membodohi mereka sambil mengencangkan perut perutnya."
"kita dikasih MBG tapi pendidikan kita tidak diprioritaskan"
HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!!
Public speaking skill mereka levelnya jauh di atas yang katanya "mewakili" rakyat.
Dek Fatimah aku padamu. ❤️
Duh salut banget nggak sih guys?🥹
Keren banget nggak sih?😭
sc:threadsaiatmadja
Guys, ada satu hal yang menurut gue paling jahat dan paling halus yang sedang dilakukan pemerintah ke kita semua sekarang.
Bukan dengan kekerasan.
Bukan dengan ancaman langsung.
Tapi dengan satu metode yang jauh lebih efektif:
Normalisasi.
Pelan-pelan.
Bertahap.
Sampai kita semua lupa bahwa hal yang sekarang kita anggap "ya begitulah" sebenarnya dulu adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Mari kita mulai dari awal:
Dulu Gibran tidak memenuhi syarat usia untuk jadi calon wakil presiden.
Aturan jelas.
Batas usia jelas.
Tidak ada ruang abu-abu.
Lalu tiba-tiba aturannya diubah.
Batas usia digeser.
Dan Gibran bisa maju.
Saat itu semua orang ribut.
Demo.
Kritik.
Headline media penuh dengan kata
"konstitusi dirobek".
Sekarang?
Sudah lewat lebih satu tahun.
Sudah jadi sejarah.
Tidak ada yang ribut lagi.
Yang dulu dianggap pelanggaran konstitusi terbesar sekarang dianggap "ya sudah terjadi, mau gimana lagi".
Itu normalisasi yang pertama.
Lalu janji-janji politik:
Selama kampanye segala macam janji diucapkan.
Yang didengar rakyat: harga akan turun, kesejahteraan akan naik, korupsi akan diberantas habis.
Sekarang janji-janji itu satu per satu menguap.
Harga naik bukan turun.
Subsidi dipotong bukan ditambah.
Dan ketika ditanya jawabannya selalu sama:
"kondisi global", "tidak sesederhana itu", "butuh proses".
Dan kita semua mulai menerima jawaban itu.
Padahal dulu janji itu yang membuat kita memilih.
Itu normalisasi yang kedua.
Lalu MBG:
Program senilai Rp335 triliun.
Korupsi terbongkar sebelum setahun berjalan.
Kepala BGN ditangkap.
Dapur SPPG meledak dari 21.000 jadi 27.000 dengan jual beli titik yang terungkap sendiri oleh Zulhas.
Reaksi pertama kaget.
Marah.
Gila, ini program flagship sudah korupsi dari awal!
Sekarang?
Ya namanya program besar pasti ada yang nyolong. Yang penting programnya jalan.
Itu normalisasi yang ketiga.
Dan ini yang paling licik penangkapan korupsi dijadikan prestasi:
Setiap kali ada pejabat ditangkap karena korupsi pemerintah dan pendukungnya langsung framing:
"Lihat, ini bukti pemerintah serius berantas korupsi!"
Tapi tunggu.
Penangkapan itu bukan prestasi.
Penangkapan itu adalah bukti bahwa korupsi terjadi di program yang dirancang dan dijalankan oleh pemerintah itu sendiri.
Bayangkan rumah kamu kebakaran karena kompornya bocor dan kamu malah dipuji karena berhasil memadamkan apinya.
Padahal yang harusnya dipertanyakan adalah:
kenapa kompornya bocor dari awal?
Itu normalisasi yang keempat dan ini paling berbahaya karena membalik logika sebab-akibat.
Lalu kenaikan BBM:
Dulu waktu dolar tembus Rp15.000 itu dianggap krisis nasional.
Headline besar.
Rapat darurat.
Semua orang panik.
Sekarang rupiah di Rp18.000.
Dan reaksinya?
"Ya begitulah kondisi global, semua negara juga kena."
Pertamax naik. Pertalite ikut terdampak abang ojol harus antri jam 4 pagi sebelum SPBU buka.
Tapi narasinya:
"Pertalite kan tidak naik, jadi rakyat kecil tidak terdampak."
Itu normalisasi yang kelima.
Dan ini yang paling menyeramkan buzer yang menyerang siapapun yang masih kritis:
Connie Rahakundini Bakri sampai harus lari ke Rusia karena nyawanya terancam.
Dino Patti Djalal diserang karena mengkritik biaya perjalanan presiden.
Saiful Mujani dikriminalkan.
Dokter Tifa dipolisikan.
Dan setiap kali ada yang kritis buzer langsung bergerak. Framing langsung dibentuk:
"ini cuma pencari sensasi",
"ini bagian dari konspirasi asing",
"ini orang yang tidak puas karena tidak dapat jabatan".
Pelan-pelan orang-orang yang masih berani bicara jadi makin sedikit.
Bukan karena mereka salah.
Tapi karena ongkos untuk bicara jadi terlalu mahal.
Itu normalisasi yang keenam dan ini yang membuat seluruh proses normalisasi sebelumnya bisa berjalan tanpa perlawanan.
Dan ini yang paling jahat dari semuanya kita mulai lelah:
Setiap normalisasi butuh energi untuk dilawan.
Setiap kali ada yang salah butuh tenaga untuk marah, untuk kritik, untuk turun ke jalan, untuk bertanya "kok bisa begini?"
Tapi ketika hal-hal yang salah ini datang terus-menerus satu demi satu, hampir tanpa henti energi kita untuk marah pun habis.
Dan ketika energi untuk marah habis yang tersisa hanya satu hal: menerima.
"Ya sudahlah."
"Mau gimana lagi."
"Memang begini negaranya."
"Capek juga kalau terus-terusan marah."
Dan itulah tujuan sebenarnya dari seluruh proses ini.
Bukan untuk membuat kita setuju.
Tapi untuk membuat kita terlalu lelah untuk tidak setuju.
Normalisasi bukan terjadi karena rakyat bodoh.
Normalisasi terjadi karena rakyat dibuat lelah secara sistematis satu krisis demi satu krisis,
satu pelanggaran demi satu pelanggaran,
satu janji yang diingkari demi satu janji lainnya sampai titik di mana melawan terasa lebih melelahkan daripada menerima.
Dan ketika seluruh generasi sudah tumbuh dengan menganggap semua ini "normal" tidak akan ada lagi yang bertanya "kenapa harus seperti ini?" Karena bagi mereka memang dari awal sudah seperti ini.
Itulah kenapa melawan kelelahan untuk tetap bertanya, tetap kritis, tetap mengingat bagaimana seharusnya adalah hal paling penting yang bisa kita lakukan sekarang.
Karena begitu kita berhenti bertanya itulah saat normalisasi benar-benar menang.