Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
"Pak TU Kampus"
"Iya gimana?"
"Ini kok saya dapet UKT tertinggi? Penghasilan Orang Tua saya gak segede itu?"
"Coba saya cek, kasih nama sama NIM?"
"Debi Pak, ini NIM saya."
"..."
"Ini ibu kamu PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS emang biasanya UKT tertinggi, memang gitu aturannya di kampus ini."
"Hah? Terus gimana Pak?"
"Coba kamu apply KIPK. Ini dicek ya syaratnya."
***
"Bu Dinas Sosial."
"Iya gimana?"
"Saya mau cek orang tua saya di desil berapa di DTSEN, saya mau daftar KIPK."
"Minta NIK orang tua ya."
"Ini Bu, tolong dicek"
"Sebentar ya"
"..."
"Ini ibu kamu PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS pasti kehapus dari DTSEN. Dari jaman DTKS juga rutin diapus. Perintah menteri sosial. Memang aturannya gitu."
"Hah? Terus gimana Bu?"
"Coba kamu pakai surat keterangan tidak mampu atau slip gaji ortu buat daftar KIPK."
***
"Pak Lurah, saya mau minta SKTM buat daftar KIPK"
"Kamu bukannya Debi, anaknya Bu Lala, dosen di kampus itu?"
"Iya Pak"
"Lah, penghasilannya bukannya lumayan?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Bentar saya cek dulu aturannya, Ibu PNS kan ya?"
"Iya Pak"
"Saya kemarin dapet instruksi dari Pemda sini, katanya kalau PNS gak boleh dapet SKTM. Jadi saya gak berani keluarin."
"Hah? Terus gimana Pak?"
"Coba langsung pakai slip gaji Ibu ke Dikbud."
***
"Bu Dikbud."
"Iya gimana?"
"Saya mau daftar KIPK, cuma data ortu saya gak ada di DTSEN sama Pak Lurah gak bisa ngeluarin SKTM. Jadi pakai slip gaji."
"Sebentar saya cek ya."
"Ini slip gaji ibu kamu? PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS emang gak bisa daftar KIPK. Kemarin pejabat tim teknis KIPK udah bilang kalau PNS gak boleh sama sekali."
"Sama sekali Bu? Gaji Ibu saya cuma segini?"
"Iya. Bahkan Golongan I juga gak boleh. Memang aturannya begitu."
"Hah? Terus gimana Bu?"
"Coba ke bank aja sama Ibu, siapa tahu bisa ada pinjaman"
***
"Bu CS Bank"
"Iya gimana?"
"Saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya"
"Baik Bu, saya cek dulu"
"..."
"Bu Lala, setelah kita cek penghasilan dan riwayat finansial, kita gak bisa kasih pinjaman."
"Kenapa Bu?"
"Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi. Saya gak berani Bu, nanti saya yang kena."
"Waduh, terus gimana ini Bu?"
***
"Pak TU kampus, saya gak bisa dapet KIPK Pak"
"Udah coba pinjam bank?"
"Gak bisa Pak, penghasilan Ibu saya gak cukup."
"Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus"
***
"Mas fintech, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
"Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun"
"Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?"
"Iya Mbak"
"Waduh, itu segede biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya"
"Memang aturannya segitu pinjaman kita."
***
"Pak TU Kampus"
"Iya gimana?"
"Misalkan saya mau nunda kuliah jadi tahun depan, buat ngumpulin duit dulu, bisa gak?"
"Jadi gak daftar ulang pertama?"
"Iya."
"Gak bisa, kalau udah lulus ujian tahun ini, kamu diblacklist dari ikut ujian lagi tahun depan."
"Hah?"
An MIT professor taught the same math course for 62 years, and the day he retired, students from every country on earth showed up online to watch him give his final lecture.
I opened the playlist at 2am and ended up watching three of them back to back.
His name is Gilbert Strang. The course is MIT 18.06 Linear Algebra.
Every machine learning engineer, every data scientist, every quant, every self-taught programmer who actually understands how AI works learned the math from this one man. Most of them never set foot on MIT's campus. They just opened a free playlist on YouTube and let him teach.
Here's the story almost nobody tells you.
Strang joined the MIT math faculty in 1962. He retired in 2023. That is 61 years of standing at the same chalkboard teaching the same subject to 18-year-olds.
The interesting part is what he did when MIT launched OpenCourseWare in 2002. Most professors were skeptical. They worried that putting their lectures online would make their classrooms irrelevant. Strang did not hesitate. He said his life's mission was to open mathematics to students everywhere. He filmed every lecture and gave it away.
The decision quietly changed how the world learns math.
For decades linear algebra was taught the wrong way. Professors started with abstract vector spaces and proofs about field axioms. Students drowned in the abstraction. Most never recovered. They walked out believing they were bad at math when they had simply been taught in an order that nobody's brain is built to absorb.
Strang inverted the entire curriculum.
He started with matrix multiplication. Something you can write down on paper. Something you can compute by hand. Something you can see. Then he showed his students that everything else in linear algebra eigenvectors, singular value decomposition, orthogonality, the four fundamental subspaces was just a different lens for understanding what the matrix was actually doing under the hood.
His rule was strict. If a student could not explain a concept using a concrete 3 by 3 example, that student did not actually understand the concept yet. The abstraction was supposed to come last, not first. The intuition was the foundation. The proofs were just confirmation that the intuition was correct.
The second thing Strang changed was the classroom itself. He said please and thank you to his students. Every single lecture. He paused mid-derivation to ask "am I OK?" to check if anyone was lost. He never used the word "obviously" or "trivially" because he knew exactly what those words do to a student who is one step behind. He treated 19-year-olds learning math for the first time the way he treated his own colleagues. With patience. With respect. With the assumption that they belonged in the room.
For 62 years.
The result is something that has never happened in the history of education. A single math professor became the default teacher of his subject for the entire planet.
Universities in India, China, Brazil, Nigeria, every country with a computer science department, started telling their own students to just watch Strang's lectures. The University of Illinois revised its linear algebra course to do almost no in-person lecturing. The reason was honest. The professor said they could not compete with the videos.
His final lecture was in May 2023.
The auditorium was packed with students who had never met him before. He walked to the chalkboard, taught for an hour, and at the end the entire room stood and applauded. He looked confused for a moment, like he genuinely did not understand why they were cheering. Then he smiled and waved them off and walked out.
His written comment under the YouTube video of that final lecture was four sentences long. He said teaching had been a wonderful life. He said he was grateful to everyone who saw the importance of linear algebra. He said the movement of teaching it well would continue because it was right.
That was it. No book promotion. No farewell speech. No legacy management.
The man whose teaching is the foundation of modern AI just thanked the audience and went home.
20 million views. Zero ego. The entire engine of the AI revolution sits on top of math that millions of people learned for free from one quiet professor in Cambridge.
The course is still on MIT OpenCourseWare. Every lecture, every problem set, every exam, every solution. Free.
The most important math course of the 21st century is sitting one click away from you. Most people will never open it.
Guys lu pada tau dulu presiden habibie pernah selamatin rupiah dari Rp17.000/USD ke level Rp6.500–Rp7.000-an per dolar AS dalam kurun waktu sekitar 17 bulan pada masa krisis ekonomi 1998–1999.
Bayangin lagi krisis tapi bisa buat nilai rupiah menguat
segila dan sejenius itu beliau
Bayangin ini dulu:
Tahun 1998, Indonesia itu hampir runtuh total:
Rupiah tembus hampir Rp17.000/USD
Bank-bank kolaps
Perusahaan bangkrut massal
Rakyat narik duit → panic everywhere
Dunia internasional:udah gak percaya sama Indonesia
Lalu masuk Habibie.
Bukan ekonom.
Bukan banker.
tapi Engineer.
Tapi justru di situ letak “gila”-nya.
Habibie ngerti satu hal:
Kalau bank hancur, ekonomi pasti mati.
Langkahnya brutal tapi perlu:
Bank yang gak sehat → ditutup
Bank yang masih bisa diselamatkan → direstrukturisasi
Hasilnya:
Lahir Bank Mandiri (gabungan 4 bank bobrok)
Bank Central Asia diselamatkan dan jadi raksasa
Banyak bank lain ikut pulih
Ini bukan sekadar “nyelamatin bank”
ni balikin kepercayaan orang buat naro uang lagi
Sebelum Habibie:
Bank sentral bisa “diatur” pemerintah
Habibie ubah total:
Lewat UU No. 23 Tahun 1999
Bank Indonesia jadi independen
Kenapa ini penting?
Karena dunia luar mikir:
Kalau bank sentral bisa diintervensi politik → negara ini gak bisa dipercaya.”
Dengan langkah ini:
Investor mulai balik
Rupiah mulai stabil
Indonesia dapat bantuan besar dari International Monetary Fund (~$43 miliar)
Tapi bedanya Habibie:
Dia gak nurut 100%
Contoh:
IMF mau subsidi dicabut
Habibie nolak
Kenapa?
Kalau subsidi dicabut saat rakyat lagi hancur → daya beli mati total
Jadi dia:
Pakai dana IMF buat stabilisasi
Tapi tetap jaga rakyat bawah
Ini yang bikin kebijakan dia tegas tapi manusiawi
Masalah waktu itu:
Banyak perusahaan utangnya dolar → tiba-tiba meledak
Solusi Habibie:
Restrukturisasi utang
Konversi ke rupiah
Bentuk lembaga khusus (INDRA)
Perusahaan yang selamat:
Astra International
Sinar Mas Group
Kalau ini gak dilakukan:
PHK massal bisa jauh lebih parah
Ekonomi gak akan pulih kalau politik chaos.
Habibie:
Buka kebebasan pers (UU Pers 1999)
Legalin banyak partai politik
Siapin Pemilu 1999
Dunia lihat:
Indonesia berubah.
Dari otoriter → demokratis.
Dan ini efeknya besar:
Kepercayaan internasional balik
Hasil Nyata (Bukan Teori)
Dalam ±17 bulan:
Rupiah: dari ~16.800 → ~7.000/USD
Inflasi mulai turun
Perbankan stabil
Investor mulai masuk lagi
Ini bukan recovery biasa
Ini comeback ekstrem dalam waktu super singkat
comeback tergila sepanjang republik ini berdiri
Tapi sekarang berbanding terbalik
bank indonesia mulai disusuti orang2 yang kompeten
gk pernah kerja di bank indonesia
tapi tiba2 bisa jadi deputi bank indonesia
karna keponakan presiden
jadi kalau lu lihat rupiah melemah
ihsg melemah
ekonomi lesu
asing keluar terus
yaa ini kebalikan dari semua yang dilakuin pak habibie dulu
ya tinggal copas aja deh
apa yang dilakuin sama pak habibie
pasti gk bakal mau
orang niat nya jadi pemimpin juga udah jelek
Kejeniusan Habibie bukan karena dia ekonom.
Tapi karena dia berpikir seperti engineer:
lihat masalah → bongkar sistem → perbaiki dari akar
Dia berani ambil keputusan gak populer, tapi benar.
1/ BTS had their Gwanghwamun comeback and if you don't speak Korean, you missed SO much of what the members actually said to the audience that night. here's what actually went down 🧵
안녕하세요 여러분 이번 무대 잘 보여드리기 위해 멤버들과 열심히 준비하고 있습니다! 뒤에서 고생해주고 계신 스태프 분들 안전관리 해주시는 관계자 분들께 감사드립니다 저희 공연에 오시는 아미 여러분들은 당일 현장에서 무리하지 말고 밤엔 아직 쌀쌀하니 따뜻하게 입고 오세요 보고싶습니다 곧 만나요!
광화문 공연을 함께해주신 모든 분께 감사 인사 드립니다.
안녕하세요, 방탄소년단입니다.
4년이라는 긴 기다림 끝에, 저희 일곱 멤버가 다시 모여 광화문이라는 뜻깊은 공간에서 여러분을 마주했습니다. 저희의 복귀 무대가 무사히 완성될 수 있도록 아낌없는 배려와 응원을 보내주신 모든 분께 감사 인사를 드리고자 합니다.
먼저, 광화문 광장을 저희의 복귀 무대로 품어주시고, 수많은 인파 속에서도 큰 사고 없이 안전한 공연이 될 수 있도록 힘써주신 경찰, 소방, 정부 및 지자체 관계자 여러분께 고개 숙여 감사드립니다.
교통 통제와 소음 등 크고 작은 불편함을 감내해 주신 시민 여러분, 그리고 광화문 일대 상인 및 직장인 여러분께도 진심으로 죄송하고 또 감사하다는 말씀을 드립니다. 저희의 공연을 너른 마음으로 품어주신 그 따뜻한 배려를 결코 당연하게 여기지 않고, 오래도록 가슴 깊이 새기겠습니다.
그리고 무엇보다, 우리의 전부이자 자랑인 사랑하는 아미 !
긴 시간 동안 변함없이 저희를 믿고 기다려줘서 정말 고맙습니다. 광장을 가득 채운 여러분의 함성을 듣는 순간, ‘아, 마침내 돌아왔구나’하는 벅찬 마음이 들었습니다. 그 많은 인원 속에서도 서로를 배려하며 성숙하고 질서 있게 공연을 즐겨주신 여러분의 모습에 저희가 더 크게 감동했습니다. 늘 그랬듯, 여러분이야말로 저희의 가장 큰 자부심입니다. 화면 너머로 같은 마음을 보내준 전 세계 아미 여러분에게도 진심으로 사랑과 감사의 마음을 보냅니다.
이번 광화문 무대는 저희 방탄소년단 일곱 명만의 것이 아닙니다. 안전을 책임져주신 분들의 노고, 시민 여러분의 따뜻한 양해, 그리고 아미의 변함없는 사랑이 모여 완성된 무대였습니다.
여러분이 보내주신 이 큰 사랑과 성원을 잊지 않고, 앞으로 이어질 방탄소년단의 여정에서 더 큰 울림과 좋은 음악을 만들어 나가겠습니다. 오늘의 뜨거웠던 기억이 여러분의 일상에도 오래도록 기분 좋은 선물로 남았으면 좋겠습니다.
저희는 정말, 더없이 행복했습니다.
감사합니다.
2026년 3월 21일
방탄소년단 올림
My favorite part about writing is that first spark of an idea. It can happen at any time, for any reason. The idea for the Opalite music video crash landed into my imagination when I was doing promo for The Life of a Showgirl. I was a guest on one of my favorite shows, @TheGNShow. For those of you who aren’t familiar, it’s a UK late night show where Graham Norton (the insanely charismatic and lovable host) invites a random group of actors, entertainers, musicians, etc to be on his show and we all sit there and chat like it’s a dinner party. They even serve wine. Anyway. I remember thinking I got ridiculously lucky with the group I was paired with. Cillian Murphy, Domhnall Gleeson, Greta Lee, Jodie Turner-Smith, and @LewisCapaldi. All people whose work I’ve admired from afar. When we were all talking during the broadcast, Domhnall made a light hearted joke about wanting to be in one of my music videos. He’s Irish! He was joking! Except that in that moment during the interview, I was instantly struck with an *idea*. And so a week later he received an email script I’d written for the Opalite video, where he was playing the starring role. I had this thought that it would be wild if all of our fellow guests on the Graham Norton show that night, including Graham himself, could be a part of it too. Like a school group project but for adults and it isn’t mandatory. To my delight, everyone from the show made the effort to time travel back to the 90’s with us and help with this video. You might even recognize some friendly faces from The Eras Tour. I got to work with one of my favorite people in the world, Rodrigo Prieto, again! I had more fun than I ever imagined - Made new friends, metaphors, and fashion choices. It was an absolute thrill to create this story and these characters. Shot on film. The Opalite video is out now on Spotify & Apple Music.
https://t.co/ZOi4zNuyTD
ORANG LUAR NEGERI KE INDONESIA
"Hello, where are you from?"
"I am from the US."
"What are you going to do here?"
"Vacation."
"Great, you just need to pay IDR 500,000 for a Visa on Arrival."
"Here."
"Have a nice vacation."
***
"Hi, you're late to the online meeting."
"Sorry, it's 2 AM here. I have to adjust my schedule."
"Where are you now?"
"I stay in Bali now. It's cheap, the living cost is only a tiny fraction of my salary. I can save A LOT, and by A LOT I mean A LOOOOT."
"Wow, you don't need a work visa for that?"
"I just stay in my room. No one knows that I am working. As long as the internet works."
"Local tax?"
"No, I am on a tourist visa."
***
"Having a nice vacation? You stayed a whole two months."
"Yeah, my visa is almost expired, so I have to leave."
"Kuala Lumpur? Must be another vacation."
"Yes, only for three days, I will be back again after that."
***
"Hello, where are you from?"
"I am from the US."
"What are you going to do here?"
"Vacation."
"Great, you just need to pay IDR 500,000 for the Visa on Arrival."
"Here."
"Have a nice vacation."
***
"Having a nice vacation? You stayed a whole two months."
"Yeah, my visa is almost expired, so I have to leave."
"Bangkok? Must be another vacation."
"Yes, only for three days, I will be back again after that."
***
"Hello, where are you from?"
"I am from the US."
"What are you going to do here?"
"Vacation."
"Great, you just need to pay IDR 500,000 for the Visa on Arrival."
"Here."
"Have a nice vacation."
***
"It's been almost two years since you stayed in Bali, how is it?"
"Amazing, cheap, and tax-free!"
ORANG INDONESIA KE LUAR NEGERI
"Halo mbak, saya perlu urus visa Schengen buat ke Belanda."
"Untuk keperluan apa?"
"Saya ada konferensi ilmiah di Rotterdam. Buat S3 saya, wajib hadir presentasi biar papernya bisa terbit."
"Oke ini jadwal yang tersedia."
"Mesti nunggu 2 bulan?"
"Iya mas, penuh soalnya."
"Aduh, mepet ya."
"Coba dulu aja mas. Ini syarat dokumennya."
***
"Kenapa uang tabungannya cuma segini? Mas perlu sekian ratus juta mengendap."
"Saya adanya cuma segini."
"Mas perlu surat pernyataan gak akan kerja di sana."
"Lah, itu surat undangan dari konferensi gak cukup?"
"Gak cukup, harus ada tabungan sama pernyataan."
"..."
***
"Ini tiket pulang pergi juga udah harus ada."
"Jadi tiket PP udah harus saya beli, tapi visa belum tentu keluar?"
"Iya"
"Hah?"
"Memang aturannya begitu."
"Kalau nanti abis visa keluar gimana?"
"Visanya bisa gak keluar."
***
"Halo, visa Anda ditolak."
"Hah kenapa?"
"Kami gak bisa kasih tahu alasannya."
"Haduh, terus paper konferensi saya gimana?"
"Maaf ya Mas. Saya harus layani antrian selanjutnya."
@Polin11301130 I don’t agree.
Take a look at this scene. Usually this kinda scene tells that time has passed, and I read the book so i thought it already been years. But the next episode, from lady whistledown I learn it just been months.