BOTI NGENTOT! BOTI ANJING!
DEMI ALLAH NANGIS GUE LIAT BAPAK LO MINTA MAAF SAMPE SUJUD GITU!
KONTOL! BAPAK LO BANTING TULANG BIAR LO BIKIN BANGGA KELUARGA, BUKAN BIKIN MALU BOTI ANJING!
SUMPAH, ANCUR BANGET MOOD GUE LIAT ORANG TUA YANG HATINYA ANCUR!
โSetiap pagi aku mengantarnya berangkat. Setiap malam aku menunggunya pulang. Aku bekerja agar dia bisa kuliah, bisa meraih masa depan yang lebih baik daripada ayahnya. Tapi hari ini, justru aku yang harus berdiri menanggung malu karena pilihan hidup anakku sendiri.โ
Lelaki itu datang ke kampus dengan pakaian kerja dan ransel yang masih tergantung di punggungnya. Mungkin ia mengira hanya ada persoalan biasa yang perlu diselesaikan. Namun sesampainya di sana, dunia yang selama ini ia bangun untuk anaknya seakan runtuh dalam sekejap.
Ia mendapat kabar bahwa putranya, seorang mahasiswa PNJ, dipergoki mahasiswa lain sedang berciuman dengan pasangan sesama jenisnya di area kampus, dekat perpustakaan. Peristiwa itu memicu kemarahan dan menjadi perhatian banyak orang.
Di hadapan mahasiswa, dosen, dan kamera-kamera yang merekam setiap detik kejadian, seorang ayah mendadak kehilangan pijakan.
Bukan karena lelah mencari nafkah.
Bukan karena beratnya pekerjaan.
Tetapi karena kenyataan yang baru saja menghantam hatinya jauh lebih berat daripada semua beban yang pernah ia pikul selama hidup.
Anak yang selama ini ia antar, ia didik, ia banggakan, dan ia perjuangkan pendidikannya dengan keringat serta pengorbanan, tiba-tiba menjadi sumber luka yang tak pernah terlintas dalam bayangannya.
Wajahnya tertunduk.
Air matanya jatuh.
Harga dirinya seakan tercerai-berai di hadapan banyak orang.
Lalu ia bersujud dan meminta maaf.
Seorang ayah yang mungkin tidak tahu apa-apa tentang perbuatan anaknya, tetapi tetap merasa harus menanggung beban moral dari semua yang terjadi.
Kadang yang paling menyakitkan bagi orang tua bukanlah kemiskinan.
Bukan pula sakit badan.
Melainkan ketika mereka merasa telah berusaha memberikan yang terbaik, namun melihat anak yang dicintai justru berjalan ke arah yang tidak pernah mereka harapkan.
Mungkin malam itu ia pulang dengan langkah yang lebih berat daripada biasanya.
Memikirkan apa yang harus ia katakan kepada istrinya.
Memikirkan di mana letak kesalahannya sebagai ayah.
Memikirkan doa-doa yang selama ini dipanjatkan.
Dan memikirkan masa depan anak yang tetap ia cintai, meskipun hatinya sedang hancur.
Menjadi orang tua di zaman ini memang tidak mudah.
Karena yang kita hadapi bukan hanya persoalan ekonomi atau pendidikan, tetapi juga berbagai pengaruh yang datang tanpa henti dari lingkungan, pergaulan, dan media yang setiap hari membentuk cara berpikir anak-anak kita.
Semoga Allah menjaga anak-anak kita saat mereka berada jauh dari pandangan kita.
Semoga Allah menguatkan para ayah dan ibu yang diam-diam memikul beban besar di dalam dadanya.
Dan semoga Allah menjadikan anak-anak kita penyejuk mata, pembawa kebanggaan dunia dan akhirat.
Sebab tidak ada air mata yang lebih berat bagi seorang ayah, selain menyaksikan anak yang selama ini diperjuangkannya dengan seluruh hidup, justru menjadi alasan mengapa dadanya terasa sesak untuk bernapas.
Alfaqir
UHF
Astagfirullah
Ya Allah lindungi keluarga kami๐ฅ
Dahulu yang dianggap tabu, kini malah berani tampil di hadapan publik bahkan memenuhi media sosial. LGBT atau perilaku menyimpang. Di sejumlah kota besar bahkan pasangan sesama jenis tampil terbuka di ruang publik.
Astagfirullah
Ya Allah lindungi keluarga kami๐ฅ
Dahulu yang dianggap tabu, kini malah berani tampil di hadapan publik bahkan memenuhi media sosial. LGBT atau perilaku menyimpang. Di sejumlah kota besar bahkan pasangan sesama jenis tampil terbuka di ruang publik.