Beberapa tempat streaming alternatif tambahan buat yang mau nonton pildun gratis:
1. Rbtv
Link: https://t.co/LUnid5Gxq1
2. Tigoals
Link: https://t.co/knmioG3p1D
3. NextTV
Link: https://t.co/KlyuNSHFce
Jangan lupa di-save bang wkwk.
Kita pantau bareng😁
Aduh.. menyeramkan sekali. Semoga kita bisa selamat dan kuat menghadapi ini.
El Niño Super tahun 1877 dulu, memicu kekeringan serentak di India, Cina, Brasil, dan Afrika Timur. Tanaman gagal panen di 4 benua di waktu yg bersamaan. Kelaparan berlangsung selama 3 tahun.
Para peneliti menyebutnya sbg "bencana lingkungan terburuk yg pernah menimpa umat manusia."
Terakhir kali El Niño sekuat itu terjadi, yg meninggal sampai ±50 juta orang, kira2 3-4% dari seluruh populasi dunia. Jika dibandingkan dgn angka penduduk saat ini, jumlahnya bisa mencapai 250 juta jiwa.
Lalu ini ada berita tentang forecast Desember 2026 dari model CMIP6 SSP5-8.5 menunjukkan anomali suhu di sebagian besar daerah Kutub Utara (Arktik) melebihi 10 °C dibandingkan periode 1881–1920.
Peta ini menggambarkan penurunan tajam tutupan es dan salju yg berpotensi memicu pelepasan gas rumah kaca dlm jumlah besar.
Saya coba bahas penjelasan teknisnya dan kaitannya dgn El Niño di Indonesia.
Penurunan es Arktik menyebabkan 2 feedback utama:
- Albedo effect.. permukaan laut yg lebih gelap menyerap lebih banyak radiasi matahari drpd es putih, sehingga pemanasan semakin cepat.
- Pelepasan metana dari permafrost darat dan sedimen dasar laut yg mencair.
Kedua proses ini mempercepat kenaikan suhu global secara keseluruhan. Pemanasan Arktik yg lebih cepat ini juga mengganggu keseimbangan energi di atmosfer dan lautan.
Secara logis, hal tersebut dpt memengaruhi pola El Niño-Southern Oscillation (ENSO). El Niño cenderung menjadi lebih intens atau lebih sering terjadi ketika suhu global naik, krn perubahan sirkulasi angin dan suhu permukaan Pasifik tropis.
Di Indonesia, El Niño yg lebih kuat biasanya membawa dampak nyata:
- Curah hujan menurun signifikan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
- Musim kemarau yg lebih panjang dan kering.
- Risiko kekeringan, kebakaran hutan gambut, juga penurunan produksi padi dan komoditas pertanian lainnya.
Ini bkn hanya isu di kutub yg jauh, tetapi yg langsung dirasakan di tanah air.
Proyeksi Arktik Desember 2026 mengingatkan kita bahwa feedback iklim bersifat saling terkait dan berskala global.
Bgmn menurut kalian.. apa yg paling perlu diwaspadai untuk kita di Indonesia saat ini dan ke depannya?
Fun fact, Gereja Orthodox Etiopia dengan bangga menamai diri mereka “Tewahedo” dalam bahasa Ge’ez.
Tewahedo ini artinya “menjadi satu”, merujuk pada kesatuan kodrat Kristus yang berasal dari 2 kodrat, yaitu Allah-manusia, God-man, Theantropos.
Bahasa Ge’ez ini merupakan salah 1 rumpun bahasa semitik, seperti bahasa Ibrani, Arab, dan Aramaic.
Dan ketika kata “Tewahedo” ini ditransliterasi kan ke bahasa Arab, kata ini menjadi “Tawhid”
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Itu bkn hanya fakta astronomi, tapi pengingat yg membuat saya merinding takjub setiap kali terpikir.
Kita semua sdg mengorbit Matahari yg sama.. tapi tiap planet hidup di “waktu” yg berbeda.
Cahaya yg kita lihat dari Matahari adalah Matahari 8 menit 13 detik yg lalu.
Dari Neptunus.. lebih dari 4 jam yg lalu.
Artinya tata surya ini bkn peta statis.
Ini pertunjukan (apa ya kata tepatnya? 🤔) bertingkat dari foton2 purba.
Merkurius hampir “real time”.
Neptunus sdh mengalami masa lalu yg jauh.
Saya suka bgt analoginya:
Kita semua melihat orang2 di sekitar kita.. tapi yg kita lihat adalah versi mrk di masa lalu.
Hubungan, pertemanan, bahkan percakapan sehari2 semuanya ada “light delay”nya sendiri.
Apalagi kalau kita bicara soal Quantum entanglement atau perspektif AI yg bisa “melihat” simultan di banyak timeline.
Kdg saya berpikir, mungkin itu sebabnya kita sering salah paham 1 sama lain.
Krn kita semua sdg melihat “versi lampau” dari orang yg sama.
Tapi justru di situ keindahannya:
meski tertunda, cahaya itu tetap sampai. Masih menyambungkan kita semua ke api yg sama.
Kalian bgmn.. pernah merasa sdg “melihat” seseorang di masa lalunya sendiri?
Atau ada momen di hidup kalian yg terasa seperti light delay ini?
Kenapa ya rumah2 di Indonesia kurang populer penggunaan peredam panas matahari ?
Padahal keuntungannya cukup signifikan terutama di iklim Indonesia.
Jika kamu pakai AC bisa hemat listrik, krn AC ngga kerja terlalu berat.
Kalopun ngga pake AC, suhu dalam rumah bisa lebih rendah, dan kipas angin ngga perlu muter 24 jam.
Dinding ruangan yang menghadap matahari ngga panas kalo diraba, tidur malam hari jadi lebih nyaman.
Sebenarnya, anak-anak yang "jago bohong" dari strict parents itu sedang mempraktikkan cara bertahan hidup paling dasar.
Dalam psikologi, ini adalah mekanisme pertahanan diri yang muncul ketika kejujuran tidak lagi menawarkan rasa aman, melainkan ancaman hukuman.
Saat ruang untuk berbuat salah ditutup rapat, otak anak otomatis beralih ke mode survival. Ayo kita bahas:
#Opinifollowers
Timur Tengah atau Asia Barat? Penyebutan Mana yang Lebih Tepat untuk Menggambarkan Negara-Negara Arab Secara Geopolitik
Asal-Usul Istilah “Timur Tengah”
Istilah “Timur Tengah” bersifat Eurocentric, yakni berpusat pada perspektif Eropa. Konsep ini muncul pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, terutama melalui para ahli strategi militer dan diplomat Inggris serta Amerika. Awalnya, dunia Timur dibagi menjadi “Near East” (yang kini sebagian besar merujuk pada Turki dan Balkan), “Middle East” (kawasan di antara Eropa dan “Far East” seperti Cina dan Jepang), serta “Far East”.
Penyebutan ini didasarkan pada jarak dari pusat kekuasaan Eropa, khususnya London. Kawasan tersebut dianggap “tengah” karena terletak di jalur strategis menuju India dan Asia Timur, yang menjadi kepentingan kolonial. Istilah ini semakin populer pasca-Perang Dunia II dan digunakan secara luas dalam media, diplomasi, serta analisis keamanan Barat. Secara geopolitik, “Timur Tengah” sering mencakup negara-negara Arab di Semenanjung Arab, Levant (seperti Suriah, Lebanon, Yordania), Irak, Iran, serta kadang-kadang Mesir, Turki, dan bahkan bagian Afrika Utara (MENA: Middle East and North Africa). Batasannya bersifat fleksibel dan sering dipengaruhi oleh konteks politik, seperti konflik Arab-Israel atau isu energi minyak
Pengertian “Asia Barat” dan Pendekatan Geografis Netral
Berbeda dengan itu, “Asia Barat” merupakan istilah geografis yang lebih obyektif dan konsisten. Menurut skema geografi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Geoscheme), subwilayah Western Asia mencakup negara-negara berikut: Armenia, Azerbaijan, Bahrain, Siprus, Georgia, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Palestina, Suriah, Turki, Uni Emirat Arab, dan Yaman. Klasifikasi ini murni berdasarkan posisi kontinental di bagian barat benua Asia, tanpa merujuk pada perspektif luar.
Istilah ini selaras dengan penamaan kawasan Asia lainnya, seperti Asia Tenggara, Asia Selatan, atau Asia Timur. Dari sudut pandang Asia sendiri, kawasan ini memang berada di ujung barat benua, sehingga “Asia Barat” lebih akurat secara harfiah. Organisasi internasional seperti PBB cenderung menggunakan “Western Asia” untuk keperluan statistik dan analisis netral, menghindari konotasi kolonial.
Perbandingan dalam Konteks Negara-Negara Arab
Negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Irak, Suriah, Yordania, Lebanon, Yaman, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman secara geografis mayoritas berada di Asia Barat.
Akan tetapi beberapa di antaranya, seperti Mesir, memiliki wilayah di Afrika Utara, sehingga sering dimasukkan dalam definisi “Timur Tengah” yang lebih luas karena ikatan budaya, sejarah, dan politik Arab.
Dari perspektif geopolitik:
“Timur Tengah” lebih menekankan dimensi strategis, konflik, dan kepentingan global (minyak, jalur perdagangan, keamanan regional). Istilah ini telah membentuk narasi internasional, termasuk dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan Eropa. Namun, ia dikritik karena bersifat subyektif, mengaburkan identitas lokal, serta sering dikaitkan dengan stereotip ketidakstabilan dan konflik. Banyak intelektual dan masyarakat di kawasan tersebut, termasuk di dunia Arab, memandangnya sebagai warisan kolonial yang menempatkan Eropa sebagai pusat dunia.
“Asia Barat” menawarkan kerangka yang lebih inklusif dan akurat secara geografis. Ia menghindari bias Eurocentric dan selaras dengan upaya dekolonialisasi dalam ilmu pengetahuan sosial. Dalam konteks geopolitik kontemporer, istilah ini semakin digunakan oleh akademisi, media alternatif, dan negara-negara Asia untuk menekankan otonomi regional serta hubungan intra-Asia. Meskipun demikian, “Asia Barat” kurang populer dalam wacana sehari-hari dan media massa global, sehingga kurang efektif untuk komunikasi luas.
Argumen Mana yang Lebih Tepat Secara Geopolitik
Secara geografis murni, Asia Barat jelas lebih tepat. Ia konsisten dengan pembagian benua dan menghindari perspektif luar yang menjadikan kawasan tersebut sebagai “tengah” dari sudut pandang Eropa. Dalam geopolitik, penyebutan memengaruhi persepsi: “Timur Tengah” cenderung memperkuat narasi Barat tentang kawasan sebagai zona konflik dan kepentingan strategis, sementara “Asia Barat” mendorong pandangan yang lebih netral, berfokus pada dinamika internal kawasan, seperti integrasi ekonomi Teluk, peran Organisasi Kerja Sama Islam, atau hubungan dengan kekuatan Asia seperti Cina dan India.
Namun, perubahan istilah bukanlah solusi tunggal. “Timur Tengah” telah menjadi konvensi yang mapan dan dipahami secara universal, sehingga penggantian total dapat menimbulkan kebingungan dalam diplomasi dan analisis. Pendekatan yang seimbang sering direkomendasikan: menggunakan “Asia Barat” dalam konteks akademis dan geografis, serta “Timur Tengah” atau “Dunia Arab” ketika membahas identitas budaya dan geopolitik Arab secara spesifik. Beberapa pihak juga mengusulkan istilah alternatif seperti SWANA (South West Asia and North Africa) untuk mencakup dimensi yang lebih luas.
Jepang nih apa sih, keren banget 😭
Ini timnas mau main di World Cup dengan kondisi abis win streak di 5 laga terakhir. Termasuk ngalahin Brasil & Inggris.
Udah mah pemain jago-jago, jersey keren, skrg punya theme song kayak gini.
Timnas paling kalcer