Sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk menikmati permainan, merayakan kemenangan, dan tetap setia saat klub sedang terpuruk. Namun di era sekarang, muncul fenomena yang semakin sering terlihat, SIRIKISME. 😂
Fenomena ketika sebagian suporter atau fans tidak lagi fokus pada perkembangan klub yang mereka dukung, melainkan lebih sibuk memantau, mengomentari, dan berharap klub lain gagal juara. Ketika tim sendiri gagal meraih trofi atau prestasi, perhatian mereka tidak tertuju pada MASALAH klub yg mereka sukai.
Yang menjadi fokus justru berapa banyak trofi yang dimiliki rival, bagaimana cara meremehkan pencapaian mereka, dan kapan momen yang tepat untuk mengejek mereka.
"Padahal, keberhasilan klub lain tidak menghapus sejarah klub kita" 🤝
Jumlah trofi klub yg udah dimenangkan tidak membuat koleksi berkurang satu. Namun bagi penganut SIRIKISME, melihat rival sukses sering kali terasa lebih menyakitkan daripada melihat timnya sendiri gagal.
Cirinya cukup mudah dikenali qo:
1. Lebih hafal kekalahan rival daripada kemenangan klub sendiri.
2. Muncul paling depan ketika rival kalah, lalu menghilang saat rival juara.
3. Menganggap setiap prestasi lawan sebagai ancaman terhadap harga diri pribadi.
4. Menjadikan kebencian terhadap rival sebagai identitas utama fandom.
5. Lebih sering membahas klub lain daripada klub yang mereka dukung sendiri.
Padahal esensi menjadi adalah tentang mendukung, bukan sekadar membenci.
Beberapa orang menonton bola untuk menikmati pertandingan.
Beberapa orang menonton bola untuk melihat pemain favoritnya berkembang.
Beberapa orang menonton bola untuk merasakan kebahagiaan ketika klubnya menang.
Tapi ada juga yang menonton bola hanya untuk menunggu klub lain terpeleset. Dan ketika rival terus berkembang, terus memenangkan trofi, dan terus menciptakan sejarah baru, mereka kehabisan bahan pembicaraan.
Ujung-ujungnya yang tersisa hanyalah membuka kembali arsip sejarah lama, mengulang cerita puluhan tahun lalu, dan hidup dalam kenangan yang semakin jauh dari realitas saat ini.
Masa depan dan sekarang tidak menarik bagi mereka.Karena satu-satunya tempat di mana mereka masih merasa unggul adalah masa lalu.
Kita tau sekarang sepak bola selalu bergerak ke depan. Generasi berganti, pemain berganti, pelatih berganti, bahkan dinasti pun berganti.
Kadang klub kita ada di fase jaya-jayanya. Tapi beberapa moment, klub yang kita cintai masuk kedelam jaman kegelapan atau dark era.
Yang terus hidup dalam nostalgia tanpa mampu menerima kenyataan hanya akan menjadi penonton dari sejarah yang sedang ditulis oleh orang lain.
PADA AKHIRNYA,
Klub juara mengangkat trofi 🏆
Fansnya merayakan pencapaian klubnya 💙🖤
Sedangkan penganut SIRIKISME,
mengangkat arsip, berharap masa lalu bisa mengalahkan kenyataan, menghabiskan waktu mengecilkan trofi, mencari celah untuk meremehkan prestasi, atau berharap keberhasilan itu terlihat tidak istimewa 🥲
Wayne Rooney on other teams congratulating Arsenal on their title:
“Arsenal were crowned Premier League champions and deserved credit for what they achieved this season. But I cannot help feeling that some clubs in England could not find it in themselves to offer a simple word of congratulations.
In football, respect costs nothing. When a team ends a 22-year wait and wins the title with quality and character, the least their rivals can do is acknowledge it. The silence from certain clubs speaks louder than any post ever could.
I am proud of what Mikel Arteta has built. The players showed resilience, belief and the kind of determination that wins leagues. That deserves recognition, not ignorance.
Congratulations to Arsenal on winning the Premier League. But I believe English football loses something when basic respect between clubs disappears.
To the Arsenal supporters: you waited 22 years. Nobody can take that from you. Enjoy every moment of it.”
#PremierLeague #Arsenal #Champions
🚨 Thierry Henry Explains Why Arsenal Are One of the Most Hated Clubs in Football
🗣️: “People always ask why everyone is so obsessed with Arsenal. The answer is simple: relevance. When Arsenal are struggling, the world talks about them. When Arsenal are winning, the world talks about them. Very few clubs in football command that level of gravity.
Arsenal have one of the biggest fanbases in the world, and with a fanbase that large, every opinion becomes louder. Every victory feels bigger, every defeat becomes a global discussion, and every title race turns into a war between supporters online.
In recent years, Arsenal have returned to competing for the biggest trophies, and that naturally creates enemies. Nobody hates teams that are irrelevant. Rival fans say they dislike Arsenal supporters because they are confident, loud, and everywhere. But if we're being honest, every successful club has supporters like that.
After losing to PSG in the Champions League final, you can already see thousands of fans who don't even support the opposing team celebrating Arsenal's downfall. That’s not just rivalry; that’s fear and obsession.
The reality is that Arsenal are one of the few clubs in world football that people either love or love to see lose. That's usually what happens when a club becomes big enough to live in everyone's mind, even when they're not playing.”
Untuk semua yang pernah merasakan pahitnya kalah 8-2.
Untuk semua yang menyaksikan Arsenal dibantai 6 gol di Stamford
Bridge pada pertandingan ke-1.000 Arsène Wenger.
Untuk semua yang harus menelan kekecewaan di Baku.
Untuk semua yang harus pergi ke sekolah setelah kebobolan 10 gol dari Bayern.
Hari ini adalah untuk kalian. Nikmati sepenuhnya. Kita pantas mendapatkannya.
Nasib +62 seminggu terakhir :
- Putusan MK : Jakarta tetep ibu kota, gak jadi IKN
- Sambo Kuliah S2 di lapas
- Nadiem divonis 18 + 9 tahun
- Ibam divonis 4 tahun
- Andrie Yunus gak sopan dan ber etika, makanya disiram air keras
- Nonton Film Dokumenter dilarang
- Lembaga tinggi negara bikin cerdas cermat aja, juri nya blunder
Ada yg mau nambahin?
❌ VAR Cannot See ✅ VAR Can See
The PGMOL will happily turn a blind eye to Mo Salah handling the ball because it benefits Liverpool, but will study an Arsenal penalty in forensic detail to deny it.
Just give Liverpool the title already
ngulet di bawah umur 30 : bebas, enak, puas
ngulet di atas umur 30 : deg-degan, pelan-pelan, harus mindful.
krn skrg kalau ngulet bisa tiba-tiba jadi keram, ada urat yang ketarik lah, malah beresiko tinggi 🥲