Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
✅2019: Sebuah klub yang nyaris bangkrut dan terbenam di Serie D.
✅2026: Menjadi salah satu kekuatan elite Serie A, untuk pertama kali dlm sejarah lolos ke Liga Champions.
Salah satu kunci keberhasilan Como tentu saja Cesc Fabregas. Yang keren dari metode kepelatihan Fabregas adalah penegakan prinsip memahami sebelum mengeksekusi.
Fabregas selalu meluangkan waktu utk menjelaskan alasan logis di balik setiap keputusan taktis atau pemilihan pemain. Dengan menjelaskan aspek why dari sebuah instruksi, ia membangun pemahaman kognitif yang lebih dalam pada diri pemain.
Dan pada muaranya, rasa memiliki dan tanggung jawab para pemain terhadap performa tim meningkat dengan tajam.
🎥: Como
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Pada era di mana sepakbola seperti hafalan dan pemain layaknya robot di lapangan, mereka kembali mengingatkan kita alasan menyukai olahraga ini.
Ballers ✨
TERIMA KASIH KOMPANY & ENRIQUE!
Berkat mereka akhirnya kita bisa menyaksikan duel ofensif kelas atas, duel idaman & ideal. Ini bukan soal 2 tim tak bisa bertahan, tapi ini soal betapa bagusnya mereka menemukan solusi untuk membongkar pertahanan & cetak gol. 9 GOL.
WHAT A GAME!
Guys Feri Amsari baru saja bilang sesuatu yang perlu lebih banyak orang Indonesia dengar soal Board of Peace.
Dan ini bukan soal perasaan pro Palestina atau pro Amerika.
Ini soal hukum yang sangat konkret.
Indonesia join Board of Peace tanpa persetujuan DPR.
Pasal 11 Undang-Undang Dasar sudah sangat jelas. Presiden mau buat perjanjian soal perang, perdamaian, atau perjanjian internasional apapun harus minta persetujuan DPR dulu sebelum pergi.
Dan setelah pulang — harus diratifikasi DPR dalam bentuk undang-undang.
Dua-duanya tidak dilakukan.
DPR mengaku masih reses.
Sementara Presiden sudah tanda tangan.
Sudah komitmen kirim 8.000 prajurit TNI ke Gaza. Dan belum ada penjelasan yang jelas soal apa manfaatnya bagi Indonesia.
Feri bilang ini bukan pertama kali.
Hari pertama kabinet dilantik saja Seskab Teddy dilantik tanpa berhenti dari TNI aktif.
Padahal undang-undang TNI tidak mencantumkan sekretaris kabinet sebagai jabatan sipil yang boleh diisi TNI aktif.
Hari pertama sudah langgar undang-undang.
Jadi ini bukan anomali.
Ini pola.
Dan soal 8.000 prajurit yang mau dikirim ini yang paling gw catat dari Feri.
Palestina sendiri sudah bilang jangan kirim pasukan. Tapi Indonesia tetap jalan. Untuk apa? Feri khawatir prajurit kita dijadikan pasukan darat tameng kepentingan Amerika dan Israel sementara perangnya sendiri sudah pakai drone dan teknologi. Yang kena duluan justru manusia di lapangan.
Dan biayanya pakai uang siapa? Nyawanya milik siapa?
Soal argumen ekonomi yang sering dipakai untuk membela keputusan join BOP bahwa kita bisa dapat tarif 0 persen dari Amerika Feri kasih konteks yang menarik.
Mahkamah Agung Amerika sendiri sudah putuskan bahwa Trump tidak boleh tentukan tarif dagang tanpa persetujuan Senat. Artinya tarif yang dijanjikan itu fondasinya sudah digugurkan pengadilan tertinggi Amerika. Dan Trump tetap jalan seenaknya.
Jadi kita berikan konstitusi kita untuk perjanjian dengan orang yang pengadilannya sendiri bilang dia tidak berwenang buat perjanjian itu.
Feri simpulkan dengan satu kalimat yang gw rasa paling jujur.
Ini adalah hari yang gelap untuk konstitusi bangsa ini.
Bukan karena Indonesia tidak boleh punya kepentingan ekonomi. Bukan karena bergaul dengan Amerika itu salah. Tapi karena ketika Presiden sendiri tidak patuh pada konstitusinya dan tidak ada yang bisa mengawasi karena DPR koalisinya satu suara yang hilang bukan cuma prosedur.
Yang hilang adalah jaminan bahwa keputusan sebesar ini yang menyangkut nyawa prajurit dan posisi Indonesia di dunia diambil dengan akuntabilitas yang seharusnya.
Tim nasional futsal sejengkal lagi juara Asia
Timnas Indonesia sedikit lagi lolos Piala Dunia
Indonesia U23 hampir lolos Olimpiade
What a phase!
Either yapping or yelling. I’m here to support, not to hate.
Ini contoh kalah dan harapan kita patah tapi kita tidak kecewa.
Karena kita tahu persis proses futsal ini dimulai dan dikawal terus oleh orang yang sama. Hasil maksimal walau tanpa juara dengan senang hati kita terima.
Hal yang hilang di Timnas Sepakbola kemarin. Proses dimulai oleh satu pelatih yang taruh fondasi, tapi diakhiri dengan mengenaskan oleh pelatih yang entah dipilih karena apa—atau karena faktor narsistik ketua federasinya saja.
Timnas Futsal, terima kasih 🇮🇩
Dua jam jelang pertandingan final. Mari kita apresiasi para pencetak sejarah yang telah berjuang sampai titik ini.
Kami akan ada di Indonesia Arena atau di depan monitor/tv untuk mendukung kalian malam ini.
Terima kasih dan good luck, #TimnasFutsal!
Hector Souto, Masterclass.🧠🇪🇸🇮🇩
Memaksa para pemain Iran untuk bermain dengan individual skill, karena terlihat sistem yang dimainkan oleh Iran secara kolektif tidak jalan sepanjang pertandingan.
Membuat Iran bermain hingga babak adu penalti.
Respect!