ᅠ
ᅠ
Setelah menyuap sesendok bubur untuk Ibu, Dimayuga menunjuk-nunjuk televisi yang menampilkan berita.
"Yang begini, nih, Bu, yang bikin Dima susah dapat kerja," katanya, JULID.
Begini ekspresi Dima sekarang.
"Kepala urusan komunikasi Balai Keneg/ara/an Nusantara, Husain Nirwasita, juga menyampaikan hal serupa.
'Tenaga kerja RHBI hadir bukan untuk menggantikan posisi manusia, tetapi mendorong produktivitas industri sehingga pembangunan dapat dipercepat. Jadi, saya rasa protes
Oh, sudah habis. Suap lagi.
"Lagian, dia ngomongin kepentingan rakyat yang mana, deh? Perasaan hari-hari sebelum rame, beli beras kudu jadi kuli dulu tiga hari."
Ih, kalau ada Nenek pasti ramai rumahnya. Nenek akan menyahuti Dima karena dia pasti setuju dengn pendapat cucunya.
ᅠ
ᅠ
"Ah udah, deh," satu panci beserta isinya masuk kotak sampah, cara olahnya biar nanti saja deh mikirnya. Masalahnya, bahan kanji habis, bagaimana cara nempel posterku yang gak seberapa itu?
ᅠ
ᅠ
"ASTAGA ANJRIT."
Kayaknya semua makhluk hidup di rumah kaget dengar teriakanku barusan. Aku bangkit dari kasur, terbirit-birit melangkah ke dapur. Bau gosong memenuhi rumah, beruntung sendor belum menangkap asap, rumah masih aman dari kebanjiran.
Aku matikan fungsi kompor sambil mengacak rambutku yang semerah api itu. Keringat bercucuran karena panik. Adonan kanjinya gosong di dasar panci, yang lebih bikin panik, KALAU NENEK MASIH HIDUP DAN KEMBALI, AKU YANG MATI.
PANCINYAAA!!!
(c) Mataku Kembali terpaku pada poster yang mungkin lemnya belum seberapa kering, memahami isinya yang seolah menyuarakan isi kepalaku beberapa bulan ini. Setelah memantapkan diri, akhirnya aku Kembali membuka mulut.
“Tempat kumpulnya di mana?”
(c) Ketiga, kalaupun benar klami culik, anggap aja itu kontribusi kamu buat selangkah ke peradaban yang lebih baik.”
Tiga kali serang dalam sekali bicara, mulut perempuan memang tidak ada lawan. Aku menggedikkan bahu, barusaha melepasakan diri dari tangan perempuan tadi. (c)