Musim yang istimewa telah dilalui bersama. Walaupun singkat, namun kehadiranmu berhasil membawa satu piala. Terima kasih telah menjadi bagian dari #PERSIB ๐
Merci beaucoup, Layvin Kurzawa ๐ซ๐ท๐
#WeArePERSIB
"Kaya gini mau masuk pildun."; "Liga sampah diikutin."; "Emang masih ada yang ngikutin bola lokal?"
Tiap ada chaos yan terjadi di kancah sepakbola nasional, komentar-komentar kaya gini yang paling cepet muncul. Apalagi pas minggu kemaren soal perayaan yang terjadi di Bandung ๐ sosmed isinya bensin kuabeeeeehhhh.
Tapi ada hal menarik soal fenomena yang terjadi dalam 2 minggu kebelakang ini. Soal Persib dan Bobotoh-nya, PSG dengan Ultrasnya. Dua kelompok yang dari sepengamatan saya ternyata memiliki kedekatan sosial yang cukup mirip.
Kita liat PSG dan Ultrasnya yang lahir di Seine-Saint-Denis. Tempat lahirnya Ultras PSG. Sebuah distrik termiskin di metropolitan Prancis. 27,6% dari 1,7 juta penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Tingkat pengangguran 17,1%, jauh di atas rata-rata nasional 12%.
Dari sana lahir Mbappรฉ, muncul generasi pemain kelas dunia yang lahir karena sepak bola adalah satu-satunya tangga yang terlihat dari bawah.
Terus kita tarik ke Bandung dengan Bobotohnya.
Bobotoh yang paling ekspresif saat perayaan, yang mungkin bisa dibilang paling "chaos" oleh sebagian pihak, mereka bukan dari kelas atas. Mereka adalah kelas pekerja yang mungkin datang dari lapisan masyarakat bawah dari Bandung dan sekitarnya.
Kalo kata Zen RS, "Bandung juga tersusun dari kaki-kaki kecil yang terus berani main walau diteriaki Satpol PP. Mereka datang. Mereka main. Karena itu satu-satunya cara mereka bertahan."
Penelitian Dunning, Murphy & Williams dari Leicester University menemukan bahwa lebih dari 80% dari 500+ orang yang ditangkap karena kerusuhan bola adalah buruh manual atau pengangguran. Hal ini terjadi karena mereka punya lebih sedikit ruang untuk meluapkan tekanan hidup yang jauh lebih berat. Pada akhirnya, stadion dan "isi"-nya jadi sebuah Katup Sosial di masyarakat.
Harus diakui kalo sepak bola adalah hiburan paling murah dan paling dekat secara emosional yang bisa dinikmati kelas pekerja. Dan Indonesia menduduki peringkat 8 dunia sebagai negara dengan suporter paling passionate versi CIES Football Observatory (2025/26) ngalahin seluruh negara ASEAN.
Tapi gairah sebesar itu tidak diimbangi oleh negara yang hadir untuk mengelolanya. Tidak ada yang bisa membenarkan kerusuhan yang terjadi. Itu sudah jelas.
Tapi pertanyaan yang tidak pernah dijawab adalah, "kenapa crowd control selalu tidak maksimal setiap kali ada perkumpulan massa sebesar ini?" kaya... ternyata di negara maju seperti Perancis-pun, hal-hal kaya gini masih bisa tetep ada.
Di Inggris, pelaku kerusuhan langsung diidentifikasi lewat face recognition dan dilarang masuk stadion seumur hidup. Di Indonesia, kita masih terjebak pada sanksi kolektif yang tidak menyentuh individu pelakunya.
Akar masalahnya bukan di Bobotoh. Bukan di Ultras PSG. Bukan di masyarakat Jawa Barat.
Ini masalah negara yang belum mampu hadir sepenuhnya. Mereka gagal menjamin rasa aman, gagal meratakan akses pendidikan, gagal menyediakan ruang hiburan yang layak.
Saya rasa, bola di manapun, dari kelas manapun, kelakuannya tidak akan jauh berbeda ketika konteksnya sama. Mereka yang hidupnya paling sedikit punya ruang untuk bernapas, merayakan satu-satunya momen yang benar-benar terasa milik mereka.
Sepak bola adalah cermin. Dan cermin itu sekarang memperlihatkan bagaimana kita memperlakukan satu sama lain. Dengan generalisasi, framing murahan, dan akun anonim yang tidak mau bertanggung jawab atas opininya sendiri.
Jadi... kalo saya boleh nanya, yang nentuin masuk Piala Dunia tuh kelakuan fans-nya, atau ekosistem sepak bola yang sehat dan berjenjang yang harusnya disediain negara lewat PSSI-nya?
Karena soal supporter, kata mas @ilhamzada di mana-mana juga sama saja ๐๐ ๐
@hgbudiman@LTigakali Sok resep lamun, pas ngagorowok aaah tipiiiisss saja diatas mistar gawang... Pas ditingali di TVRI beuuuh nembak manuk kana tangkal di selatan siliwangi ๐คฃ. Hatur nuhun pisan reporter RRI (bung pujo) sareng crew sadayana ๐ฅน๐ฅน
โ REKOR : Persib Bandung catatkan sejarah sebagai TIM PERTAMA (sejak era divisi utama 1994) yang meraih gelar liga Indonesia 3 musim beruntun. ๐ต๐๐๐
Konsistensi yang sangat apa. ๐ฅถ
BANDUNG. HISTORICAL MOMENT. TIGA GELAR JUARA BERUNTUN. TIGA MUSIM, SATU NAMA, ABADI DALAM SEJARAH, PERSIB BANDUNG! โญ๏ธโญ๏ธโญ๏ธโญ๏ธโญ๏ธ
SEGALA PUJI KEPADA TUHAN SEMESTA ALAM! BARUDAAAAAAAKSSSSSS ๐ฅน๐ฅน๐ฅน๐ฅน๐ฅน๐ฅน๐ฅน๐ฅน๐ฅน๐๐๐๐๐๐๐๐๐
#BandungFootball#BFCOM#Persib#Bobotoh#PersibDay
This is a day full of battles!
This is one shared dream we must conquer together!
This is #PERSIBDAY ๐
Together we fight for a glorious ending!
#WeArePERSIB
๐ฎ๐น๐ 16 years ago today, Curva Nord inter unveiled this legendary tifo before the Champions League Final against Bayern Mรผnchen. ๐ตโซ๏ธ
Unforgettable.๐คฉ