🗣️Totti: "Jika Messi bermain di Roma selama 25 tahun, Kamu tahu berapa banyak Ballon d’Or yang akan dimenangkannya? 0! Lalu bagaimana mungkin aku bisa memenangkannya?"
🗣️Cassano: "Itu salahmu, kamu idiot, kamu seharusnya pergi ke Madrid dan akan memenangkan beberapa (Ballon d'Or)."
🗣️Totti: "Aku tidak peduli tentang memenangkan itu, Aku (sudah) menang di Roma. Aku bertahan selama 25 tahun, itu adalah kemenangan terbaik. Aku tidak menyesali apa pun."
📝 @IFTVofficial
Emang begini harusnya Indonesia main:
Bertahan dengan sabar, main menunggu. Terpenting adalah tak membuat lawan menyerang atau menembak di area berbahaya. Sebab pertahanan adalah kunci.
Setelahnya coba efektif via serangan balik yang cepat. Dengan itu, hasil bagus bisa didapat.
Kt siapa pmain Belanda dr dulu slalu pake 433? Klo kiblat sepakbolanya ke Johan Cruyff harusnya paham bahwa dream team Barcelona akhir 80an dan awal 90an pakai skema 343, pun demikian Ajax ktika merajai Eropa 94/95 Van Gaal pakai skema 343!
Literasi dperbanyak jgn asal ngejeblak!
"Il Momento Del Capitano, Del Nostro Capitano, Del Gladiatore Giallorosso, Del Simbolo Di Roma, Del Bimbo De O'ro, Con Il Numero Dieci...
FRANCESCO TOTTI!!!"
HAPPY BIRTHDAY KING!!!
Dream team di Serie A akhir 90-an itu adalah Lazio. Sven-Goran Eriksson memulai dengan membuat kontroversi, lantas membangun tim yang berisi.
Nama-nama besar ada di sana, tujuh gelar berlabuh ke Kota Roma.
Sebuah utas untuk mengenang mendiang Sven-Goran Eriksson🥀
Calcio telah mati. Seiring idola pada poster di kamar kalian memutuskan pensiun, menjadi gendut, dan tua tak terelakkan.
Calcio is already dead. When El Shaarawy, Scamacca, and Chiesa leading their line.
Sepenuhnya didikte Xhaka. Didominasi tanpa punya rencana. Tidak ada tanda-tanda serangan balik akan menjadi sebuah skema. Tatkala sepakan mengarah ke gawang saja baru tercipta pada menit ke-73, setelah tertinggal 0-2.
Sah mengategorikan kesuksesan juara pada Piala Eropa 2020 sebagai keajaiban. Terjadi di antara aib dua kali beruntun gagal tembus Piala Dunia. Berlangsung pada momen pandemi yang serba sulit dicerna akal sehat.
Mungkin sebetulnya itu serupa dengan pencapaian Portugal pada 2016 yang finis di peringkat ketiga grup dan juara berkat sepakan pemain obscure, Eder.
Juga Yunani pada 2004 dan Denmark pada 1992 yang dongengnya kali ini tidak perlu lagi diceritakan. Generasi kakek mereka bahkan pernah melenggang ke final berkat lemparan koin, lalu keluar sebagai juara pada 1968.
Bagi beberapa orang yang kurang punya sensibilitas romantik, 'keajaiban' itu tampak tak lebih dari sekadar 'keberuntungan'. Happy go lucky. Sebagian besar lainnya masih menganggap itu buah manis dari kerja keras. Not the cynical.
Apa boleh buat, calcio hari ini mesti menjadi menarik berkat bantuan nostalgia. Berupa kuncir kuda ikonik Baggio. Kehangatan persahabatan Totti-Del Piero. Cara bertahan elegan Maldini-Nesta. Juga doa untuk Buffon yang harusnya terus awet muda.
Apa yang ada hanya Donnarumma yang elite, tapi cemar tanpa sikap setia. Regista terbaik yang tidak pernah merumput di Serie-A. Immobile yang tumpul sepanjang musim, lalu tersisih secara alamiah. Kumpulan pemain/pelatih yang seperti hilang magis setelah dibuai uang besar MLS dan Liga Cina.
Heyday Serie-A telah lama berakhir. Selain gerbong pemain Inter, klub mana yang menyumbang lebih dari satu pemain teramat mumpuni untuk diandalkan? Tifosi tidak perlu banyak berharap kalau Barella yang justru menjadi pemain dengan gol terbanyak di skuad sekarang.
Tidak ada satupun pemain Italia yang bersaing memperebutkan Capocannoniere musim lalu. Telah lama orang Italia tidak masuk dalam percakapan perebutan Ballon D'Or. Semakin mengkhawatirkan seandainya Gnonto dianggap representasi utama masa depan Gli Azzurri.
Talisman para tim juara Serie-A belakangan juga bukan wajah lokal. Lautaro, Osimhen-Kvara, Giroud-Leao, Cristiano, dan tarik terus sampai 2006.
Bermunculan pelatih hebat, tapi tidak berjalan beriringan dengan regenerasi pemain. Mereka mekar di level klub dengan keleluasaan memiliki SDM tanpa peduli kewarganegaraan.
Sepanjang Piala Eropa ini, kita dipaksa menganggap calcio baik-baik saja. Berkat status juara bertahan. Berkat tampilan retro Calafiori yang dianggap cogan.
Berlin pada 2006 tak sama dengan Berlin 2024. Kisah Italia kembali tuntas di sana, tapi dengan perasaan berbeda.
Kini, apa yang tersisa dari calcio terpaksa melulu nostalgia. Mau tak mau, anda harus mengakuinya.
Il calcio è morto. Arrivederci.
#EURO2024
#SUIITA 🇨🇭🇮🇹
▪︎
📝: @oomrahman/@Box2BoxBola
Marselino dan Dua Bata Jelek
Indonesia tumbangkan Filipina. 2-0. Masyarakat Indonesia berpesta dan bersuka cita. Sejarah tercipta. Lolos ke babak berikutnya Piala Dunia.
Thom Haye disanjung berkat tendangan geledeknya. Rizky Ridho dipuji atas gol dan aksinya meminta penonton tetap memberi dukungan pada Ernando yang nyaris blunder (lagi). Nathan lewat dua asisnya bikin semua penggila bola jadi sangat ingin memeluknya, siap menyaingi para kaum hawa.
Semua pemain mendapat apresiasi. Kecuali satu: Marselino Ferdinan. Hampir di semua kolom komentar postingan pasca laga, selalu ada bahasan tentang tendangan bebasnya yang melayang tinggi jauh dari gawang dengan tendensi mencela dan meledek.
Si Paling Timnas bermental pembully itu sedang onani berjamaah. Tetesan keringat, gocekan, dan daya jelajah Marselino, dilupakan oleh mereka yang menilai bahwa semua pemain Indonesia harus bisa bermain dan beraksi seperti Diego Maradona.
Di setiap pertandingan sepakbola dan segala euforianya memang selalu ada cerita dua bata jelek. Lihat gambar di bawah, ketika ada sebuah bangunan yang terdiri dari 1000 bata namun terdapat dua bata jelek dalam fondasinya, akan selalu ada yang mencela bangunan tersebut. Padahal dua bata jelek itu tidak mengubah kekokohan dan kekuatan bangunan tersebut.
Dalam cerita Marselino di pertandingan melawan Filipina, terdapat aksi brilian Marceng yang dikepung 3-4 pemain lawan lalu melepaskan tendangan on target di babak pertama. Statistik juga menunjukkan bahwa Marselino jadi pemain dengan catatan tackles won, interception, dan recoveries yang lebih tinggi dibandingkan pemain lain. Dia juga jadi pemain dengan statistik operan kombinasi terbanyak pada Thom Haye yang jadi bintang di laga ini.
Si Paling Timnas yang satu itu pada akhirnya hanya memperlihatkan kebodohannya saja. Mereka mencela, menertawakan Marselino. Marselino juga tertawa, membanggakan dirinya yang terus bisa menjadi bagian dari sejarah-sejarah baru sepakbola Indonesia.
Terus melaju, Starboy! ⭐️
Utas ini tak akan dihapus, argumen tak akan dikoreksi jika pun nanti Madrid kalah di final.
Sebab satu kekalahan tidak akan menegasikan segala hal yang telah Ancelotti lakukan (dalam konteks taktik ini).
Allenatore della miskin taktik
Allenatore della cuma hoki
Allenatore della modal friendship
Haters punya agenda, namun CVnya yang berbicara
The Don 🚬
https://t.co/UffFfHr1hp