sorry, anak cowo aku nanti ga akan ku kasih izin ngasih uang bulanan ke pacarnya. bayarin makan pas jalan, anter jemput pas jalan bareng, ngasih bunga atau hadiah di hari spesial, itu semua gapapa, asalkan jangan ngasih uang bulanan.
begitu juga dengan anak cewe aku, jangan sampai dia minta uang ke cowo yg bukan suaminya. tapi kalau bisa ga usah ku izinin pacaran nanti.
@yappingfess Cowo biasanya lebih mikirin duit dan kerja ka 😭🙏🏼 mereka ga ada duit sm kerjaan yg ada diinjek², groominganpun seaadanya aja yg penting yg dia nafkahin terpenuhi
Pernikahan itu tentang realitas hidup, bukan sekadar estetika konten.
Sebagai sesama wanita, gue mau berbagi sudut pandang jujur buat para pria: hindari membangun rumah tangga dengan wanita yang menjadikan media sosial sebagai kompas moral dan standar kebahagiaannya.
Kenapa? Karena media sosial sering cuma menampilkan puncak gunung es: liburan mewah, kejutan mobil baru, sampai gaya hidup konsumtif. Wanita yang terus-terusan melihat hal seperti itu bisa menganggapnya sebagai “standar minimum” kebahagiaan.
Akibatnya, mereka jadi sulit menghargai perjuangan finansial pasangannya di dunia nyata. Muncul sindrom “selalu kurang”.
Algoritma media sosial memang bikin orang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ketika pernikahan mulai diukur dari apa yang dimiliki orang lain di Instagram atau TikTok, rasa syukur bisa hilang.
Rumah yang nyaman atau nafkah yang cukup akhirnya tetap terasa kurang.
Padahal hubungan yang sehat juga butuh privasi. Tapi media sosial seolah menuntut semuanya dipamerkan, mulai dari kemesraan sampai konflik.
Sosmed juga menciptakan ilusi bahwa pasangan yang “sempurna” itu harus kaya, romantis setiap saat, paham estetika, dan selalu peka tanpa perlu diajak bicara.
Doktrin seperti ini bisa mengikis empati. Mereka lupa kalau suami juga manusia biasa yang bisa capek, stres, dan punya keterbatasan.
Pernikahan nyata pasti punya ujian: sakit, PHK, rasa jenuh, dan berbagai masalah hidup lainnya. Wanita yang terlalu hidup dalam gelembung media sosial bisa jadi nggak siap menghadapi realita tersebut.
Ketika kehidupan nyata ternyata nggak seindah feeds influencer, mereka bisa lebih mudah menyerah atau mencari pelarian.
Carilah wanita yang tetap membumi dan hidup di dunia nyata. Wanita yang menilai laki-laki dari karakter, tanggung jawab, dan bagaimana dia diperlakukan, bukan dari seberapa pantas pasangannya dipamerkan di story media sosial.
Karena rumah tangga itu tentang kerja sama, bukan pameran.
@convomfs Km blm tau sifat asli ibunya yg bertahun² dirmh gmn yg 24 jam ketemu trs.. jgn asal nilai yg nggk² dlu, mending km analisis sifat ibunya dari sudut pandang cowo km yg sebagai anaknya
Gua sebagai cowo suka males bgt temenan sama orang yg nerapin toxic masculinity dalam aturan hidup mereka. Katanya cowo ga boleh lemah, harus kuat. Terus ga boleh nangis. Kalo lemah dikit dibilang kek cewe. Lama-lama gua jengkel sama orang yg berpikir kek gitu