@kucinghilang_ Saya sendiri bingung dengan orang Kalimantan. Sering "merasa" didzolimi sama penguasa, tapi giliran milih pimpinan kek gitu. Sedih sebenarnya tapi ya mau gimana lagi, itu pilihan mereka.
@Rafizakikun Saya juga pernah denger cerita ini dari temen saya yg dosen sejarah. Tapi selama ini sepertinya tidak pernah muncul atau diceritakan di buku sejarah. Mungkin karena kurang pantas juga kalau dituliskan di buku pelajaran sejarah di sekolah. Tidak tau kalau di kuliah prodi sejarah.
@dimarsasongko98 Dulu sering denger suaranya ketika masih jadi penyiar radio di salah satu stasiun radio di kota Bandung. Baru tau kalau ternyata lulusan kedokteran gigi.
GUys ini sakit sih......
Lu pada ingat gak kemarin ada dua Dirjen Kemenkeu yang dicopot tanpa penjelasan resmi,
tanpa konferensi pers,
tanpa pernyataan apapun dari kementerian?
Semua pejabat Kemenkeu kompak bungkam.
Tidak ada yang mau menjelaskan kenapa.
Nah sekarang setelah konpers Purbaya mulai kelihatan gambarannya.
Dan ini jauh lebih dalam dari sekadar rotasi biasa.
Ternyata ada sabotase dari dalam.
Purbaya di konpers ini mengakui secara eksplisit ada informasi yang sengaja bocor dari internal Kemenkeu untuk merusak kepercayaan pasar.
Bocoran pertama:
kas pemerintah hanya cukup 3 minggu.
Bocoran kedua:
uang negara tinggal 120 triliun dan hampir habis.
Bocoran ketiga :
dan ini yang paling gila: ada yang dari internal bilang ke investor asing:
Jangan bawa Menteri Keuangan ini ke temu investor. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan akan mengacaukan.
Itu dari internal, kata Purbaya secara langsung.
Bukan dari oposisi.
Bukan dari pengamat.
Dari dalam Kemenkeu sendiri.
Dampaknya nyata ke pasar.
Tiga informasi itu meskipun tidak akurat sudah terlanjur membentuk ekspektasi negatif di pasar.
Rupiah tertekan sebagian karena sentimen yang dibentuk oleh bocoran-bocoran itu.
Dan Purbaya harus terbang ke luar negeri,
ketemu investor satu per satu
menjelaskan bahwa kondisi fiskal kita tidak separah yang disebarkan.
Bule-bule itu bilang clear.
Investor-investor besar juga tidak menanyakan itu lagi.
Tapi kerusakan sentimen sudah terlanjur terjadi di dalam negeri.
Soal pencopotan dua Dirjen jawaban Purbaya sangat mengejutkan:
Ketika wartawan bertanya langsung apakah pencopotan itu ada hubungannya dengan bocoran-bocoran itu Purbaya menjawab:
Iya dan tidak. Ada sedikit.
Tapi ada yang lain-lain juga.
Ini adalah pengakuan implisit yang sangat jelas.
Ada sedikit hubungannya tapi bukan satu-satunya alasan.
Artinya ada akumulasi masalah yang akhirnya sampai di titik Purbaya memutuskan harus ada pergantian di level Dirjen.
Dan ada tiga masalah lain yang terungkap bersamaan:
Pertama
40 perusahaan asing tidak bayar pajak semestinya.
Mayoritas perusahaan China.
Under invoicing ekspor melaporkan nilai ekspor lebih kecil dari yang sebenarnya untuk memperkecil pajak dan bea keluar.
Dua sudah dikejar dan berjanji membayar.
Tapi 38 yang lain masih berjalan normal.
Tebakan mereka benar kita tidak akan berubah.
Dan yang lebih mengkhawatirkan Purbaya mengindikasikan ada kemungkinan oknum di Dirjen Pajak yang melindungi perusahaan-perusahaan itu:
Kalau dikasih ke orang pajak yang di situ aja sepertinya dilindungin juga kelihatannya.
Makanya rencananya membentuk tim khusus langsung di bawah Irjen atau Sekjen bukan Dirjen Pajak.
Kedua
dokumen pajak jalan tol dan pajak orang kaya yang Purbaya sendiri tidak tahu ada.
Wartawan tanya soal dokumen rencana pajak baru yang beredar pajak jalan tol, pajak orang kaya.
Jawaban Purbaya:
Pajak orang kaya saya baru dengar kemarin.
Pajak jalan tol sama, baru tahu kemarin."
Wartawan bilang dokumen itu ada tanda tangan elektronik Purbaya.
Oh, tanda tangan elektronik ada loh.
Kadang mereka bilang 'sudah aman Pak' saya tanda tangan."
Seorang Menteri Keuangan tidak tahu ada kebijakan yang beredar atas namanya karena terlalu percaya ke staf yang bilang "sudah aman."
Ketiga
sistem IT SPT pajak yang masih bermasalah.
Wajib pajak yang sudah mengisi SPT badan datanya bisa hilang begitu saja setelah server dimatikan 15 menit untuk maintenance.
Semua isian dari awal lagi.
Purbaya bilang sudah ada yang sengaja menghidupkan lagi akses yang sudah dimatikan:
Ada orang dalam yang ngidupin lagi gitu.
Gambar besarnya dan ini yang paling mengkhawatirkan:
Kemenkeu adalah kementerian yang secara eksternal paling dipercaya investor global saat ini. S&P bilang stable. IMF bilang bright spot.
Tapi di dalam:
Ada Dirjen yang diduga aktif sabotase kepercayaan pasar terhadap Menkeu-nya sendiri.
Ada 40 perusahaan asing yang tidak bayar pajak semestinya dengan indikasi ada yang melindungi dari dalam Dirjen Pajak.
Ada kebijakan yang ditandatangani Menteri tanpa Menteri benar-benar tahu isinya.
Ada sistem IT yang masih bisa disabotase dari dalam.
Dan Menkeu yang paling dipercaya investor global ini masih harus berperang melawan sistemnya sendiri dari dalam.
Kalau Kemenkeu saja masih seperti ini bayangkan kondisi di kementerian lain yang tidak mendapat sorotan sebesar ini.
sungguh sakit ini negeri kita
Semalam, khatib tarawih ceramah yg bikin gue overthinking..
Gimana kalau selama ini kita tuh cuma lagi pakai headset VR canggih? Dan realita yang kita lihat sekarang hanya sekadar "Simulasi"? ๐คฏ
Dan saat kita mati, VR-nya dilepas, lalu kita terbangun dan menyadari... "Oh, ini toh kehidupan yang SESUNGGUHNYA"
"Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui" QS Al Ankabut 64
QS Al Ankabut itu nyebut jelas banget bahwa kehidupan dunia itu cuma GAME, kayak kita itu ada di dalam game RPG (Role-Playing Game) atau Virtual Reality.
Kita seolah-olah adalah player yang lagi login ke dalam game bernama "Dunia". Kita diturunkan ke server ini dengan satu Main Quest yang jelas: Beribadah, jadi manusia yang bermanfaat, dan ngumpulin bekal buat Endgame.
Tapi, instead nyelesain Main Quest, kebanyakan dari kita malah habis-habisan ngerjain Side Questnya. Side Quest-nya emang didesain super menggiurkan. Numpuk harta sampai triliunan, ngejar validasi sosial, gila jabatan, pamer kemewahan.
Kita habis-habisan grinding sampai lupa sama Main Quest-nya. Padahal waktu main (umur) kita di game ini ada limit-nya.
Terus suka kesel kan ngelihat orang jahat, licik, penindas, tapi hidupnya kelihatan "menang" dan enak banget di dunia?
Nah, sadar nggak sih, bisa jadi mereka itu cuma NPC (Non-Player Character) atau obstacle yang emang di-setting buat jadi ujian rintangan buat kita para Player?
Kemenangan orang-orang jahat itu semu. Mereka cuma "kelihatannya" aja menang, tapi ya itu simulasi aja.
Saat timer kita habis (mati), headset VR ini bakal dicopot paksa. Di momen kita "terbangun" di dimensi yang sesungguhnya, semua harta, mobil mewah, dan score duniawi tadi nilainya hangus jadi NOL BESAR.
Sekaya apapun di game, yang dihitung ya pencapaian kita di Main Quest kan? Sia-sia banget kalau waktu yang dikasih malah habis buat ngejar hal-hal fana yang nggak bisa dibawa log out.
Jadi tamparan keras sih buat diri sendiri pas lagi tarawih semalam. Kadang kita terlalu serius mikirin Side Quest sampai lupa kalau ini cuma mampir bentar.
Fokus ke Main Quest, Players. Jangan sampai pas VR-nya dilepas, kita cuma bisa nyesel karena salah prioritas.
Semoga di sisa waktu Ramadhan yang masih singkat ini bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
@kangmirdja@toe_giman@tni_ad@Puspen_TNI Pernah ketemu orang pakai seragam loreng arogan di jalan. Emang tipikal baju loreng seperti itu. Nggak bisa bedain mana yg bener dan mana yg salah.
@toe_giman Salah satu tipikal orang Indo, yg disuruh ngalah malah yang bener bukan yg salah. Harusnya yg salah yg ditegur. Saya sering menemui orang seperti ini di jalan. Orang Indo terlalu permisi, makanya banyak orang yg seenaknya dan melanggar aturan.
๐ Top 10 contributors to global real GDP growth (2026)
1๏ผ๐จ๐ณ China โ 26.6%
2๏ผ๐ฎ๐ณ India โ 17.0%
3๏ผ๐บ๐ธ United States โ 9.9%
4๏ผ๐ฎ๐ฉ Indonesia โ 3.8%
5๏ผ๐น๐ท Tรผrkiye โ 2.2%
6๏ผ๐ณ๐ฌ Nigeria โ 1.5%
7๏ผ๐ง๐ท Brazil โ 1.5%
8๏ผ๐ป๐ณ Vietnam โ 1.6%
9๏ผ๐ธ๐ฆ Saudi Arabia โ 1.7%
10๏ผ๐ฉ๐ช Germany โ 0.9%
๐ China + India alone = 43.6% of global growth
๐ Asia-Pacific accounts for ~50% of total growth
Source: IMF
@Zeefire02 Harusnya ditegur saja tetangga yg parkir di depan pintu garasi. Saya pernah mengalami hal yg sama. Kalau didiamkan malah kita sendiri yg susah.
26 tahun lalu, ane cuma anak kuliahan yang pengen bikin tempat nongkrong online buat anak muda Indonesia ๐ข
Tempat buat ngobrol, becanda, curhat, debat, jual beli, sampai sekadar nyari temen di dunia maya yang waktu itu masih sepi banget...
Gak nyangka, dari sesuatu yang sederhana, KASKUS tumbuh jadi rumah jutaan cerita ๐
Di sini agan dan sist ketemu sahabat, ketemu jodoh โค๏ธ, ada yang belajar bisnis, ada yang dapet arah hidupnya cuma dari satu thread.
Dari warnet penuh asap rokok, sampai sekarang semua udah bisa lewat HP
Kadang kita masih suka buka post lamaโฆ
Liat username yang dulu tiap hari nongol, bercanda di Lounge, FJB, Regional, The Loungeโฆ
Sekarang mungkin udah pada sibuk kerja, punya anak, atau bahkan ada yang udah gak ada lagi ๐ข
Tapi kenangannya tetep hidup.
KASKUS bukan cuma forum.
Dia saksi masa muda kita.
Tempat pertama kali kita belajar internet, belajar komunitas, belajar beda pendapat tanpa harus musuhan (ya meskipun kadang flame war dikit ๐๐ฅ).
Buat semua agan dan sista yang pernah ngetik, ngepost, nyampah, nyundul, atau cuma jadi silent readerโฆ
Ane ucapin terima kasih sebesar-besarnya ๐
Selamat ulang tahun ke-26, KASKUS! ๐
Dari tahun 1999 sampai sekarang โ masih dan akan selalu jadi rumah online orang Indonesia ๐ฎ๐ฉ
Di antara deretan nama penggugat presidential threshold melalui Mahkamah Konstitusi sejak awal hingga kini, terdapat empat mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam gugatan terakhir yang berhasil dimenangkan.
Enika Maya Oktavia, Rizki Maulana Syafei, Tsalis Khoirul Fatna, dan Faisal Nasirul Haq. Mereka adalah anak muda yang memperkuat demokrasi Indonesia, bukan anak muda yang melucutinya.
Selama kita memiliki pemuda-pemudi seperti mereka, harapan untuk masa depan demokrasi Indonesia akan selalu menyala.
Foto: Antara