Tulisan ini terpampang di Balai Pertemuan yang menjadi tempat setiap acara resmi pondok:
“All problems can be solved by education.”
Bukan
“All problems can be solved by food.”
Manusia yang paling berhak menasihati pemerintah adalah para ulama, ash-habur ra’yi (para cendekiawan) yang dikenal baik akhlaknya, dan ahlu halli wal ‘aqdi (para ulama yang ‘alim di majelis Syura). - Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
SATU KATA UNTUK BELIAU: K.H. Hasan Abdullah Sahal
Prabowo ditegur secara halus sama ulama Gontor agar jangan anti-kritik.
Ulama kalo negur itu pakai kiasan dan banyak refleksi ke diri sendiri, "Teruntuk Pak Presiden, kalau makan saya, pakaian saya, kendaraan saya melebihi para santri, maka boleeh para santri protes, boleeh kritik, boleeh demo."
Semoga ybs sadar dan bisa mencerna gaya teguran ulama.😭
Momen retorika tingkat tinggi.
Kiai Hasan menggunakan kepiawaian berbahasa untuk menyisipkan kritik sosial yang tajam namun dibalut humor segar.
Kalau kritikan seperti ini tetap diabaikan para pejabat..
Fix...
Mereka tak tahu malu dan tak tahu diri.
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor tetap memilih pendidikan didepan Prabowo!
"Maaf ya Pak Presiden, saya ngomong tidak enak. Sorry ye!"
"Jangan sekali-kali melupakan sejarah, bergurulah pada sejarah!"
"Gontor tidak puas! Gontor memilih, Cerdaslah menyikapi sejarah!!!!"
Thank you for the hospitality @HIDEO_KOJIMA_EN@KojiPro2015_EN! It was an absolute honor for our team to show you @AgniVillage and tour your Shinagawa office ahead of @tokyo_game_show.
Best of luck with all your future projects! 🫡🫡🫡
From Sapiens to Ludens. 🤗
windah cerita bansos itu bukan bantuan dari pemerintah:
- bansos itu pajak dari rakyat
- tidak pernah ada harusnya itu bantuan
- dia kecewa selama ini narasi nya bansos itu bentuk perhatian pemerintah
- padahal selama ini bansos itu di ambil dari pajak rakyat sendiri
Dari seabrek pemikir negeri ini mesti diakui dialah salah satu yang terbaik: Media Askar Wahyudi.
Dia layak disebut sebagai role model paling tepat untuk saat ini dalam cara berpikir dan berbuat.
Saat bicara, ia selalu memegang data. Saat beropini, ia menumpahkan pikiran yang mampu membuka mata. Saat bekerja, dia pun mau berkeringat.
Ia doktor yang jadi dosen tak hanya mendidik mahasiswa di kampusnya. Ia mendidik bangsanya.
Sejak kematian Munir, keberanian dan kepedulian itu hidup dalam dirinya.