Gue mau nulis agak panjang tentang fenomena "Arsenal vs everybody" di era sosmed ini, dan coba se fair, dan sejujur mungkin.
Kalo ada yang mau komen dengan opini jujur silakan, mau repost kalo sepemahaman ama gue juga terimakasih
Gue ijin quote postingan ini ya kak @arsenatasyas , karna gue nganggep di mutual gue, beliau ini salah satu Gooners yg rasionil, dan argumen nya kuat.
Jadi alasan utama kenapa buanyak banget fans base dari banyak klub, bahkan di luar PL jadi pada seneng ngledek, atau istilah yg lg hits - ngebanter, menurut gue (udah banyak yg bilang juga), adalah karena :
Banyaknya akun" yang boleh dibilang besar, sangat besar, dalam dan luar negeri, seringan bikin konten, teks atau video, yang emang sifatnya rage, click bait. Demi farming engagement. Dan, harus diakui, berhasil.
Yang mengherankan, ada juga yang secara kasat mata ga cari engagement demi monet, tapi sering kali opininya, -- sorry, ga berdasar. Tapi ya sudahlah 😃
Situasi ini, lagi lagi di era sosmed ini jadi bola salju yang akhirnya berujung pada munculnya posting / konten yang merupakan reaksi atas komen" ngawur tadi, yang terlihat, atau emang keliatan men-generalisir semua fans Arsenal kek orang" dibalik akun" tadi.
Dan karna akun" yang direspon publik tadi masih juga ga berubah, ya sudah, membuncah lah itu publik yg aktif di sosmed, lebih nylekit dalam ngebanter
Padahal banyak juga Gooners yang rasional, pun risih ama kontennya akun akun tadi. Gue banyak punya kawan Gooners, yang sering duduk bareng ngopi ngebir, dan punya opini masuk akal. Banter? Biasa.
Nah yang jadi "korban" menurut gue justru yang rasionil ini. Karena makin nylekitnya opini fans dari klub lain, akhirnya kecebur dan ikut bereaksi.
Rame lah temlen.
Perihal istilah HARAMBALL , gue kmrn sempet lempar topik diskusi, bahwa haramball adalah hak smua klub bola, dan oleh sebab itu maka penghakiman atas itu harus dikurangi di lini masa, karena ... halaaah, malah memplesetkan pembukaan UUD
Ya begitulah intinya, haramball adalah approach pragmatis, untuk tujuan utama glory. Latar belakangnya? Banyak.
Yunani di Euro 2004, udah sampe final lawan Portugal, tuan rumah dengan squad bertabur bintang saat itu.
Internazionale di final UCL 2010 vs Barcelona juga melakukan hal yang sama.
Bahkan, dari aspek defensive yang rigid, LFC di semifinal leg 2 2005 lawan Chelsea udah mendekati kategori ini, possession 40% vs 60%
Pada kasus Arteta, gue coba minta jeminai bikin infografis hasil olah data dari sejumlah sumber.
Dari situ gue menyimpulkan, kenapa memilih approach ini, utamanya ya demi glory, prestasi. Arteta perlu membuktikan diri bahwa dia mampu, setelah memasuki musim ke 7 nya menukangi Arsenal.
Dan yang mungkin (dugaan gue) , adanya tuntutan dari manajemen untuk segera mewujudkan prestasi, setelah memberikan support penuh untuk berproses, berprogres, dalam bentuk nyata invenstasi cukup besar. Nett spend Arsenal sejak ditukangi Arteta sekitar £760 juta.
Tapi emang ga smua akan suka, bahkan bbrp kawan gw yang fans Arsenal, yg menikmati era Wengerball juga bilang ga menikmati. Karena dahulu terbiasa liat maen cepet 1-2 touch pass ala Henry, Bergkamp, Pires, Ljunberg.
Gue bahkan dulu berharap LFC era itu, bisa maen kek Arsenal.
Kira kira gitu lah. Panjang lebar tulisan sepi makna ini
Tabik
Berapa orang yess yang steak pertamanya dimulai dari makan di Waroenk Steak?
Makan pertama dulu harganya masih sekitar 11 ribuan sampe sekarang udah mau 30 ribu.
Keren banget intel warga.
Ternyata kejadian tabrakan antara KRL arah Jakarta dan taksi tuh estimasinya sekitar jam 20.46 - 20.47.
Sedangkan kejadian tabrakan antara KJJ dan KRL sekitar 20.52.
Posisi KRL arah Cikarang masih distasiun, gabisa gerak karena insiden taksi didepannya.
Posisi KJJ pukul 20.45.50 - 20.46.10 ngelewatin stasiun Cakung, KJJ ngelewatin stasiun Kranji pukul 20.49.10 - 20.49.30.
Jadi disaat waktu kejadian tabrakan taksi terjadi, posisi KJJ ada diantara stasiun Cakung dan Kranji. Setelah gue hitung, disaat bersamaan terjadi tabrakan taksi, KJJ posisinya udah 0.75KM (20.46) atau 1.5KM (20.47) diluar stasiun Cakung.
Total jarak antara KJJ ke stasiun Bekasi Timur ada 5.5KM. Tiap 1 KM ada blok sinyal.
Total 5 blok sinyal. Tapi yang efektif cuma 3 blok sinyal terutama di stasiun Kranji karena kereta butuh jarak 1 KM kurang lebih buat ngerem aman.
Jarak antara tiap blok sinyal cuma satu menit. Overall KAI cuma dikasih 3 menit yang efisien sejak detik pertama tabrakan taksi buat ngabarin KJJ.
When it’s A RACE AGAINST TIME. Human often lot.
Baca ini bikin gue ngeri banget sama yang namanya WAKTU, in a matter of minutes, dari menit ke 47 ke menit 52, 14 nyawa bertaruh 😭 YAALLAH
🗣 : Om boleh minta no tlp, biar nanti gampang kalau mau order lagi...
👤 : Telpon aja temen Saya, karna dia yang kasih order 🙏
"Terlihat sederhana tapi ini ADAB"
Masih di sitkom Bajaj Bajuri. Kali ini kita geser dari ruang tamu Emak ke tempat Ucup dan Said nongkrong. Di permukaan, mereka berdua mungkin terlihat seperti komedian komplek biasa, tapi kalau kita lirik dari aspek visual dan pola dialognya, mereka sebenarnya sedang ceramah tentang krisis identitas dan hegemoni kultural yg mencekik masyarakat kelas bawah.
Mari kita lihat dari salah satu detail visual: kebiasaan Ucup yg selalu pakai jersey KW.
Pemilihan kostum ini menurutku bukan sebatas kebetulan komedik, melainkan kritik di ranah semiotik. Jersey olahraga pada dasarnya diciptakan sebagai simbol produktivitas fisik, keringat, kedisiplinan, dan kompetisi yg sehat. Tapi di sini, kostum itu justru melekat pada tubuh karakter yg gak "produktif", seorang pengangguran yg menghabiskan waktu luntang-lantung di pos ronda. Menurutku ini adalah bentuk eskapisme.
Ketika struktur kapitalisme membuat Ucup gak punya identitas kelas yg bisa dibanggakan—tanpa pekerjaan, uang, dan status sosial—ia meminjam "eksistensi ternama" dari klub-klub bola raksasa. Jersey KW itu menjadi simulakra, sebuah pelarian di mana ia merasa terhubung dengan entitas yg megah, demi menutupi realitasnya sebagai kaum marginal yg nasibnya mentok di gang sempit.
Tragedi krisis identitas ini berlanjut pada sosok Said. Kalau Ucup meminjam identitas dari klub bola, Said meminjam identitas dari figur otoritas kulturalnya.
Perhatikan betapa Said hampir gak pernah memiliki opini orisinal. Seringkali waktu berdebat, menasihati, atau bahkan menipu, kalimat andalannya "Kata Wan Abud..." atau berlindung di balik nama atau pamannya yang lain. Menurutku ini adalah bukti dari kurangnya agensi diri.
Said adl pemuda yg gak punya kapital ekonomi maupun kapital intelektual utk bertahan hidup. Karena gak pny kapasitas utk membangun otoritasnya sendiri, Said secara gak sadar terus-menerus mereduksi eksistensinya menjadi sekadar corong bagi otoritas di atasnya. Ia tidak eksis sebagai individu yg merdeka, melainkan hanya sebagai kepanjangan tangan dari dogma pamannya, mencari validasi dari figur bernama untuk diakui di masyarakat.
Keterasingan dan kelumpuhan intelektual ini mencapai puncak ironinya lewat satu adegan komedi ikonik. Adalah momen di mana paman Said, sedang berbicara menggunakan bahasa Arab—entah itu sekadar mengobrol biasa, hingga bahkan marah-marah. Tapi respons warga kampung lainnya (termasuk pak RT) secara refleks tangkupkan tangan dan menyahut khusyuk, "Amiiin... Amiiin." Adegan ini jelas bukan cuma slapstick receh, tapi juga dekonstruksi tentang hegemoni linguistik dan komodifikasi kesakralan.
Di masyarakat akar rumput, bahasa Arab telah mengalami objektifikasi sebagai sesuatu yg sakral. Warga mengalami alienasi terhadap substansi teologis; mereka gak sepenuhnya paham makna bahasanya, tapi secara buta tunduk pada bunyi dan simbol.
Momen tersebut menyentil fenomena kepatuhan di masyarakat, di mana ketika agama hanya dihayati lewat cangkang luarnya saja, orang bisa dengan mudah dibodohi atau disuruh mengaminkan sumpah serapah murni karena kata-kata itu dibungkus dengan bahasa yang dianggap suci.
Semua elemen yang mengalir dari jersey ilusi Ucup, ketiadaan agensi Said, hingga kepatuhan buta warga pada hegemoni bahasa ini merangkum betapa rentannya kelas bawah perkotaan era itu. Mereka gak punya kuasa atas uang, pikiran, dan bahkan pemahaman spiritual mereka sendiri. Semuanya serba meminjam, dan semuanya serba ilusi.
Mikel Arteta set the team up well, you could see the structure, the intent, the way Arsenal tried to control certain phases. They had moments where the plan was working, press triggers were right, the spacing was good, and they forced City into uncomfortable areas at times. That didn’t happen by accident, that’s coaching.
But at that level, execution is king. You can coach a winning game and still lose if the players don’t deliver in key moments. Against City, you don’t get five chances you might get two. And if you don’t take them, Man City players will punish you on the other end without mercy.
That’s the brutal truth of elite football: the difference between a “good performance” and a “winning performance” is razor thin. Arteta got a lot right, but in those decisive moments final ball, composure, decision-making Arsenal fell short. And against a machine like City, falling short even slightly means you lose.
Havertz chance for the game to go 2-1, Havertz chance for the game to go 2-2, Martinelli ignoring the work he was brought in for that made City go 2-1, All little margins.
Dapet tips bagus dari seorang kawan:
Cara membuat anak-anak di bawah umur 5 tahun sibuk tanpa hape/gadget adalah dengan memastikan orang tuanya juga sibuk tanpa hape/gadget di depan mereka..
Kasus ini sebenarnya bukan Pegawai BNI menipu dan mencuri uang gereja, Tapi pegawai BNI menipu dan menggelapkan uang BNI.
Pegawai tsb mestinya menyetorkan uang yg diterima dari nasabah ke BNI dan mencatat dalam pembukuan nasabah di BNI. Tapi tidak melakukannya, padahal itu tugasnya yg diberikan BNI. Namanya penggelapan.
Oleh karenanya, uang umat yg dititipkan di Gereja tsb mestinya harus ada. Dan perkara ini mestinya eks pegawai BNI yang melarikan diri dan sudah ditangkap itu dgn BNI, bukan gereja dgn pegawai tsb.
Logikanya bagaimana sih ini Kacab BNI. Pecat saja sudah, bahlul begini jadi Kacab.