#Sulfur Price Refuse to Go Down
Perang US-Iran sudah menyentuh bulan ke-6. Harga minyak sudah "lari" dari $60/bbl sampai $120/bbl, kemudian crash ke bawah $70, dan sekarang stabil di atas $80. Tetapi, harga sulfur (byproduct dari oil refining) masih tetap tinggi. Pada 3 bulan awal perang dimulai (Feb-April), harga rata-rata impor sulfur Indonesia masih berkisar ~$550/ton. 2 bulan kemudian (Mei-Juni), harga menjadi parabolik. Rerata impor sulfur tiba-tiba menjadi $797 dan $1107. Kenaikan 100% dalam waktu hanya 2 bulan saja. Gila!
Satu catatan yang penting adalah negara Timur Tengah memegang sekitar 50% dari expor sulfur dunia. Perang US-Iran, seperti yang kita tahu, membuat Selat Hormuz di tutup, yang mana adalah salah satu oil and oil products trade route terpenting di dunia serta negara di sekelilingnya adalah tempat minyak dimurnikan pada kilang-kilang minyak. Jangan lupakan kalau bensin pada mobil di jalanan, pesawat di udara, kapal di laut, alat berat di tambang dan hutan, serta plastik yang kita gunakan tidak bisa "meminum" minyak mentah. Jika kapasitas kilang berkurang, tentu saja harga produk turunan minyak akan melonjak, dan sulfur adalah salah satunya.
Chart #2 menunjukkan nilai dan volume impor sulfur Indonesia. Secara dollar value, nilai impor sulfur mencapai titik tertingginya selama 5 tahun terakhir, bahkan mungkin tertinggi sepanjang masa. Di lain sisi, volume impor malah lebih rendah dari rerata impor bulanan 2025. Tentu saja ini adalah efek dari kenaikan harga sulfur.
Secara negara sumber, Saudi and Canada are enjoying their best moments probably ever. Ekspor sulfur negara Timur Tengah selain Saudi seperti UAE, Kuwait, dan Qatar are now effectively 0 (Chart #3).
We should not forget that our country is the country with the largest nickel ore reserves, not to mention our nickel processing capabilities, which is expanding every-damn-year. Dan pabrik yang sedang dibangun atau yang akan segera beroperasi secara mayoritas adalah pabrik HPAL. Pabrik HPAL ini adalah pabrik yang memproses bijih limonit (dahulu dianggap worthless) menjadi MHP (battery material precursor).
Pabrik HPAL membutuhkan asam sulfat dalam proses produksinya. Bagaimana cara asam sulfat dihasilkan? Tentu saja dengan memproses sulfur menjadi asam sulfat, atau mengimpor sulfur/asam sulfat itu sendiri.
Chart #4 adalah pelabuhan utama tujuan impor sulfur Indonesia. Dari 4 pelabuhan utama, 3 adalah tempat produksi dan pemrosesan nikel. Nilai impor sulfur mulai melonjak sekitar tahun 2024. Tentu saja ini bukan kebetulan, karena mayoritas pabrik HPAL baru jadi dan beroperasi sekitar 2 tahun terakhir. Ke depannya, masih terdapat beberapa pabrik HPAL yang akan selesai konstruksi atau ramping up produksi, seperti milik $INCO, $MBMA, dan $HRUM.
Apa efeknya untuk pemilik pabrik HPAL? Menurut estimates dari Morgan Stanley, 1tNi MHP membutuhkan sekitar 25-30 ton dari asam sulfat, atau sekitar 2.5-3 ton dari sulfur. Tahun lalu, harga sulfur masih berkisar antara $250-300/t. Kita bisa menghitung berapa biaya sulfur dalam cash cost produksi MHP, yaitu sekitar $625-900/tNi MHP.
Penggunaan asam sulfat juga ditentukan oleh ore grade. Limonite ore pada umumnya mengandung 1.0-1.4% Ni, bahkan ada yang <1.0%. Jika ore grade semakin rendah, maka asam sulfat yang dibutuhkan untuk mendapatkan 1kg Ni semakin banyak.
Asam sulfat ini dicampurkan dengan bijih nikel dan akan menjadi slurry (semacam lumpur). Slurry yang bersifat sangat asam (pH sekitar 0.5-1.5) ini harus dinetralisir, umumnya dengan limestone (CaCO3). Inilah mengapa ore grade juga sangat berpengaruh terhadap biaya, karena jika slurry semakin asam, maka kebutuhan limestone untuk menetralisir akan semakin tinggi juga.
Sekarang, harga sulfur sudah di level $1,100/t. Dengan begitu, cost sulfur sendiri adalah sebesar $3,300/tMHP. Tetapi, angka $1,100/t ini kemungkinan baru terealisasi mid-late Q3 atau Q4 karena perusahaan kemungkinan besar memiliki inventory/stockpile sulfur yang masih menggunakan harga Q1-Q2 (~$500/t).
Satu emiten yang mengeluarkan data ASP dan cash cost yang lengkap adalah $HRUM. Cash cost MHP HRUM untuk Q1 dan Q2 kemarin adalah $9,038 dan $10,801/tMHP. ASP untuk masing-masing kuartal adalah $14,911 dan $16,453. Dengan begitu, cash margin masih tergolong sangat sehat dengan angka $5,873 dan $5,652 per ton.
Untuk yang bertanya-tanya mengapa ASP pada Q2 cukup tinggi, hal ini disebabkan oleh harga LME Nickel yang rally dan hampir menyentuh $20,000/t. Ingat kalau MHP itu trades at a discount terhadap LME Nickel. Jika harga LME Nickel turun, tentu saja harga MHP juga ikut turun. Berdasarkan data terbaru dari https://t.co/GVj0dxB2ZC, LME Nickel sekarang bertengger pada $16,755/t, sementara MHP berada di $14,990. Terdapat diskon sekitar 10%.
Lanjut ke masalah sulfur. Cash cost Q2 kemungkinan besar masih menggunakan harga rata-rata pembelian inventory sulfur sebesar ~$500/t. Dengan begitu, kita bisa menghitung seberapa besar biaya sulfur dari total cash cost, yaitu $500 * 3 ton = $1,500/tMHP. Sekarang, rata-rata harga sulfur 3 bulan terakhir sudah berada di angka $800/t. Ini berarti biaya sulfur pada Q3 ini diestimasikan sekitar $800 * 3 ton = $2,400/t. Kenaikan sebesar $2400- $1500=$900/tMHP, atau 60% dari angka kuartal sebelumnya.
Dengan begini, kita bisa mengestimasikan berapa nilai cash cost dan cash margin MHP untuk Q3 ini, dengan asumsi rata-rata harga sulfur sebesar $800/t dan ASP MHP sebesar $15,000/t, dan komponen lain tidak mengalami perubahan:
ASP = $15,000
Cash cost = $10,801 (cash cost Q2) + $900 (kenaikan sulfur) = $11,701
Cash Margin = $15,000-$11,701 = $3,299
Penurunan cash margin lebih dari 40% secara QoQ!
Kondisi seperti sekarang sangatlah tidak ideal untuk perusahaan nikel, karena di satu sisi, salah satu komponen biaya produksi naik sangat tinggi (sulfur), dan harga jual produk jadinya tidak kemana-mana, bahkan turun dibandingkan Q2. Ketika harga jual semakin rendah, sementara biaya meningkat, maka margin menjadi semakin tipis.
Manajemen HRUM sendiri secara eksplisit (cek di web) mengatakan margin untuk paruh kedua 2026 akan tertekan karena tingginya sulfur serta bahan bakar.
Sebagai penutup, siang ini saya baru saja mendapatkan email dari investor relations $NCKL bahwa mereka:
(i) Sudah mendiversifikasi origin impor sulfur mereka. Sebelumnya, mayoritas impor berasal dari Timur Tengah.
(ii) NCKL mengimpor sulfur dan asam sulfat, tetapi preferably sulfur karena biaya logistik asam sulfat tinggi
(iii) Sesuai dugaan saya (inventory perusahaan HPAL sekitar 3 bulan), NCKL memiliki inventory sulfur sebesar 2-4 bulan penggunaan
(iv) Harga sulfur >$1,000/t akan mulai terefleksikan pada Q3 ini.
Ke depannya, jika perang ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin harga sulfur akan terus meroket dan perusahaan nikel yang memiliki HPAL malah merugi.
Salah satu indikator yang masih saya percaya sampai sekarang adalah korelasi negatif antara IHSG dan ID10Y.
Selama yield obligasi pemerintah 10 tahun (ID10Y) masih cenderung naik (uptrend), maka IHSG biasanya masih kesulitan untuk melakukan recovery yang kuat.
Sederhananya, ketika ID10Y naik, IHSG biasanya turun atau sulit naik signifikan. Begitu pula sebaliknya.
Saat ini, kita masih melihat ID10Y berada di tren naik. Artinya, belum saatnya bagi IHSG untuk rebound kencang.
Bagaimana menurut kalian? Apakah ada yang punya indikator lain?
🧵 A THREAD: IHSG hari ini menguat +7,57%, udah boleh ngomong I TOLD U kah?
1/ IHSG hari ini melonjak +7,57% ke level 5.746.
Kamu langsung merasa “ketinggalan kereta” dan ingin buru-buru beli?
STOP.
Itu bukan insting investor. Itu FOMO.
Dan FOMO di tengah pasar yang belum pulih secara struktural adalah cara paling mahal untuk kehilangan modal 🧵
Tiga pesan dari Pak JS yang selalu saya ingat sampai sekarang soal cara main kita sebagai ritel di pasar saham.
Beliau selalu mengingatkan kalau kita nekat head-to-head lawan big fund, kita jelas bakal kalah telak. Ritel modal jempol jelas bukan tandingannya.
Mereka menang segalanya: modalnya gede, punya akses informasi A1, langganan terminal Bloomberg, dan punya tim analis sendiri.
Tapi, ritel itu punya satu senjata rahasia yang nggak dimiliki big fund: kita nggak punya beban target performa jangka pendek.
Makanya, satu-satunya cara buat menang adalah dengan memanjangkan horizon investasi.
Syaratnya cuma tiga:
1. Beri waktu yang cukup
Jangan berharap instan. Kasih waktu minimal 3 tahun supaya pasar pelan-pelan mengapresiasi nilai dari saham tersebut.
2. Beli perusahaan bagus
3. Beli di harga yang bagus
Selama tiga syarat itu terpenuhi, waktu justru akan jadi teman terbaik kita, bukan musuh.
Di saat market sedang riuh oleh kepanikan, di situlah good company sering kali ditinggalkan, harganya jadi sangat murah, lengkap dengan penawaran yield dividend yang menarik.
Bagi kita yang punya horizon investasi jangka panjang, momentum ini sebenarnya peluang untuk mencicil.
Namun, esensi dari seorang kontrarian bukan nekat, tapi tau cara mengelola resiko. Ingatlah bahwa apa yang udah murah hari ini, selalu memiliki ruang untuk jadi lebih murah lagi besok.
Jaga nafas investasi kita, nikmati proses mencicilnya, dan biarkan waktu yang bekerja untuk pertumbuhan aset kita.
#InvestasiTenang
💙💚
RUTINITAS RECEH INI BIKIN
GUE GAK OVERTHINKING
SEHARIAN
04:40 bangun tidur, nggak scroll
04:45 - langsung cuci muka + minum air
05:00- sholat subuh + duduk tenang 5 menit
05:30 - buka catatan to-do list
06:00 - gerak dikit / stretching / jalan pagi
06:30 - sarapan ringan (bukan pikiran ya)
07:00 - mulai kerja (pilih 1 tugas paling penting)
09:00- break 10 menit: minum + lihat luar jendela
11:00- cek medsos 10 menit (bukan scroll lost focus)
12:00 - break makan siang + istirahat sebentar
13:00- lanjut kerja + beresin 1 hal yang tertunda
15:30 mini break lagi, tarik napas, minum air
17:00- review to-do: apa yang belum selesai?
18:00 - waktu bebas / bantu kerja rumah / belanja
19:00- sholat + family time atau nonton
21:00-hp dimatiin pelan-pelan
21:30- tulis 1 hal yang disyukuri hari ini
22:00- tidur, bukan rebahan scroll sampe subuh
Gue suka banget sama statement ini nih:
Sebenarnya pekerjaan yang lagi lo tekunin sekarang itu adalah hadiah terbaik yang Allah kasih khusus buat lo. Makanya lo ditakdirin berada di posisi ini, meskipun dari sananya bukan bidang atau pilihan lo sama sekali.
Lanjut...
IHSG Turun -23% dari ATH dan Mulai Rebound: Bottom Sudah Terlewati?📈
by Stockbit Research
i. Faktor penurunan IHSG
ii. Apakah IHSG bisa turun lebih dalam?
iii. Apa yang harus dilakukan investor?
iv. Apa yang perlu dicermati ke depan?
Kemarin kebetulan saya baca buku pak Joeliardi Sunendar Buying Opportunity of A Lifetime.
Ada satu bagian yang bikin saya mikir ulang soal “safe haven”.
Ternyata, saat krisis Maret 2020, bahkan emas pun ikut koreksi 😶
Lanjut…
Situasi ini betul-betul double kill bagi ekonomi Indonesia, khususnya APBN.
Minyak sudah naik 60% lebih diatas asumsi APBN US$70 ke US$113. Setelah dipukul kenaikan asumsi harga minyak, dihantam lagi dengan melemahnya rupiah yang turun 3% dari asumsi APBN Rp16.500 ke Rp17.000.
Sudah di depan mata akan datang terjangan badai defisit APBN, yang bisa dipastikan tembus diatas 3%, melewati batas yang diizinkan UU. Jika, ya hanya jika, kondisi di Selat Hormuz akibat serangan AS-Israel ke Iran terus berlangsung. Amsiong betul ini APBN kita.
----
Pemerintah punya jalan keluar agar APBN tidak amsiong, yaitu dengan mengurangi Subsidi BBM. Koq ke BBM Subsidi?
Karena di sektor Subsidi BBM itu lah yang menggerus keuangan negara selama ini. Dengan naiknya harga minyak dan melemahnya rupiah, maka subsidi akan membengkak berlipat-lipat. Ini lah yang akan menyebabkan defisit kita akan melanggar batas merah UU, yaitu 3% PDB.
Jadi, jalan keluarnya adalah mengurangi subsidi dengan menyesuaikan harga BBM, yang artinya menaikan BBM Subsidi seperti pertalite dan solar, menyesuiakan harga minyak dunia . Tapiiiiii
Ini langkah yang sangat berisiko sekali. Harga-harga akan melambung, karena kompenen biaya bahan bakar menjadi naik, transportasi naik, dampak lain, daya beli masyarakat akan langsung anjlok.
Di situasi saat ini, segala tekanan pada ekonomi masyarakat, yang selama ini daya belinya juga sudah lemah, adalah bom waktu bagi stabilitas. Risiko politiknya besar sekali.
Ini tantangan bagi pemerintahan Presiden @prabowo, tidak ringan tantangan ini, berat sekali. Apalagi jika konflik di Iran terus berkepanjangan.
------------
Di tengah situasi yang penuh tantangan dan risiko ini, pemerintah harus cermat, hati-hati, dan menjaga setiap komunikasi agar tidak malah menimbulkan gejolak baru di masyarakat.
Komunikasi yang baik, terukur, menenangkan, merupakan kunci pertama melewati kondisi yang rentan ini.
Jangan antar K/L, antar pejabat, keterangannya berbeda-beda. Juga apa yang disampaikan hari ini, berbeda dengan apa yang dilakukan esok hari.
Jaga komunikasi publik agar merangkul. Jangan memukul. Karena bagaimana pun di situasi ini, rakyat lah yang akan paling menanggung beban berat. Bukan pejabat, yang masih akan dihidupi dengan berbagai fasilitas negara.
Kunci kedua, KONSISTENSI kebijakan.
Yang tak kalah penting, di situasi yang akan membawa ekonomi ke tingkat prihatin ini, pemerintah tidak bisa lagi hanya mengulang-ngulang jargon EFISIENSI, tapi realitasnya para pelaksana negara menghambur-hamburkan uang negara, dengan program yang lemah pengawasan dan pertanggungjawabannya. MBG dan Kopdes MP, bisa jadi contohnya.
Pemerintah juga tak bisa lagi mengulang-ngulang jargon "MEMBELA PRODUK DALAM NEGERI" tapi realitasya para pejabatnya malah lebih memilih impor, membayar keringat rakyat negara lain, dari pada rakyat negeri sendiri. Impor pickup/truk India, contohnya.
----
Semoga Indonesia selamat melewati kondisi yang tidak diduga-duga ini.
Salam
FK
🙏
FINAL INTERVIEW. Mereka tanya: "Kenapa kami harus hire Anda?"
Otak lo blank.
Lo jawab "saya pekerja keras dan mampu bekerja di bawah tekanan."
Interview selesai. Lo gak dapet offer.
Ini yang sebenernya mereka mau denger:
#intinyadeh
1. Ekonomi nggak tumbuh rata.
2. 2014–2019: kenaikannya relatif merata dari bawah sampai menengah atas.
3. 2019–2023: yang tumbuh kuat justru kelas bawah & kelas atas.
4. Sebagian kelas menengah malah negatif (daya beli turun).
5. Kelas bawah tertopang bansos.
6. Kelas atas punya aset & buffer, tetap ekspansif.
7. Konsumsi tersier (konser, lifestyle) didorong persentil 90+
8. Mereka kecil secara jumlah, tapi besar secara daya beli.
9. Jadi terlihat “ramai”, padahal nggak mewakili mayoritas.