👩🏻🦳: Selamat malam, bisa check-in di sini, Dek?
🙋🏻♀️: Selamat malam, Ibu. Tentu bisa, ada yang bisa saya bantu?
👩🏻🦳: Kamarnya masih ada, Dek?
🙋🏻♀️: Masih ada, Ibu.
👩🏻🦳: Saya bawa dua cucu sama dua babysitter. Enaknya pesan berapa kamar ya? Atau ada kamar yang lebih besar?
🙋🏻♀️: Kamar paling besar kami President Suite, Bu. Tapi ada juga tipe satu tingkat di bawahnya.
👩🏻🦳: Kalau President Suite terlalu besar ya, saya ambil yang satu tingkat di bawahnya saja. Extra bed buat dua nanny bisa di ruang tamu kan?
🙋🏻♀️: Bisa, Bu. Nanti kami bantu siapkan.
👩🏻🦳: Merepotkan nggak ya? Kalau repot saya pesan dua kamar biasa aja.
🙋🏻♀️: Nggak sama sekali, Bu. Tidak masalah.
👩🏻🦳: Syukurlah. Takut cucu-cucu cari nanny-nya jadi saya harus bolak-balik kamar. Maaf ya.
🙋🏻♀️: Tidak apa-apa, Bu. Kalau begitu saya proses reservasinya ya. Boleh minta KTP dan kartu debitnya?
👩🏻🦳: Ini ya, Dek.
🙋🏻♀️: Lagi liburan ya, Bu?
👩🏻🦳: Lebih tepatnya lagi ngasuh cucu, Dek. Alhamdulillah orang tuanya lagi umrah sama kakeknya. Tahun lalu saya yang umrah, sekarang gantian kakeknya. Apartemen di SCBD juga lagi disewakan. Kalau di rumah kasihan ART-nya nanti berantakan, jadi sekalian saja nginap di hotel, makan tinggal pesan.
🙋🏻♀️: Alhamdulillah ya, Bu. Semoga betah menginapnya.
👩🏻🦳: Besok tolong bellboy ke kamar jam 8 pagi ya. Saya ada penerbangan ke Singapura sama cucu-cucu, mereka mau ketemu Minions.
🙋🏻♀️: Siap, Bu. Sudah saya catat.
👩🏻🦳: Namanya juga cucu, ada aja maunya. Yang penting sekarang saya sama bapaknya sehat terus, rezeki juga masih ada, jadi bisa bahagiain cucu tanpa nyusahin anak-anak.
🙋🏻♀️: Ibu kelihatan sehat dan bugar banget.
👩🏻🦳: Wah, kamu bisa aja, Dek. Sudah semua ya?
🙋🏻♀️: Sudah, Bu. Semoga nyaman selama menginap.
👩🏻🦳: Oh iya, ini buat kalian beli camilan ya. Semoga semuanya sehat selalu.
🙋🏻♀️: Terima kasih banyak, Bu.
Ya Allah, semoga suatu hari nanti aku dan pasanganku juga diberi umur panjang, kesehatan, kebahagiaan, dan rezeki yang berkah, supaya bisa menikmati masa tua dan membahagiakan anak cucu seperti nenek itu. 🤍
one day, aku pengen anakku belajar tentang cinta bukan dari film atau novel, tapi dari cara ayahnya memperlakukan ibunya: yang sabar, lembut, tanpa nada tinggi. aku ingin dia melihat bahwa ibunya dipenuhi rasa cinta dan terimakasih setiap harinya. makanya aku akan cari suami yang emang bisa menunjukan itu ke anak anaku nanti.
“lamaraannya sederhana”
“menikahnya sederhana”
“pestanya sederhana”
tapi setelah nikah ada punya kendaraan sendiri, rumah sendiri, keluarga kecil bahagia, usaha dimana-mana, dan punya mertua serta ipar yang baik.
pernah baca statement begini:
"diperbaiki bukan diakhiri, dibicarakan bukan ditinggalkan, itulah hubungan dewasa yg sesungguhnya."
terus aku berfikir; bagaimana jika ingin diperbaiki tapi gak dihargai & ketika ingin dibicarakan tapi gak didengarkan?
apa masih pantas diperbaiki?
Tiba-tiba keinget kata Habib Jafar:
“Yang tidak sampai ke kita, tidak perlu dicari tau.
Yang sampai dari mulut orang lain, tidak perlu dipercaya.
Dan yang sampai langsung dari orangnya, dimaafkan.”