Sebenarnya kasian sama beberapa orang yang denial dan masih maksain diri untuk overtrade di kondisi market ky gini..
Sempet ngomongin sama @asaprosul, kyknya behavior retail ky gini lahir krn finfluencer ga bertanggung jawab yang asal kasih view dan bilang gak all in gak kaya, gua jackpot di saham ini, life changing money blablabla..
Jadi mereka kepancing terus buat catching the bottom untuk berharap dapat excessive return karena bisa nebak bottomnya dimana
Padahal konsepnya kan gak ky gitu, dia gak ngitung probabilitynya.. karna market menurut saya totally probability game loh..
Saya gaakan deploy capital in size klo probability menang gak diatas 75%,
Kaya apa yang @kr39__ bilang lhaa.. market begini 90% lu bakalan mati boss, ya better duitnya dipake liburan daripada dijudiin dengan probability menang 10% 🤔
Thanks God dikelilingin orang rasional yang bisa kasi perspektif lebi banyak 😘❤️
Guys be kind, stay kind. Banyak temen di sosial media mau pun di real life yang jadi stress krn penurunan IHSG. Uang buat beli mobil, buat nikah, pendidikan anak, yg parkir di bursa lenyap hampir 40% in a very short time, within this year. Baca-baca di thread jg banyak yg affected dan udah gak tau mau gimana lagi.
YES I know trade plan matters, risk management matters, we gotta control what we can control, wtv it is. Tp mocking people’s state of mind saat mereka being vulnerable about their loss, I don’t think that is necessary😕
Izin menambahkan sedikit 🙏
Banyak yang sekarang terlalu fokus ke “bentuk pola”, sampai lupa inti sebenarnya dari VCP.
Sedikit melengkung → dibilang VCP.
Bentuk mangkuk → langsung dianggap setup ala Minervini.
Padahal VCP itu bukan soal gambar.
VCP = Volatility Contraction Pattern.
Intinya adalah:
- range harga makin menyempit
- volatilitas makin mengecil
- volume makin turun
- supply makin tipis
lalu terjadi expansion saat demand masuk
Jadi yang dilihat bukan sekadar “chart cantik”, tapi proses kontraksinya.
Dan menurut saya, ini juga berlaku untuk banyak pendekatan lain di market.
Tidak semua:
- bid offer
- tape reading
- breakout
- support resistance
- moving average
- Wyckoff
- Smart Money Concept
atau indikator teknikal lainnya…bisa diterapkan mentah di semua saham.
Karena tiap saham punya karakter berbeda:
- likuiditas
- market cap
- fase siklus
- volatilitas
- sampai gaya pergerakan bandar
Big caps beda.
Second liner beda.
Saham gorengan beda lagi.
Makanya kadang ada yang bilang: “bid tebal = akumulasi”
Padahal bisa saja layering.
Atau: “breakout valid”
Padahal volume tidak mendukung.
Atau: “VCP cantik”
Padahal distribusi belum selesai dan volatilitas masih liar.
Teknikal itu soal konteks.
Bukan sekadar template.
Yang sulit di market bukan menghafal pola.
Tapi memahami:
- kapan setup itu valid
- cocok dipakai di saham seperti apa
- efektif di fase market yang mana
- dan siapa "pelaku" dominannya
Semakin lama di market, biasanya orang semakin sadar:
Setup bagus ≠ probabilitas tinggi.
Karena kualitas setup juga dipengaruhi:
- liquidity
- sentiment
- momentum sektor
- kondisi market dan psikologi pelaku pasar
Makanya trader yang sudah matang biasanya lebih fleksibel.
Tidak terlalu fanatik pada satu metode.
Market itu dinamis, kalau semua pola selalu berhasil, semua orang pasti sudah kaya hanya dari screenshot chart 😄
#salamsusahnyaham
untuk semua ibu yang setiap hari doing their best for their baby dengan tidur seadanya,
YOU’RE DOING GREAT ❤️
and dads,
we spoil the wife more love and
change the diaper!!!!
we are the diaper man
no questions asked