🇮🇹🚩 Le communiste Manuel Minervini est élu maire de Molfetta (60 000 habitants, région des Pouilles) avec 67,47 % des voix
Cet ingénieur en mécanique de 36 ans, est membre du Parti de la refondation communiste.
Molfetta devient la plus grande ville communiste d'Italie.
🇱🇧🚩 Notre camarade Ramadan Farhat est tombé.
Membre du Parti communiste libanais et du Front de résistance nationale, il combattait contre l'envahisseur israélien au Liban.
Il est tombé en martyr à Az-Zrariyah, dans le sud du Liban.
Gloire à notre camarade.
Seorang perempuan baru saja ditunjuk memimpin lembaga yang ngurus gizi 280 juta rakyat Indonesia.
Latar belakangnya?
Bukan dokter. Bukan ahli gizi. Bukan epidemiolog.
Tapi beliau adalah orang yang pertama kali membisikkan hoaks Ratna Sarumpaet ke telinga Prabowo.
Selamat datang di era Nanik S. Deyang, Kepala BGN
كنت أقوم من النوم عشان صلاة الفجر وأدعي كل يوم.
بالبداية كنت أحسب إني أسوي كل شيء صح:
• أقوم أصلي الفجر
• أدعي
• وأجتهد بشغلي
لكن مع كذا كنت للحين أعاني من ناحية وضعي المادي.
لين جلست مع شيخ وقال لي:
Cuando el burro patea, el sabio calla:
Dijo una vez Sócrates:
“Si un burro me pateara, ¿acaso lo demandaría?”
Con esta frase sencilla, Sócrates enseñaba una de las lecciones más poderosas de la vida.
No se trata de ganar cada discusión, ni de demostrar superioridad ante quienes no desean aprender.
Sino elegir con sabiduría cuáles batallas merecen nuestra energía.
Muchas personas reaccionan ante los insultos y las ofensas como si su dignidad dependiera de ello.
Pero en realidad, el verdadero poder está en mantener la calma y la dignidad.
Incluso cuando te provocan.
Cuando un burro patea.
Actúa desde su instinto y su naturaleza.
No tiene conciencia de lo que hace.
De la misma forma, hay personas que, movidas por la ignorancia, la envidia ,de su propio fracaso y sufrimiento solo saben atacar y gritar.
La ignorancia grita, la sabiduría calla.
El que sabe quién es y cuánto vale, no necesita defender su ego en cada ofensa que recibe.
La respuesta más poderosa, y la que más incomoda al ignorante, es el silencio.
Sócrates entendía que la vida es demasiado breve como para malgastarla en discusiones con quienes no quieren aprender, y solo saben pelear.
No te rebajes al nivel de quien solo busca conflicto.
La verdadera inteligencia no necesita imponerse.
Simplemente sigue brillando con tu sola presencia.
Es mejor retirarse en paz que quedar atrapado en un pantano de palabras vacías.
Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke 🇮🇩, apalagi Dubes 🇮🇩 di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
Today marks the centenary of the birth of Norma Jeane Mortenson, the woman the world knew as Marilyn Monroe.
While the bourgeois press continues to gape at the ghost of a manufactured icon, the Communist Party of Britain reclaims the intellectual and the comrade.
Her politics were born of the assembly line. From the foster homes of Los Angeles to the Radioplane munitions factory, Monroe’s class consciousness was forged in the heat of proletarian survival. She was a woman of fierce intelligence, possessing an IQ that dwarfed the men who sought to manage her, yet she was reduced to a commodity to be bought, sold, and traded by the parasitic studio system.
The FBI files, which tracked her until her final breath, confirm what the establishment feared - a sex symbol who had read Marx and admired the Chinese Revolution. She was a militant anti-racist who used her platform to shatter the colour bar for Ella Fitzgerald, and she stood firm against the cowardice of the McCarthyite witch hunts when she married the blacklisted playwright Arthur Miller.
We must recognise that Monroe’s struggle was the intersection of class exploitation and patriarchal violence. She was a worker whose labour was her own body, super-exploited by a system that demanded she be beautiful and silent. Her life was a constant act of rebellion against the male gaze of capital. On her 100th birthday, we do not celebrate a "bombshell". We honour a clear-minded socialist who understood that the liberation of her class was inseparable from the liberation of her sex.
Happy Centenary, Comrade Marilyn. The struggle continues.
#MarilynMonroe
Seskab Teddy Indra Wijaya .
Letkol Kopassus, mantan ajudan Prabowo, nol pengalaman diplomasi ,
merespons Dino Patti Djalal dengan sindiran: "diplomat hebat, walau cuma 3 bulan jadi Wamenlu."
Oke, Pak Letkol. Kita bedah satu-satu.
Soal biaya: Lo bilang kelebihan biaya ditanggung "pribadi Presiden." Tapi pesawat kepresidenan, pengamanan TNI-Polri, hotel protokol, tim advance, logistik 50-60 orang , itu semua tetap APBN.
Yang "pribadi" cuma excess-nya.
Dan Prabowo sendiri yang tanda tangan Inpres No. 1/2025 yang perintahkan seluruh K/L pangkas perjalanan dinas 50%.
Guru nyuruh murid hemat, gurunya keliling dunia.
Soal rombongan: Lo bangga rombongan turun dari 120 jadi 50-60 orang.
Dino tidak pernah bicara soal ukuran rombongan. Dia bicara soal frekuensi , 1 dari 6 hari Presiden ada di luar negeri.
Lo jawab pertanyaan yang tidak ditanyakan.
Soal investasi Rp 2.430 triliun: Ini total realisasi investasi PMDN + PMA tahunan , tren jangka panjang yang sudah berjalan sebelum Prabowo menjabat, dipengaruhi hilirisasi, regulasi, dan iklim global.
Lo tidak bisa buktikan berapa dari angka itu kausal dari kunker.
Berdiri di bawah hujan lalu ngaku bisa mendatangkan air.
Soal sindiran "3 bulan":
Dino punya PhD dari London School of Economics, 26 tahun karier diplomatik, 3 tahun Dubes untuk Amerika Serikat.
Yang nyindir dia adalah seorang Letkol yang jabatan Seskab-nya lahir dari loyalitas, bukan keahlian tata negara.
Di negara yang sehat, Seskab dijabat teknokrat.
Di sini, dijabat ajudan yang merangkak naik karena setia , lalu nyindir diplomat doktoral soal pengalaman.
"Speak truth to power," kata Dino.
Yang menjawab justru orang yang hidupnya melayani power.
Dentro de 100 años será el año 2126.
Todos nosotros estaremos ya enterrados junto a nuestros amigos y familiares.
Dentro de 200 años será el año 2226.
Nadie recordará que alguna vez existimos.
Ni siquiera los nietos de nuestros nietos.
Dentro de 300 años... ↓↓
In Eastern skies, red,
PKI's dawn, a new path born,
Revolution's call.
May 23, 1920 marked the founding of the Indonesian Communist Party (PKI), Asia's inaugural communist party, emerging three years after the Russian Revolution.
#PKI#Indonesia#Komunisme#CPIM#USCrime