Tugas rakyat itu “mengawasi” bukan “memuji”
pejabat dan government kerja bagus itu ya bare mininum lah. Kalian digaji dari pajak yg disetor warga kok.
Mager banget baca narasi d tiktok yg anggep pihak yg kritik pemerintah itu = musuh.
Astaga.
Ngga usah repot repot ganti Mentri Keuangan, pak.
Kalo bapak umumkan program MBG dan Kopdes dihentikan, mau mentrinya monyet juga itu IHSG pasti ijo pak 🙂
Mungkin karena masih terbawa suasana hari pendidikan nasional, sehingga MU penuh dengan semangat mendidik dan mengajar. Kebetulan hari ini yang harus dididik dan diajar oleh MU adalah Liverpool.
Tentu saja MU sebenarnya bisa menang 3-0, tapi prinsip “Menang tanpo ngasorake” membuat MU sengaja memberikan dua gol buat lawan agar tim tamu tidak terlalu kehilangan muka dan tetap punya harga diri. Memuliakan tamu.
Logo boleh setan, tapi prinsip hidup tetap harus Habluminannas dan Habluminallah.
saya punya opini tidak populer.
kalau kita pahami secara objektif, Miloš Krasić, sebenarnya punya level permainan yang lebih ngeri dibandingkan Alessandro Del Piero, Francesco Totti, atau Rui Costa...
Saat era itu, pemain lain masih sibuk dengan gaya main klasik yang cenderung lambat,
Krasić datang membawa kombinasi speed murni dan akselerasi eksplosif yang benar-benar merusak tatanan pertahanan lawan secara instan.
Memang nama-nama besar tadi punya elegansi, tapi Krasić menawarkan efisiensi transisi dan daya hancur di sisi sayap yang jauh lebih relevan untuk intensitas sepak bola modern.
Kalau main era skrg, doi bakal gampang banget mendominasi area flank dengan tenaga dan presisi seperti itu adalah sesuatu yang secara teknis sulit ditandingi oleh para fantasista tersebut pada masa jayanya.
Mumpung postingan MBG masih anget.
Saya mau sharing dikit tentang pelaksanaan MBG di tempatku bekerja.
Sekolah kami sudah beberapa minggu ini AKHIRNYA kebagian MBG juga. Pada mulanya sekolah menolak. Tapi kata dinas, sekolah tidak boleh menolak; yang boleh menolak adalah orang tua siswa. Dan jadilah divoting berapa yang mau menerima MBG, dan diberikan jumlah omprengan sesuai dengan yang mau menerima. Jadilah sekolah kami menjadi penerima MBG.
Sebagai latar sedikit, sekolah kami itu rata2 menengah ke atas. Yang sekolah aja ada yang pake Hyundai Kona. Liburan ke luar negari. Kalau lulus kuliahnya kedokteran, PETRA, atawa ke luar negeri. Saya di sana mengampu persiapan SAT bagi mereka yang mau ke LN (sambil tipis2 ngajarin mereka investasi saham pakai simulator).
Sekolah ternyata memang "agak" dipaksa untuk menerima MBG. Jika menolak, ada kemungkinan BOS-nya juga akan ditarik karena dianggap sudah mampu. Dan saya mendengar hal yang sama juga dialami beberapa sekolah lain yang muridnya banyak menengah ke atas.
Untungnya SPPG-nya lumayan. Minimal dari beberapa minggu ini saya amati menunya lumayan. Ayam teriyaki, ayam pop corn; buahnya jeruk potong, semangka, melon, dll. Kalaupun ada kekurangan, hanya masalah porsi. Tahu sendiri anak2 usia SMA, terutama yang cowok2, porsi makannya kayak apa.
Dari pengalaman ini saya melihat bahwa sebenarnya BGN itu hanya ngejar angka. Berapa jumlah siswa yang menerima MBG, berapa sekolah, dll. Mereka tidak peduli apakah itu tepat sasaran atau tidak. Lah, sekolah kami yang murid2nya lebih dari mampu juga diberi MBG. Dengan "sedikit" paksaan lagi, kalau menolak akan ditarik dana bantuan pemerintah.
Anak2 mungkin senang2 saja dikasih makan gratis. Tapi yang mengeluh adalah ibu kantin yang omsetnya mulai turun.
Dan siapa yang paling dirugikan? Tentu saja mereka yang bisa jadi tidak menerima gaji karena anggaran negara mulai seret diserap oleh MBG: para PPPK, guru dan nakes. Bahwa setiap bulir beras MBG kepada yang tidak berhak bernilai tetes darah mereka yang mengabdi sebagai pegawai dan terancam tak digaji.