Rezim Soeharto jatuh karena satu keluarga sudah terdampak:
Bapaknya nganggur, ibunya gak bisa beli sembako, anak-anaknya digebukin tentara atau diculik.
Brunei Darussalam yang produksi minyaknya "cuma" sekitar 40 juta barel setahun bisa jadi salah satu negara paling makmur di dunia. Fasilitas negaranya luar biasa, rakyatnya bebas pajak, dan pendidikan sampai kesehatan dijamin gratis. Sementara itu, Provinsi Riau sanggup mompa minyak sampai 66,4 juta barel setahun. Secara logika kasar, Riau harusnya bisa jauh lebih tajir dari Brunei. Terus pertanyaannya, ke mana lari uang minyak Riau selama ini?
Jawaban paling mendasar ada di status wilayahnya. Brunei itu negara merdeka. Semua uang hasil jualan 40 juta barel minyaknya masuk 100 persen ke brankas negara mereka sendiri untuk dikelola langsung. Ditambah lagi, penduduk Brunei itu nggak nyampe 500 ribu jiwa. Bayangkan uang minyak yang melimpah ruah itu dipakai buat ngurusin penduduk yang jumlahnya cuma seukuran satu kabupaten di Indonesia, ya otomatis semuanya bisa hidup enak.
Beda banget ceritanya sama Riau. Riau ini kan provinsi, bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di aturan main negara kita, semua kekayaan alam yang ada di perut bumi itu dikuasai oleh negara, bukan cuma milik wilayah tempat minyak itu dikeruk. Jadi, triliunan rupiah dari hasil jualan 66,4 juta barel minyak Riau itu nggak langsung masuk ke rekening Gubernur Riau, melainkan ditarik dulu semuanya ke kas Pemerintah Pusat di Jakarta.
Nah, dari Jakarta, uang itu baru dikirim balik ke daerah pakai sistem yang namanya Dana Bagi Hasil (DBH). Di sinilah letak perbedaan terbesarnya. Berdasarkan undang-undang yang berlaku sekarang, porsi pembagian minyak bumi itu berat sebelah ke pusat: Pemerintah Pusat mengambil 84,5 persen, sementara jatah buat daerah ditetapkan sebesar 15,5 persen.
Jatah 15,5 persen buat daerah ini pun nggak cuma dimakan sendiri oleh Pemprov Riau. Uang itu masih harus dipotong-potong lagi porsinya buat kabupaten yang wilayahnya jadi tempat ngebor minyak (kayak Bengkalis atau Rokan Hilir), kemudian dibagi lagi buat kabupaten-kabupaten tetangganya, sampai dikasih juga ke wilayah yang ngurusin pengolahan minyaknya.
Kenapa Pemerintah Pusat ngambil bagian sebegitu besarnya? Karena Indonesia ini negara raksasa dengan penduduk nyaris 280 juta jiwa. Uang 84,5 persen yang ditarik ke Jakarta tadi dipakai buat muterin roda ekonomi seluruh wilayah dari Sabang sampai Merauke. Uang dari tanah Riau itu ikut dipakai buat bayar utang negara, nombokin subsidi BBM biar harga Pertalite nggak jebol, bangun infrastruktur di pulau lain, sampai ngidupin daerah-daerah yang APBD-nya kembang kempis.
Ibarat di sebuah keluarga besar, Riau ini posisinya kayak anak sulung yang gajinya paling gede. Tapi karena adiknya banyak dan tanggungan keluarga lagi tinggi-tingginya, sebagian besar gaji si anak sulung ini harus disetor ke orang tua buat nyukupin makan serumah. Makanya, wajar kalau Riau nggak bisa pamer fasilitas mewah serba emas ala Brunei, karena dari dulu uang minyak mereka memang dipakai buat "menghidupi" satu republik.
Gilaa!
Sedang menyaksikan Gubernur kesayangan kalian Sheryl Tjoanda dipermalukan di Forum United Nations Karena pertambangan di daerahnya dan dampak kerusakan lingkungannya.
Merinding 🥶
Bayangin gimana serakahnya Negara ini, pabrik rokok itu harus membeli cukai di awal baru bisa produksi rokok. Dari 26.000 yang kita keluarkan untuk beli rokok, sekitar 19.000 itu masuk ke Negara.
#rokokindonesia
Gw dapet dari sosmed, kok bisa ya dia ngomong gini, dan dari pihak event nya uda post klarifikasi yg sesuai data padahal. Sampe ada isi chat sama managernya. Hadeuh ini band kek nya merasa besar, padahal rakyat bisa dengan gampang boikot ini band.
Dan kayaknya ini live sebelum akun IG si vokalis sok ganteng ini hilang, buat fans nya lu semua cuci muka deh biar waras.
Dan dengan bangga ngomong - yg penting sekarang mah kita uda lunas - BANGGA SEKALI ANDA MAKAN UANG TERSEBUT DENGAN TIDAK MELAKUKAN TANGGUNG JAWAB ANDA SEBAGAI PERFORMER