Letter #9 is out!
What could go wrong if Indonesia's credit rating gets downgraded? What if it's only a negative outlook? Turns out it is much scarier than what the market perceives.
In this letter, we also discuss MSCI. Indonesia is not out of the woods yet. We look at what Indonesia would face if it is to be downgraded to the Frontier Markets Index. Outflows are written on the wall, but a good precedent could still spark some hope.
Also updated our Elliott Wave count for the big banks $BBCA $BMRI $BBNI $BBRI, and we think dip buying in banks is not promising right now.
Read our latest letter through the link below:
https://t.co/00YJKxPJom
#MeridianResearch
Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
According to psychology, being the "good, low maintenance" child isn't a sign of innate maturity. It is a survival strategy known as parentification or fawning. You subconsciously recognized that your caregivers were too emotionally overwhelmed, volatile, or fragile to handle your age appropriate needs. You swallowed your own childhood and became invisible just to keep the peace.
JUST IN: Brilliant, the premium interactive learning platform for math and coding, launches Koji, the first real-time AI tutor that deepens students’ understanding through live, adaptive coaching.
Gw termasuk yang awalnya mikir Singapura maju ya karena "SDM mereka kelas dunia, institusi mereka bersih, dan pemimpinnya visioner." Semua itu betul. Tapi ada satu cerita lain yang jarang masuk headline.
Singapura bukan cuma negara maju. Singapura adalah brankas terbesar ketiga di dunia. Menurut estimasi Boston Consulting Group yang dikutip TIME Magazine (Oktober 2023), cross-border wealth inflows ke Singapura mencapai US$1,5 triliun, hanya kalah dari Swiss dan Hong Kong. Uang dari seluruh penjuru dunia mengalir ke sana bukan karena pemiliknya tinggal di sana, tapi karena sistem mereka dirancang untuk menyambut siapapun yang membawa kapital.
Dan Indonesia adalah salah satu pengirim terbesar. Menurut sumber dari industri private banking yang dikutip Reuters via Malay Mail (Juli 2016), sekitar US$200 miliar uang asal Indonesia yang kemungkinan tidak dilaporkan ke otoritas pajak Jakarta tersimpan rapi di Singapura. Untuk konteks: angka itu lebih dari separuh APBN Indonesia saat itu. Diam-diam, tanpa banyak yang sadar.
Tidak semuanya uang bersih. Menurut laporan East Asia Forum (April 2025), selama bertahun-tahun sistem keuangan Singapura digunakan oleh pengusaha korup dari Indonesia untuk memindahkan dana haram ke pasar internasional, hasil dari pembalakan liar, pertambangan ilegal, dan perusakan lingkungan yang tidak pernah diadili. Uang itu butuh tempat yang aman, jauh dari jangkauan hukum Indonesia. Singapura menjawab kebutuhan itu.
Singapura sendiri tidak sepenuhnya tutup mata. PM Lawrence Wong, dalam pernyataannya di Bloomberg New Economy Forum yang dilaporkan Malay Mail (November 2024), menegaskan negaranya tidak akan kompromi melawan aliran uang haram. Reformasi regulasi terus berjalan. Tapi fakta bahwa mereka perlu menegaskan hal itu berulang kali justru menggambarkan betapa besar tekanan yang mereka hadapi dari dalam sistemnya sendiri.
Yang paling menarik justru ini: bahkan uang "legal" pun sering bermula dari wilayah abu-abu. Menurut laporan Fair Observer (2016), banyak pengusaha Indonesia yang menetap nyaman di Singapura ternyata masuk daftar buron otoritas Indonesia, namun tetap bebas mengelola aset dan bisnis mereka dari seberang selat. Batas antara pelarian pajak dan pencucian uang di sana tipis sekali.
Jadi ketika kita kagum melihat angka pertumbuhan Singapura, ada baiknya kita tanya satu pertanyaan sederhana: uang siapa yang sedang mereka kelola? Singapura maju bukan hanya karena mereka membangun manusianya dengan baik. Mereka juga sangat pandai menjadi tempat berlabuh bagi uang yang tidak bisa pulang ke rumahnya sendiri. Dan sebagian besar uang itu, asalnya dari sini...
This week’s letter explores whether Logam Mulia or Gold is truly the right hedge against Rupiah depreciation. Our answer: maybe not.. but also maybe yes.
We also break down Indonesia’s new commodity export body, Danantara Sumberdaya Indonesia, and why the actual mechanism is far more complicated than the headlines suggest.
Read our latest report through the link below.
https://t.co/00YJKxPJom
#MeridianResearch
Dengan modal ala kadarnya kami masih usaha setahun belakangan ini. Sekarang Balai Pustaka punya 2 lini penerbitan kak: Batjaan Rakjat dan Kunang-Kunang (khusus anak). Support terus ya sampai kami bisa menerbitkan karya-karya lainnyaaaa😁 (duh terharu jujur ada yg ngomongin BP)
Heechul: "IU is the blueprint for handling hate. She ignores the noise, stays silent, and sues them legally with zero leniency. Haters back down because they know she will take them to court."
When there is a will, there is a way.
Kalau ingin baca buku bisa akses https://t.co/qCvi6X0hjC dan https://t.co/KeO07317kk, bukan download ya tapi baca. Ada banyak buku jadul yang bisa diakses tanpa harus beli atau membajak.
“Ah bahasa Inggris.”
Oh bisanya Indonesia, jalan ke perpustakaan cari karya teks Indonesia kan bisa.
“Ah koleksinya ga lengkap.”
Mungkin coba ikut (atau bikin) komunitas yang saling pinjemin/sewain buku.
salah banget nyuruh napak tanah ke orang yang pernah cuma hidup dengan berbagi sebungkus nasi bungkus hanya berlauk sambal kentang dan tempe mendoan berdua ibunya, di kos2an di satu gang sempit di jakarta.
ke yg harus menangis mendengar bapaknya di medan nggak megang duit untuk makan jadi bertahan dengan biskuit kalengan yg tersisa di rumah.
yg tidak punya rumah, tapi pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.
yg naik turun kopaja dan metromini, lantas menangis ketika hp-nya yg baru diisi pulsa dicopet orang.
yg tetap harus mengajar meski sedang sesak napas serangan asma, karena kalau nggak datang gajinya akan dipotong dan gaji itu untuk keluarganya.
yg nggak bisa ikut bergaul dgn teman2nya krn pertemanan itu mahal.
orang2 cuma lihat seseorang saat udah di atas. mereka nggak pernah mau tahu perjuangannya. nggak pernah mau tahu jungkir baliknya. nggak pernah mau dengar masa pahitnya yg dia cuma bisa simpan sendiri.
dari masa susah, aku nggak pernah iri sama orang. nggak pernah nyumpahin orang yg lebih kaya. aku nggak marah sama nasib. aku bangkit dan berjuang. aku berjanji suatu saat bapak ibuku bisa merasakan kesuksesan anaknya. bisa makan enak.
bisa lihat anaknya berkarya.