Awalnya, semua itu memang tentang Sumatera.
Sebuah bentuk kepedulian dan doa untuk saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah. Namun ketika spanduk raksasa bertuliskan “THIS COUNTRY IS IN EMERGENCY” terbentang di tribun selatan Stadion Maguwoharjo, maknanya terasa lebih luas dari sekadar dukungan untuk satu daerah.
Sore itu tribun memang tidak sepenuh biasanya. Hari kerja membuat banyak orang masih tertahan oleh pekerjaan, perjalanan pulang, dan berbagai kesibukan di luar stadion. Tapi justru di tengah tribun yang tidak terlalu ramai itu, pesannya terasa semakin jelas.
Karena tanpa sadar, banyak orang merasa kalimat itu terlalu menggambarkan Indonesia hari ini. Negeri yang belakangan terasa makin berat dijalani. Kabar demi kabar datang tanpa benar-benar membawa tenang, sementara rakyat perlahan makin terbiasa hidup dalam keresahan.
Lalu lagu itu dinyanyikan bersama.
“Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati
Air matanya berlinang, mas intannya terkenang”
Dan seketika, tribun terasa berubah. Bukan karena nyanyiannya pelan, tapi karena lirik itu terdengar terlalu dekat dengan kenyataan yang sedang dirasakan banyak orang hari ini.
Mungkin itu sebabnya sore itu terasa berbeda. Karena untuk beberapa menit, tribun selatan Maguwoharjo tidak hanya bernyanyi untuk Sumatera, tapi juga seperti sedang menyuarakan keresahan yang selama ini dirasakan banyak orang.
Di tribun, sepak bola sekali lagi bukan cuma soal pertandingan. Kadang, tribun menjadi tempat di mana suara rakyat terdengar paling jujur.
Awalnya memang tentang Sumatera. Tapi semakin lagu itu dinyanyikan, semakin terasa bahwa yang sedang bersusah hati hari ini bukan cuma satu daerah.
Melainkan satu negara.
#PSS #BCSxPSS
bahan baku naik, rupiah anjlok, ruu disahkan dalam waktu yg sangat singkat, trus masyarakat e digawekke konflik horizontal.
kondisi koyo ngene isih kon sabar?
Ada yang spesial dari lagu tribun milik suporter PSS Sleman.
Bukan cuma soal nada atau seberapa keras dinyanyikan, tapi tentang makna di tiap liriknya.
“Setiap jejak yang kutinggalkan, menapaki harum kemenangan”
Kalimat ini bukan cuma tentang kemenangan di papan skor.
Tapi tentang perjalanan panjang yang dilalui bersama klub yang dicintai.
Tentang ribuan langkah menuju stadion.
Tentang perjalanan kandang ataupun tandang yang melelahkan.
Tentang hujan di tribun, suara yang habis karena bernyanyi, dan rasa bangga yang selalu dibawa pulang, apa pun hasil akhirnya.
Karena bagi suporter, setiap jejak yang ditinggalkan bersama PSS selalu punya cerita.
“Super Elja, lihatlah, kami datang di sini. Menemani, berjanji, kamu takkan sendiri”
Mungkin ini bagian yang paling menggambarkan arti loyalitas sebenarnya.
Di saat banyak orang hanya datang ketika tim sedang menang, tribun Sleman justru dipenuhi mereka yang memilih bertahan saat keadaan sulit.
Tetap hadir meski kecewa.
Tetap bernyanyi meski lelah.
Tetap berdiri walau klub sedang tidak baik-baik saja.
Sebab mendukung klub bukan soal siapa yang paling sering merayakan kemenangan.
Tapi siapa yang tetap tinggal ketika semuanya terasa berat.
“Bersamamu, semangatku tak akan berhenti”
Dan itulah yang membuat lagu ini terasa hidup ketika dinyanyikan ribuan orang bersama-sama.
Karena itu bukan sekadar chant tribun.
Itu janji.
Janji kalau sebesar apa pun masalah yang datang, PSS tidak akan pernah berjalan sendiri selama masih ada suara-suara yang setia bernyanyi di tribun.
“Dan pastikan kami s’lalu datang melihatmu menang”
Sesederhana itu harapan seorang suporter.
Datang ke stadion.
Bernyanyi selama 90 menit.
Mendukung tanpa henti.
Lalu pulang dengan rasa bangga karena klub yang dicintainya berhasil menang.
Karena sejatinya, sepak bola bukan cuma tentang pertandingan.
Tapi tentang rasa memiliki yang membuat seseorang terus kembali, lagi dan lagi, untuk satu nama yang sama: Super Elja.
#PSS #BCSxPSS
BREAKING NEWS 🚨
Komdis PSSI jatuhkan denda total 200jt kepada PSS Sleman saat melawan Garudayaksa. Rinciannya:
- 8 pemain kartu kuning - Rp40 jt
• Pelemparan botol & paper roll oleh suporter - Rp15jt
• Penyalaan flare Rp125jt
• Panpel dinilai gagal menjaga keamanan Rp20jt