Soon afterward, Dee gathered her belongings and joined the flow of students leaving the classroom. Rather than heading straight back, she wandered off in search of something, though what exactly she was looking for remained uncertain even to her.
ㅤ
“Tidak akan berbahaya. Keamanan kalian akan kami jamin seribu persen dan pulang dengan selamat!” Kuasanya bergerak merapikan kembali perkamen yang tersisa. “Terima kasih telah mengikuti kelas pada malam hari ini. Sampai jumpa pekan depan dan selamat beristirahat!”
ㅤ
ㅤ
Selebaran perkamen kembali melayang. “Materi sudah selesai! Bagaimana? Apa sudah semakin tertarik mengikuti turnamen ini? Tenang, tidak ada garis umur sehingga siapa pun boleh ikut. Ini bukan turnamen triwizard sungguhan! Hitung-hitung latihan!” serunya bersemangat.
ㅤ
ㅤ
“Tidak ada jawaban yang salah, semuanya benar. Terima kasih banyak!” Ia tersenyum sebelum melanjutkan. “Saya melihat mereka yang terpilih bukan sebagai representasi kemampuan seluruh sekolah, melainkan sebagai simbol sekolah tersebut. Ketika seseorang terpilih menjadi juara, ia membawa nama, nilai, dan kepercayaan yang diberikan oleh sekolahnya. Yang diwakili bukan hanya kemampuan sihir, tetapi juga tanggung jawab.”
ㅤ
ㅤ
“Banyak siswa belajar di sebuah sekolah. Mereka memiliki kemampuan, bakat, dan keunggulan. Tetapi ketika turnamen berlangsung, sekolah hanya diwakili oleh satu orang saja. Menurut kalian, apakah satu orang benar-benar cukup untuk mewakili kemampuan seluruh sekolah?"
ㅤ
ㅤ
“Turnamen pada tahun 1994 menghasilkan empat peserta, bukan tiga. Dan pada akhirnya, kematian Cedric Diggory serta kembalinya Lord Voldemort menjadi penutup bagi penyelenggaraan Turnamen Triwizard.” Wisteria mengangkat alisnya. “Diluar itu, ada satu hal yang menarik perhatian saya.”
ㅤ
ㅤ
Tongkatnya bergerak memunculkan makanan ringan dan minuman hangat di atas meja. “Silakan sambil cemal-cemil, materi hari ini cukup seru..” ucapnya. “Saya lanjutkan, ya. Walau banyak tambahan pengaturan yang menjamin keselamatan, sejarah kembali menunjukkan sebuah tragedi.”
ㅤ
ㅤ
“Baru berabad-abad kemudian, tepatnya pada tahun ajaran 1994-1995, turnamen ini kembali diselenggarakan. Berbagai aturan keselamatan ditambahkan, termasuk batas usia minimal tujuh belas tahun dan Age Line yang mengelilingi Goblet of Fire.”
ㅤ
ㅤ
“Jumlah korban yang terus bertambah akhirnya membuat penyelenggaraan Turnamen Triwizard dihentikan pada akhir abad ke delapan belas.” Berdeham. “Menurut saya, itu langkah yang baik, sebab sudah melenceng dari tujuan Triwizard diadakan.”
ㅤ