@Salsaadaapanya MENDING SHARE BERITA KEBARAKAN DAN GEMPA. JGN LANGSUNG PERCAYA GUYS, DI THREADS YG BIKIN UTAS BEGINI TEMPLATE SEMUA. DAN FOTO PROFIL DARI ORANG YG BIKIN UTAS PAKE FOTO ORANG LAIN JUGA. BUZZER BEGO
@unmagnetism kaos le minerale ya oke karna menutup bahu sah sah aja. kalo singlet ya coba aja dipikir. ibarat lu ketemu bos pake kaos aja ga sopan. masa ketemu tuhan nebar aurat. padahal tuhan yg ngasih segala galanya. tapi di anggap remeh. masa iya mereka gabawa jaket dll.
@sasa_azhara terlalu banyak libur nasional di bulan ini. ini libur nasional terkahir. dan mereka ga dibayar ke itungan lembur untuk msk di tanggal merah. beberapa toko di bukan mogok kerja tapi memang saran dari pt nya mau buka atau engga.
HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?
Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu.
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya.
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
@unmagnetism gw sih sbgai barista bkn di point ya. gamau ribet kalo beli minuman2 di coffee shop apapun. kalo kalian ada yg kesel karna liat mukanya jutek atau apapun itu bkn bagian dari cara kerjanya kok. semua org ada mood masing2 aja. jadi plis kalo udh pake promo jgn ribet request ini itu
yang kesel karna gajadi berangkat ke ranu kumbolo harusnya bersyukur di kasih selamat tanpa kepanikan. ranu kumbolo tetap di situ dan akan makin indah. seharusnya yg kesel dan marah itu warga desa sekitar karna mereka kehilangan tempat tinggal bahkan mungkin keluarga saudara.
WE FOUND IT! We trekked day and night through tiger-patrolled Sumatran rainforests accessible only under permit for this: Rafflesia hasseltii. Few people have ever seen this flower, and we watched it open by night. Magic.
tai anjing warganya juga org udh minta tolong naikin ke motor. kalo pekara takut jadi pelaku. pelaku udh kalian tangkep tai. warga culun apa bedanya sm gangster yg keroyokan.
Diduga akibat salah paham, seorang pemuda tewas ditusuk di gang di kawasan Condet, Cililitan, Jakarta Timur, Senin (17/11) sore.
Warga kemudian melaporkan peristiwa itu ke pihak kepolisian.
Terduga pelaku yang ditahan warga agar tidak melarikan diri pun langsung dibawa ke kantor polisi.
Diduga akibat salah paham, seorang pemuda tewas ditusuk di gang di kawasan Condet, Cililitan, Jakarta Timur, Senin (17/11) sore.
Warga kemudian melaporkan peristiwa itu ke pihak kepolisian.
Terduga pelaku yang ditahan warga agar tidak melarikan diri pun langsung dibawa ke kantor polisi.