pelajaran yang gua dapet tahun ini:
"lo gabisa marah sama seseorang karena dia memilih keputusan yang dia anggap terbaik. walaupun itu artinya dia ga milih lo."
tau gak kenapa lo bisa sesakit itu? karena cinta lo itu tulus. gaada strategi, gaada perhitungan, lo cuma sayang dan memberikan semuanya dengan hati yg terbuka. tpi ternyata? semua itu jatuh ke tangan orang yang gatau cara menghargainya
kehilangan spark itu aneh. km masih jadi diri sendiri, tapi rasanya udah gak sehidup dulu. losing your spark slowly is scarier than being sad all at once.
Gw baru dapet insight yg lumayan nampar dari seorang psikiater.
Kalau lo ngerasa punya pattern kayak gini:
• Gampang banget baper
• Refleks menyendiri/ngilang pas lagi stres
• Perfeksionis parah, TAPI di saat yang sama hobi banget nunda kerjaan...
Seporsi adab:
Pas lo udah mulai ngerasa dihindari seseorang, just walk away quietly. Jangan ganggu dia lagi.
Gak perlu nanya alasan atau maksa minta kejelasan. Penolakan halus tuh bentuknya emang jarak. Keep your self-respectdan biarin orang yang mau pergi, ya pergi aja.
orang-orang bilang "if he wanted, he would"
aku pegang banget kata-kata itu, until my psychologist said:
"mungkin bukan dia gak sayang kamu, but simply because he is not ready baik psikologis, financial, maupun emosional. jadi belajar bertemu di tengah, ya? cause sometimes, it's not just if he wants, he would. it's also if you love him, you will learn to understand from his side. we're human, after all."