@MISCXCEPTION Tentu, diantara gelagatnya, desperasi terlihat diantara telapak tangan tatkala rupanya genggaman pada kertas-kertas itu mengerat tiap detik yang berlalu.
|| @MISCXCEPTION
@MISCXCEPTION "Maaf," sudah keberapa hari ini?
"Ini sudah hampir beres kok. Nggak perlu repot-repot. Toh kamu juga capek, 'kan? Masa iya sekarang malah beres-beres."
Merayu dan terus merayu. Berusaha untuk meluluhkan hati Fael. Hati kecilnya berharap supaya sang tuan mau mundur dan mengalah.
@MISCXCEPTION Natha masih mengusahakan untuk meraih sebanyak mungkin pakaian yang dirinya lempar sembarang di atas ranjang. Repot sih. Tetapi ia lebih tidak mau kalau sampai Fael tidak nyaman di kamarnya. Rasa bersalahnya bisa permanen mah!
|| @MISCXCEPTION
@MISCXCEPTION "Maaf, maaf. Kalau aja aku tau kamu bakal kesini pasti ku beresin."
"Dan..."
"Tentu saja! S-sebentar. Biar aku pindahkan baju-bajunya ke tempat cucian." Ia terlihat sedikit kewalahan. Dengan sekian banyak tumpuk kertas yang saat ini ia genggam,
@MISCXCEPTION Mungkin lebih parah lagi. Saking banyaknya kebohongan yang diucapkan ia sampai lupa mana rangkaian kebohongan yang harus dirinya teruskan agar menjadi 'kenyataan yang diterima'?
|| @MISCXCEPTION
@MISCXCEPTION Kalau begitu yang ada Fael jadi semakin tahu kalau kamu belum tidur! Ya ampun. Anak ini benar-benar bukan pembohong yang handal, ya?
Atau mungkin... Ia terlalu banyak berbohong sampai lupa mana yang harus ia balur dengan dusta dan yang mana yang tidak.
@MISCXCEPTION Hati-hati juga dengan sisa mie cup dan juga kertas penuh coretan yang ditebar ke setiap sudut kamar. Kalau tergelincir bisa mampus!
Di satu sisi, Natha mustahil menawarkan Fael sekadar sofanya ini. Sedikit ia berpikir untuk buru-buru menata kamarnya sebelum mempersilakan Fael