Maksudku, untuk apalah aku kerja gila2an, ambil proyek freelance sana-sini, lembur terus, nyari kerjaan baru terus, hanya demi "reward" berupa barang mahal, mobil, HP, & liburan mahal? Orang lain mungkin suka & ya itu hak mereka lah ya, tapi buat aku sendiri? Jujur aku tak tahan kerja sebanyak itu; Otak rasanya penuh, mau meledak; Di kantor kerja barang kantor, di rumah kerja freelance; Gila rasanya. Di sekian bulan awal mungkin aku semangat, tapi lama-lama aku akan muak, otak rasanya penuh. Mau istirahat pun, tetap mikir cicilan dan lain2, terutama yang kucicil buat barang2 tersebut
Energi pun rasanya habis di setiap saat; Main game pun tak nikmat, baca buku pun tak enak. Liburan mahalnya pun rasanya cuma menyembuhkan sesaat saja. Habis libur, kerjaan yang menumpuk menanti! Setelah seminggu berlalu pun, kebahagiaan dari liburannya pudar, dan pikiran soal cicilan kembali lagi. Apapun rasanya tak bisa menyembuhkan rasa capek dari kerjaan yang terlalu banyak; Game pun rasanya hambar, hangout pun rasanya capek. Atas dasar inilah aku pikir, lebih baik aku nikmati yang sedang2 aja. Makan yang biasa2 aja, beli baju yang biasa2 aja, pakai HP yang sedang2 aja. Makan enaknya sebulan atau dua bulan sekali; It's okay. Yang kubaguskan ya cuma yang tertentu2 saja, misal, laptop (karena perlu buat kerja)
Lagipula ya, kalau dipikir2, kalau aku membiasakan diri dengan yang mahal, lama2 pun ia akan jadi normal. Makanan mahal yang awalnya "wow", lama2 jadi biasa; Jajanan yang awalnya mewah, lama2 pun jadi terasa normal. Lama2 diriku pun jadi akan pengen yang lebih mahal lagi untuk "self-reward", dan untuk membiayai ini, aku perlu kerja lebih banyak lagi. Karena kerja lebih banyak lagi itu, aku pun jadi lebis stress, dan merasa perlu reward yang lebih besar lagi, dan seterusnya. Aku yakin, akan ada satu titik di mana aku tak mampu lagi mengejar; Tak mampu lagi kerja sebanyak itu. Andai aku berdiam saja pada level hidup yang sekarang, masalah2 itu tak akan terjadi
Masa bodohlah diriku kalau aku dibilang tidak ambisius, atau tak punya "tujuan". Buat apa punya tujuan, dan segala macam mimpi, kalau memang kesehatan mentalku sendiri harus dikorbankan untuknya? Untuk apa membuat diri stress supaya bisa liburan? Untuk apa? Kalau orang ternyata lain bisa mengejarnya tanpa masalah, ya itu terserah mereka. Kalau orang lain merasa pengorbanan itu sebanding dengan hadiahnya, itu hak mereka. Aku bukan mereka; Mereka pun bukan aku. Kalau aku, aku tak merasa itu sebanding
Dan the reason yang Allah gerakkan hati kita untuk berdoa adalah sebab dia nak makbulkan doa kita, begitu permurahnya Allah, semua yang meminta padanya takkan pulang dengan tangan kosong
Satu syarat sahaja, minta hanya kepada Allah
Tampoco se crean la idea de que las mujeres comenzamos a trabajar en los 70s, las mujeres SIEMPRE hemos trabajado, dentro y fuera del hogar.
No me digan que ninguna de aquí tenía una abuela/bisabuela que trabajaba el campo, era costurera, vendía comida, lavaba ajeno, etc.
Tentang catcall, laki-laki brengsek tuh mikir itu bukan suatu bentuk kekerasan. (Sorry pake explicit language)
Aku pernah lagi jalan di trotoar, dicatcall abang ojol. Tak samperin langsung ☺️ dengan darah hampir mendidih.
“Ada apa manggil2?”
“Oh, gapapa. Mbanya cantik”
“Bang, tau nggak? Itu salah satu bentuk kekerasan seksual scr verbal”
“Loh, kan saya muji?!”
“Saya gak merasa aman ada orang asing ternyata ngeliatin fisik saya dan ngomong kayak gitu”
“Loh, kalo saya sih seneng dipuji gitu ya”
Aku sempat berantem agak lama karena orang bebal ini gak bisa menempatkan dirinya di perspektif org lain. Dan ujungnya? Dia tetep gak terima 😊
Buat dia, catcalling itu PUJIAN. Sementara, buat perempuan itu menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman.
Memang kita tuh butuh laki2 yang berani ngecall out sesama lelaki lain, kalo itu tuh sesuatu yang bikin orang lain merasa tidak aman. Jadi, jangan dilakukan.
Masalahnya, berapa banyak lelaki ngecall out temen2nya sendiri scr tegas yang berbuat kayak gitu?