@theaudway Di mesin juga sama. Ada MK penelitian, ada proyek desain sebagai tugas akhir.
Di jurusan lain kayake juga seperti ini, misal di teknik kimia pas jamanku malah udah ga ada skripsi, adanya perancangan pabrik teknik kimia (tapi tetep ada penelitian)
@theaudway aku iseng ngecek akun yahoo-ku masih ada apa gak. ternyata masih ada wkwkwk...
sayang username-nya terlalu alay wkwkwk
tapi keknya bisa buat second akun IG atau thread hehehe
@NikolaTieko dan hampir semua IPK-nya cumlaude.
sementara di periode berikutnya (Agustus), rata-rata IPK mulai turun dan mulai bervariasi antara 3,25 - 3,80
periode November bakal turun lagi, meskipun rata-rata IPKnya masih berkisaran 3,5. Periode Februari turun lagi, tapi gak signifikan.
@NikolaTieko Kalau melihat trendnya, wisuda periode mei bakal lebih banyak yang cumlaude dan rata-rata IPK paling tinggi dibanding periode lainnya (ini based on data di kampus saya). kenapa? karena mostly yang wisuda Mei ini adalah yg top tier-nya, yang mereka lulus kurang dari 3 th 7 bln.
@LambeSahamjja ini wisuda periode Mei ya?
biasanya memang wisuda di periode Mei ini lebih banyak yang cumlaude, karena kebanyakan yang lulus di periode ini adalah mereka yang lulusnya 3,5-4 tahun yang biasanya IPKnya udah banyak yg di atas 3,5.
@khanifirsyad kalau sudah menikah, urusan dapur dan rumah tangga sudah jadi urusan sendiri, bukan lagi urusan keluarga besar, apalagi netizen. hindari mengumbar apapun urusan rumah tangga, bahkan ke orang tua. karena ketika sudah memutuskan menikah, ya itu sudah bukan urusan orang tua lagi.
dan kurikulum merdeka itu makhluk aneh, dicoba 2021, naskah akademiknya baru dibuat 2024. Jadi 2021-2024, kurikulum dicoba tanpa dalil ilmiah.
Dalam naskah akademiknya sendiri diakui bahwa ada peningkatan literasi disebabkan kurikulum darurat. Yang mana kurikulum Darurat itu adalah K13 yang disederhanakan/ materinya dikurangi mengingat jam belajar mengecil karena pandemik.
Kalau demikian, kenapa kurikulum darurat tidak dilanjut? malah tiba2 disebut kita butuh kurikulum Merdeka. Dari situ saja melompat. Padahal kerangka k13 itu berbeda jauh dengan Kurmer.
Namun tetap dipaksa, kalau anda jadi guru 2021-2024, merasakan betapa bingungnya kurikulum tanpa acuan jelas ini, isinya (CP) berubah berkali-kali setiap tahun.
Tidak semua guru menyadari itu bahkan ada guru2 yang masih menggunakan CP yang kadaluarsa hanya beda 1 tahun.
Karena apa? produk kurikulum yang belum selesai, dipaksa diimplementasikan. Demi kurikulum, dibuat dua program penopang: Sekolah penggerak dan Guru Penggerak. Mereka gak peduli kita lagi pandemik.
Artinya agenda ini sudah dibuat sebelum pandemik. Base on percakapan wa yang dibuka jaksa melalui kasus Chromebook. Justru menjadi terang benderang bahwa mereka gak peduli pandemik, program harus tetap jalan.
Oleh sebab itu Asesmen Nasional yang jelas-jelas tidak dibutuhkan pada waktu pandemik 2021, tetap dipaksa demi program yang sudah direncanakan. Dan pandemik tidak menghentikan mereka untuk menundanya.
Jadi harga nyawa dan pertaruhan pendidikan kita itu murah dibandingkan program yang mereka anggap harus diutamakan: disitulah menurut saya kejahatannya. Sayangnya, menurut saya, persidangan kasus Chromebook tidak bisa menampilkan itu semua. Ini atas nama pendidikan, bukan satu dua orang.
Tau gak? Waktu guru-guru panik karena Draf RUU Sisdiknas 2022 menghilangkan pasal-pasal tunjangan profesi guru, dan dikejar-kejar 78 aplikasi, Maudy ada di Bali jadi jubir Education Working Group G-20, haha hihi merayakan digitalisasi pendidikan.
Sudah menjadi nostalgia bagi saya, penderitaan guru disapu oleh influencer papan atas.
@theaudway@ardisatriawan wah yang kurikulum merdeka ini beneran yang dirusak banyak hal sih, imo...
salah satu efeknya, banyak maba semester 1-2 yang ajur-ajuran di mata kuliah dasar, karena ternyata banyak yang di SMA belum ambil matematika dan (bahkan) fisika.
belum lagi MBKM... wis mbuh lah
@Randomsapiens27 gak cuma ITB aja sih...
kayaknya di UGM juga begitu. pas semester 1-2 lha kok disuruh ambil kuliah dasar bangsanya matematika, kimia, fisika...
underestimate banget sih UGM. tapi saya gak merasa terhina kayak aw.ahpg.nds, sih...
Pengalaman ngajar matrikulasi statistika untuk mahasiswa S2, saya mendapati buanyak banget yang salah konsep terkait statistika. Sebutlah, terima H nol, uji koefisien determinasi (tahu lah dari buku mana ini), salah makai uji statistik, dll, itu banyak banget.
Diminta ambil kuliah di S1 (di ITB) atau matrikulasi yang belajar lagi materi S1 itu bukan diskriminasi ataupun underestimate. Tapi lebih ke arah “meluruskan” konsep yang bisa jadi pas dipelajari di S1 asalnya kurang tepat.