@ARSIPAJA Duhh responnya, btw guys ini tuh Puteri Indonesia emang lagi karantina dan salah satu agendanya emang gandeng KPK, udah dari dulu gitu bukan 'dadakan' atau yang gimana²
Sisi Lain dari Ali Larijani yang jarang diketahui
✍️ Fa’ezeh Ghaffar Haddadi
Tulisan ini saya buat berdasarkan pertemuan dua jam yang sangat berkesan dengan Ibu Faridah (istri Ali Larijani). Pertemuan itu terjadi beberapa bulan lalu, pada suatu sore musim gugur di rumah mereka. Awalnya kami ingin berbincang tentang ibunya, namun sepanjang percakapan, nama “Ali” tak pernah lepas dari lisannya.
Ia berkata:
“Kalau Ali tidak di rumah, rasanya seperti tangan saya terpotong! Kalau Ali ada, semua pekerjaan rumah dia yang lakukan tanpa saya minta. Belanjaan dia yang bereskan, sayur dan ayam dia yang bersihkan, piring dia yang cuci...”
Saya sampai terdiam. Bagaimana mungkin seorang pria yang di luar rumah memikul keamanan nasional Iran, di dalam rumah bisa membersihkan ayam dan mencuci piring?
Kemudian saya mengerti, semua itu terjadi hanya ketika “Ali berada di rumah”… dan Ali sudah enam bulan tidak pulang. Sejak perang dua belas hari itu, ia tak lagi diizinkan menjalani kehidupan normal.
Seorang pria yang bahkan oleh kekuatan-kekuatan besar dunia ditetapkan hadiah untuk membunuhnya ternyata adalah seorang pecinta sejati, berhati muda, namun berkepribadian matang dan penuh ketenangan. Bahkan sejak muda pun, “ia sudah matang.”
Saat usianya belum genap dua puluh tahun, ia melamar Faridah. Ayah Faridah adalah Ayatullah Murthada Muthahari ulama besar dan tokoh utama penggerak revolusi. Ia setuju dengan lamaram tersebut, namun istrinya sempat ragu dan bertanya: “Bukankah dia masih begitu muda?”
Murtadha Mutahhari menjawab: “Tidak. Saya sudah berbicara dan mengajaknya berdiskusi. Pemikirannya sudah matang.”
Ayatullah Muthahari bahkan menyampaikan kabar pernikahan putrinya dengan putra Ayatullah Amoli kepada Imam Khomeini, dan melihat kebahagiaan Imam bahwa seorang anak ulama menikah dengan anak ulama lainnya.
Secara ekonomi, keluarga Ali lebih berada, mereka memiliki banyak tanah dan ternak di utara. Rumah yang disiapkan untuk kehidupan mereka pun sangat besar, hingga Ayatullah Mutahhari harus membeli dua set sofa dan dua karpet untuk mengisi ruang kosongnya.
Dan menariknya, perabot itulah yang hingga kini masih digunakan di rumah mereka. Tidak ada furnitur lain selain yang dibeli oleh Syahid Mutahhari empat puluh tahun lalu.
Hal ini tidak mengherankan.
Faridah berkata:
“Ali tidak pernah mengambil gaji dari parlemen maupun dari jabatan-jabatan lainnya. Selama bertahun-tahun, penghasilannya hanya sekitar empat puluh juta toman sebagai dosen universitas dan bahkan dari itu pun sebagian ia kembalikan ke baitul mal agar tidak merasa berhutang.”
Ia juga bercerita, ketika mereka membutuhkan uang saat membeli rumah, putrinya sempat menyarankan:
“Papa, kenapa tidak ambil saja gaji tertunggak dari parlemen?”
Namun Ali menolak dan berkata:
“Kita sangat berhutang kepada negeri ini. Saya tidak punya hak untuk menuntut apa pun.”
Padahal ia adalah orang yang sejak awal revolusi tak pernah menikmati kenyamanan, selalu berjuang dan bekerja untuk Iran. Namun yang ia terima justru sering berupa ketidakadilan, tuduhan, dan kecemburuan.
Faridah berkata: “Setelah ia didiskualifikasi dalam pemilu, banyak orang datang berhari-hari, duduk di kursi yang sama seperti Anda sekarang, meminta dia untuk protes, membela diri, menulis surat terbuka, mengajukan keluhan...”
Ia mendengarkan semua dengan tenang, lalu mengantar tamunya dengan hormat, sambil berkata: “InsyaAllah semuanya akan membaik. Saya tidak bisa membebani sistem dengan persoalan tambahan.”
Namun ia sangat tahu bagaimana membela sistem seperti seorang petarung besar yang tahu kapan dan bagaimana menjawab tantangan lawan dengan telak.
Siapa yang menyangka, pria yang matang secara politik itu begitu lembut di hadapan anak-anak? Bahkan di masa ia tidak diizinkan pulang, jika beberapa minggu tidak bertemu cucunya, ia menjadi sedih dan merindukan.
Ia sangat menyayangi semua anak dalam keluarga termasuk anak-anaknya sendiri. Namun...
(Lanjut di komen)
Istri alm. Ali Larijani pernah berkata:
"Saat Ali tidak di rumah, saya merasa tak berdaya! Saat ia di rumah, ia melakukan semua pekerjaan rumah tanpa diminta; belanja.., mencuci…"
Seorang pria yang bertugas melindungi negara bisa juga menjadi seorang penyayang di rumah. 🤍