@sarahnatasyah_ ada kak ada bangett, sebelum aku berangkat kerja dia pagi2 udah nungguin depan rumah dan pinjem duit akupun gak kasih tp maksa bgt, nyebelin bgt
life-time strugglenya perempuan kayaknya emang belajar how to manage her emotions ya.
terus menerus belajar mengelola rasa sedih, marah, kecewa, rasa gak layak, rasa sendiri, cemas, malu, frustrasi, dan ketidak nyamanan lainnya.
belajar gak ngasih ruang buat syaitan yang terus berusaha bikin kita putus asa. sampai lupa kalau kita adalah hamba Allah yang berharga, yang setiap detiknya masih diberi nikmat, diberi kesempatan, dan dipilih untuk berbuat baik.
may Allah be with you through all your ups and downs.
Temen gue, Tasya, resign minggu lalu dari bank tempat dia jadi teller. Gaji Rp5,8 juta. Cabang deket rumah, jalan kaki 15 menit. Posisi yang dulu dia perjuangin banget pas psikotes berkali-kali gagal di bank lain. Semua orang bilang dia keburu-buru. Terus dia nunjukin satu rekaman suara ke gue. Gue langsung diem pas dengerin.
Isinya rekaman briefing pagi sama kepala cabangnya. "Tasya, kamu tuh saya angkat dari CS ke teller karena kasian, bukan karena kamu emang mampu." Padahal kata Tasya, dia yang paling jarang selisih kas se-cabang, track record-nya paling bersih dari semua teller. Dan itu bukan kali pertama kepala cabangnya ngomong gitu di depan orang lain.
Gue tanya, "Udah berapa lama kayak gitu?" "Hampir 2 tahun." "Lo diem aja?" "Awalnya gue pikir emang gue yang kurang capable. Temen-temen bilang dia emang gitu ke semua orang, biar pada gak lengah." Kalimat "biar pada gak lengah" itu yang bikin gue kesel denger. Karena itu kalimat yang sering dipake buat ngebenerin cara ngomong yang ngerendahin orang di depan umum.
Tasya cerita pola yang dia alamin hampir 2 tahun: Antrian numpuk karena sistem lemot, disalahin ke Tasya di depan nasabah. Tasya lembur closing kas sampe akurat sampe rupiah, besoknya yang dipuji ke kantor pusat "kepemimpinan" kepala cabangnya. Tiap Tasya diminta ngajarin teller baru, tiba-tiba ada omongan dia "sok senior". Satu-satu keliatan biasa. Digabung, itu pola yang sama tiap ada penilaian kinerja bulanan.
Yang paling ngeri bukan omongannya. Tapi efeknya ke Tasya pelan-pelan. Dari yang pede ngitung transaksi gede, jadi dobel-tiga kali ngecek takut salah walau udah bener. Dari yang tenang ketemu nasabah rewel, jadi gampang gemeteran duluan sebelum shift mulai. Tiga bulan terakhir dia mulai kena maag, padahal makannya teratur. Suaminya yang notice, "Kamu tidur kok gak nyenyak terus tiap malem Minggu?"
Tasya sempet coba semua cara. Ngomong langsung: dijawab "kok gitu doang baper, kamu harus lebih kuat mental kalau mau naik jabatan." Lapor ke HR area: dibilang "kita perlu data konkret, bukan cuma perasaan." Minta pindah cabang: ditolak, katanya "cabang ini lagi butuh kamu." Sistemnya gak lupa. Sistemnya emang lebih gampang nahan Tasya daripada negur kepala cabangnya.
Titik baliknya sepele banget. Tasya lagi beresin folder penilaian kinerja tahunan. Dia baru sadar, 2 tahun jadi teller, nilai kinerjanya selalu "baik", gak pernah "sangat baik" β padahal track record kas paling bersih se-cabang. Dia itung, ada minimal 8 kali momen dia yang nyelametin cabang dari komplain nasabah, tapi gak pernah nongol di catatan penilaian.
Sebelum resign, Tasya lakuin 3 hal: Pertama, dia simpen semua bukti. Rekaman, catatan kas harian, tanggal kejadian. Biar dia percaya sama kerjaannya sendiri. Kedua, dia mulai belajar sertifikasi keuangan lewat β¦ modal pengalaman teller yang udah dia punya β biar CV-nya naik level, bukan cuma "pernah jadi teller." Ketiga, dia resign setelah lolos seleksi di tempat baru dan tabungan cukup 5 bulan.
Sekarang, 2 bulan setelah resign, Tasya kerja di posisi yang lebih tinggi di lembaga keuangan lain. Gaji Rp7,3 juta, dan yang paling penting, penilaian kinerjanya jelas, terukur, bukan tergantung mood atasan. Katanya, "Yang paling gue syukurin bukan gajinya doang. Sekarang gue kerja tanpa was-was tiap ada briefing pagi. Itu yang paling berharga." Dia gak nyuruh semua orang resign kayak dia. Dia cuma bilang, jangan tunggu sampe lo ngerasa gak layak buat hal yang sebenernya lo kuasain banget.
Sebelum lo scroll, cek diri lo sendiri: Ada gak atasan yang bikin lo ragu sama kemampuan lo sendiri, padahal hasil kerja lo jelas bagus? Lo sering ngerasa "mungkin emang gue yang kurang" padahal buktinya nunjukin sebaliknya? Kalau iya, itu bukan lo yang kurang percaya diri. Itu sinyal. Jangan buru-buru bilang "ah gue aja yang insecure."
Share ini ke temen lo yang tiap abis dinilai atasannya jadi ragu sama kemampuan sendiri. Kadang yang dia butuhin bukan nasihat. Tapi tau bahwa dia gak sendirian dan gak salah.
cc : anisarahmitaaa
Jadi Lahir sebagai laki-laki atau perempuan bermula dari satu pertemuan 2 sel yg membawa pesan masing2 namun menentukan seluruh perjalanan hidup.
Dan dari sini kita belajar satu hal penting.
Kurang tepat jika ada suami menyalahkan istri ketika bayi yg lahir tidak sesuai yg dia inginkan.
Seorang ibu sudah membawa, menjaga, memberi makan, dan mempertaruhkan tubuhnya selama sembilan bulan.
Laki-laki atau perempuan, keduanya tetap amanah.
Keduanya datang membawa masa depan.
Keduanya berhak disambut dengan cinta yang sama besar.
Ternyata skill mahal yang harus di kuasai di usia 20-30an adalah skill mengatur suasana hati dan emosi. Jangan apa-apa di baperin. pls don't expect too much, manusia bisa berubah kapan aja. Hari ini suka, besok bisa tidak. Semua bisa hilang, semua bisa pergi kapan aja.