@agngw_ udah sempat pake claude dan chatgpt (codex) untuk keperluan daily sama coding overall kalau perlu yg model jago dan pinter bgt pilih claude tapi boros, kalau mau lebih casual pake codex
sekarang lebih nyaman pake chatgpt (codex) sih krn support voice bhs indo.
Banyak orang heran kenapa mereka udah kerja mati matian tapi saldo rekeningnya berasa jalan di tempat. Padahal masalahnya bukan kurang usaha, tapi target pasarnya yang salah total.
Alex Hormozi kasih tamparan keras soal gimana distribusi uang sebenernya bekerja dan kenapa kita sering terjebak di segmen yang salah banget.
Bayangin kalo seluruh kekayaan di dunia ini cuma $100. Golongan 50% terbawah itu cuma megang total $2. Bayangin, cuma dua dollar buat setengah populasi! Terus, ada jutaan orang termasuk lo yang berebut jatah di kue seupil itu.
Kompetisinya gila gilaan dan banting bantingan harga, padahal uangnya emang nggak ada. Di sisi lain, ada cuma 1% orang paling atas yang megang lebih dari $30 sendirian.
Poinnya simpel: Kalau mau duit banyak, pergilah ke tempat duit itu ngumpul, bukan nungguin di kolam yang udah kering.
Kesalahan fatal kita adalah sering jualan pakai standar dompet sendiri. Kita pikir barang kita kemahalan karena buat kita itu mahal. Padahal buat orang kaya, mereka nggak liat nominal nolnya, mereka cuma liat value.
Mereka nggak butuh yang murah, mereka butuh yang cepet, gampang, dan ada garansinya. Waktu mereka jauh lebih berharga daripada uang. Kalau lo nawarin barang murah ke orang kaya, mereka malah curiga itu produk sampah.
Alex kasih rumus pricing: Bikin tier harga yang bedanya 5 sampai 10 kali lipat. Misal produk basic harganya $10, tier selanjutnya langsung $100. Tier atasnya lagi? Langsung $1.000.
Mungkin cuma dikit yang ambil, tapi profitnya berlipat lipat dengan operasional yang jauh lebih kecil. Jual ke satu orang yang bayar mahal itu jauh lebih gampang daripada ngurusin seribu orang murah yang nuntutnya ribet banget.
Bisnis itu bukan soal siapa yang paling banyak dapet kata Yes, tapi siapa yang dapet profit nyata. Kalau lo masih takut naikin harga, mungkin lo emang belum siap jadi kaya.
Jualan ke orang kaya itu soal mindset buat berhenti mikirin recehan dan mulai fokus ke value yang beneran gede buat mereka.
@Kudabajingan Harusnya pemerintah yang gerak, tapi selama ini dibiarkan karena dianggap menyerap tenaga kerja. Padahal itu bukan solusi, itu pembiaran. Kalau lahan milik orang lain bisa diklaim seenaknya tanpa konsekuensi, ya bakal terus begini.
@saputraricky203 Pola pikir iya, tapi jangan lupain konteks. Orang yang dari kecil keluarganya susah, energinya habis buat survive dulu sebelum sempat mikir soal "berkembang". Mindset itu butuh modal juga, minimal rasa aman yang cukup buat berani ambil risiko.
Setuju. Bisnis kecil yang harusnya untung malah kena potongan tak resmi tiap hari. Konsumen juga males balik karena ngerasa dipalakin. Yang rugi bukan cuma pemilik usaha, tapi ekosistem sekitarnya. Dan ironisnya, ini dibiarkan karena dianggap "solusi pengangguran" padahal cuma mindahin masalah, bukan nyelesinnya.
Bank untung justru dari orang yang ngutang melebihi kemampuannya. Makanya limit dikasih gede bukan karena baik hati, tapi karena semakin besar utang lo, semakin besar bunga yang mereka kumpulin.
Mereka juga udah tau secara statistik bahwa mayoritas orang overestimate kemampuan bayarnya sendiri. Lo ngerasa "ah gaji segini pasti cukup", padahal belum ngitung kebutuhan tak terduga, gaya hidup yang naik setelah duit cair, dan psikologi manusia yang emang susah nolak kalau ada uang di tangan.
Sistemnya emang dirancang supaya lo tetap di dalam siklus itu selama mungkin.
@angga_fzn Kebanyakan orang stuck di level 1 seumur hidup karena nggak ngerti cara naik ke level berikutnya. Padahal urutannya jelas: kerja keras dulu, tapi jangan lupa alokasikan sebagian hasilnya buat beli aset. Tujuannya satu, suatu hari pengeluaran lo ditanggung sama uang lo sendiri.
@vyowiz_ Bener banget. Justru yang paling cepet balik rezekinya tuh dari orang tua. Jangan tunggu "nanti kalau udah mapan", mulai dari yang bisa aja dulu.
Banyak orang tua zaman sekarang pengen banget jadi "bestie" buat anak-anaknya.
Tapi di video ini, Dr. Tirta malah ngambil jalan sebaliknya. Dr. Tirta dengan sadar lebih milih dibenci sama anaknya sendiri, setidaknya sampai mereka umur 15 tahun.
Kenapa? Karena Dr. Tirta paham betul, dunia nyata itu nggak seindah dongeng.
Sebagai ayah, Dr. Tirta ngambil peran jadi "bad cop". Dari umur 6 tahun, anaknya udah kena sistem reward & punishment ketat. Nggak ada ceritanya anak orang kaya bisa hidup santai.
Buat Dr. Tirta, nilai 80 itu jelek, standar minimal harus 90. Ambisi dan target hidup udah ditanamkan Dr. Tirta sejak dini, persis kayak didikan kompetitif dari bapaknya dulu.
Bahkan, Dr. Tirta sengaja bawa anaknya ke kantor buat ngelihat langsung timnya yang lagi nyuci sepatu. Tujuannya simpel Dr. Tirta pengen anaknya paham dari mana uang datang, susahnya nyari duit, dan biar mereka bisa ngehargain level pekerja di bawahnya tanpa mandang status kekayaan.
Dr. Tirta percaya sama prinsip berlian. Berlian cuma bisa berkilau luar biasa karena ditekan terus-terusan.
Anak-anak Dr. Tirta emang lahir dengan privilege dan harta. Tapi kalau tiba-tiba dr. Tirta meninggal, terus mereka kaget ngadepin susahnya nyari uang gimana? Daripada hancur dihajar kejamnya dunia nanti, mending dihajar pressure sama Dr. Tirta dari sekarang. Tujuan Dr. Tirta cuma satu: biar mental anaknya jadi baja dan survive dalam kondisi terburuk.
Lulusan Geologi ITB ditawarin gaji 2 digit di tambang Papua, tapi malah milih jadi anak magang gaji 350 ribu.
Banyak yang nggak tahu, Rizki Arif (founder HMNS) sebenernya sempat "mengubur" sisi kreatifnya demi ekspektasi orang tua. Dia lari ke dunia akademik dan sains biar dianggap punya masa depan stabil, sampai akhirnya tembus ke jurusan bergengsi di ITB.
Tapi pas lulus, dia justru ambil keputusan paling nekat: "Berkhianat" dari ijazahnya sendiri. Dia nolak kemapanan di industri tambang dan milih magang di brand sepatu cuma buat belajar cara bercerita (storytelling) dan marketing dari nol.
Dia kasih janji ke orang tuanya: "Kasih Rizki waktu setahun, kalau nggak berhasil, Rizki balik ke tambang."
Struggle-nya makin nyata pas mulai bangun HMNS:
> Modal Seadanya: Cuma punya tabungan 10 juta. 8 juta buat modal bisnis, 2 juta sisanya buat nyambung hidup.
> Taktik Survival: Karena nggak punya duit buat produksi ribuan botol, dia nego mati-matian ke vendor biar mau jalanin MOQ 100 botol aja.
> Cashflow dari PO: Dia pakai sistem pre-order buat dapet modal produksi dari pembeli duluan. Skill nulisnya yang dulu sempat dia sembunyiin, malah jadi senjata utama buat bikin orang percaya sama brand baru ini.
Hasilnya?
HMNS bukan cuma jadi brand parfum lokal yang viral, tapi berhasil nembus pasar Malaysia, Vietnam, sampai Singapura. Dia bahkan balik ke ITB bukan sebagai alumni yang cari kerja, tapi sebagai partner kolaborasi riset teknologi parfum bareng tim Farmasi ITB.
Dia buktiin kalau latar belakang pendidikan nggak harus jadi penjara buat mimpi. Kadang, melepaskan "jalur aman" adalah satu-satunya cara buat lompat lebih jauh.
Kalo lo udah punya ijazah mentereng di tangan, berani nggak ngelepas gengsi buat mulai lagi dari nol demi sesuatu yang lo suka?
Tonton Podcast lengkapnya disini:
https://t.co/fWN8WJWtwP
Jerome Polin bawa nama & kontennya buat Menantea bareng partner βsesepuhβ F&B.
Mulai 2021: toko pertama langsung rame, franchise laris.
Jerome handle branding & konten, partner pegang operasional + keuangan full.
Tiap bulan partner kirim laporan Excel yang selalu hijau. Penjualan bagus, cabang bertambah, Jerome percaya aja tanpa pernah cek mutasi bank sendiri.
Tahun 2023, partner tiba-tiba bilang βuang perusahaan habis, kondisi jelekβ.
Jerome kaget berat. Dari luar bisnis keliatan solid.
Pas diselidiki, ternyata sejak awal berdiri, uang franchise dari mitra + profit perusahaan total 38 miliar pelan-pelan dipindahin ke rekening pribadi partner buat kepentingan pribadi.
Akhirnya Menantea tutup permanen. Jerome & Jehian harus takeover sendiri, tanggung jawab ke supplier & mitra yang tersisa.
Pelajaran paling sakit buat yang mau franchise atau bisnis bareng orang:
Jangan kasih kendali duit 100% ke partner,
meski dia keliatan berpengalaman, rajin laporan, atau punya nama di industri.
Excel bisa dibuat cantik.
Mutasi bank nggak pernah bohong.
Trust itu penting,
tapi blind trust di bisnis Indonesia = bom waktu buat dompet bolong parah.
Lo gimana?
Pernah hampir atau beneran kena kasus serupa pas franchise atau join bisnis? Atau ada tips verifikasi biar nggak gampang ketipu?
Nah, kalau lo mau mulai coba strategi ini tapi masih bingung gimana cara screening saham yang oke buat dividen, mending baca-baca dulu dasar analisisnya.
Biar nggak asal "nyemplung" pas liat yield gede padahal perusahaannya lagi nggak sehat.
Gue ada nemu buku yang ngebantu banget buat mahamin dasar-dasar saham sampai cara analisa fundamental yang simpel buat pemula.
Cek bukunya di sini ya: https://t.co/YpVT6aAKOk
Atau tonton video lengkap Raditya Dika & Todo di sini:
https://t.co/raO1t6sU79
Banyak orang terjebak ngejar saham multibagger demi cepat kaya, padahal strategi itu seringnya cuma bikin susah tidur tiap malam.
Ternyata ada cara yang jauh lebih tenang: Dividend Investing.
Isi video ini ngebongkar gimana cara nyusun portofolio saham supaya bisa dapet gajian rutin setiap bulan. Kuncinya bukan cuma beli dan simpan, tapi pinter nyocokin jadwal bagi dividen dari berbagai perusahaan yang beda beda.
Fokusnya bergeser total.
Bukan lagi stres liatin chart naik turun, tapi fokus ke cash flow yang masuk ke rekening. Karena di dunia investasi, cash is king tapi cash flow is queen.
Dengan dividen rutin, investor punya fleksibilitas luar biasa. Bisa buat reinvest, modal usaha, atau sekadar biaya hidup tanpa perlu jual aset utama pas market lagi merah merahnya.
Menurut lo, mending dapet cuan jackpot sekali sekali tapi bikin jantungan, atau dapet gajian rutin yang pasti masuk tiap bulan?