Di podcast ini Cafu mengenang betapa gilanya Alexander Pato saat tiba di Milan.
Bek sekelas Maldini, Nesta, Kaladze dan ia sendiri merasa kewalahan saat berhadapan dengan Pato di sesi latihan.
Kaki kanan mantep, kaki kiri jos, sundulan kepalanya juga tokcer.
Mereka semua sepakat bahwa Pato adalah salah satu striker Brazil dan Milan yang paling komplit yang pernah mereka saksikan.
Cafu juga bilang dia belum pernah lihat potensi sehebat itu sejak lama, padahal dia pernah main bareng Romario, Ronaldo, Bebeto, dll.
Sayang potensi Pato tak pernah benar-benar bisa maksimal karena faktor cedera yang selalu menghantuinya
Dalam sebuah kunjungan kenegaraan ke Singapura, Soeharto menjumpai sang pemimpin Singapura, Lee Kuan Yew.
Soeharto pun mendadak bertanya, kenapa Singapura bisa jauh lebih maju dari Indonesia, padahal luas wilayahnya sangat kecil.
Maka Lee Kuan Yew pun memanggil perdana menterinya, Goh Chok Tong, lalu ia bertanya: "Tuan Goh, siapa itu anaknya bapakmu, anaknya ibumu, tapi bukan saudaramu?" Goh lalu tersenyum, dan menjawab: "Tentu saja saya sendiri.".
Setelah puas mendapat jawaban dari Goh Chok Tong, Lee pun kemudian berpaling pada Soeharto dan menjawab pertanyaan yang tadi diajukan olehnya: "Kami bisa maju karena kami memilih orang-orang pintar jadi pengelola negara."
Soeharto pun pulang ke Jakarta. Ia teringat pada percakapannya dengan Lee Kuan Yew, dan menjadi penasaran: apakah ia telah memilih orang pintar jadi pengelola negara. Maka Soeharto pun memanggil menteri setia-nya, Harmoko.
"Pak Harmoko! ada yang ingin saya tanyaken pada anda.". "Monggo pak Presiden!" tukas Harmoko. "Siapakah anak daripada bapakmu, anak daripada ibumu, tapi ia bukan saudara daripada kamu." Harmoko cepat menjawab, "Mohon petunjuk untuk tindak lanjutnya, Pak"
Soeharto agak kesal, tapi ia masih menyimpan harapan. "Coba Pak Harmoko mencari jawabannya ke menteri-menteri lain." Maka Harmoko pun undur diri. Setelah tak memperoleh jawaban dari Soedharmono, Akbar Tanjung, dll; akhirnya Harmoko menemui Habibie. Habibie tertawa saja. "Pak Harmoko, jawabannya adalah saya sendiri!"
Harmoko langsung cerah. Tak lama ia mohon menghadap Presiden Soeharto.Soeharto menyambut dengan senyum permanennya. "Sudah ada jawaban, Pak Harmoko?" Harmoko tak sabar menjawab dengan ceria, "Sesudah saya gali informasi dari berbagai pihak, ternyata jawabannya adalah: Pak Habibie!"
Soeharto mengernyitkan kening. Tapi ia tak ingin mengecewakan bawahannya yang setia itu. "Bagus!. Itu merupaken upaya yang baik. Jawabannya juga sebenarnya mendekati benar. Tapi sayang memang belum 100% benar. Harmoko agak kecewa. "Jadi jawabannya apa, Bapak Presiden?" "Adapun jawabannya," pungkas Soeharto, "Adalah Goh Chok Tong"
sumber: thread eddiesut
FYI,
Dulu, Pop Ice pernah kena denda Rp 11 Miliar.
Bukan karena produknya… tapi karena cara mainnya di pasar.
Ceritanya menarik 👇
Pop Ice itu bukan brand kecil. Dia udah lama jadi “raja” minuman bubuk di Indonesia. Dari kantin sekolah sampai warung pinggir jalan.
Karena kuat di pasar, strategi marketing jadi agresif.
Salah satunya: program ke kios dan pedagang minuman.
Tujuannya sederhana: biar Pop Ice makin dominan.
Ada program tukar produk. Pedagang bisa tukar produk pesaing ➡️diganti dengan Pop Ice. Sekilas kelihatan seperti promo biasa.
Tapi bukan cuma itu.
Ada juga “insentif”:
- produk gratis
- kaos
- bahkan blender
Dengan satu syarat…
Pedagang dimintauntuk tidak menjual produk pesaing. Atau minimal… tidak memajangnya. Di sini mulai jadi abu-abu.
Kasus ini akhirnya dilaporkan. Dan masuk ke ranah hukum oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha
Setelah investigasi panjang, diputuskan bahwa praktik ini:
➡️ dianggap menghambat persaingan usaha
➡️ memanfaatkan posisi dominan di pasar
Hasilnya? Produsen Pop Ice, PT Forisa Nusapersada dikenakan denda Rp 11,4 Miliar.
Program marketing tersebut juga diminta untuk dihentikan. Bukan karena produknya jelek. Tapi karena cara distribusinya dianggap tidak fair.
Dari sini ada pelajaran menarik:
Dalam bisnis, menang itu penting. Tapi cara menang…juga harus dijaga. Karena di titik tertentu, strategi bisa berubah jadi pelanggaran. Dan dominasi bisa berubah jadi masalah.
Pop Ice tetap jadi brand besar sampai sekarang.
Tapi cerita ini jadi pengingat:
bahkan brand besar pun pernah “salah langkah”
END.
🎂 Happy birthday to AC Milan legend Alessandro Costacurta, who turns 60 today. 🔴⚫️
👕 663 games
🏆🏆🏆🏆🏆🏆🏆 Serie A
🏆 Coppa Italia
🏆🏆🏆🏆🏆 Supercoppa Italiana
🏆🏆🏆🏆🏆 Champions League
🏆🏆🏆🏆 Super Cup
🏆🏆 Intercontinental Cup
🗣️ Arrigo Sacchi: “Costacurta was the most complete defender I had. He had no weaknesses — tactically perfect and incredibly intelligent.”
🗣️ Fabio Capello: “He didn’t need pace because he read the game before everyone else. That’s what made him world-class.”
🗣️ Franco Baresi: “He was the ideal partner. We understood each other without speaking — his positioning was exceptional.”
🗣️ Paolo Maldini: “Costacurta made everything look simple. He was one of the smartest defenders I’ve ever played with.”
Pada 2008, saat baru pindah ke AC Milan, Flamini bertemu dgn Pasquale Granata.
Saat banyak rekan setimnya sibuk menghabiskan duit dgn membeli mobil mewah atau barang bermerek, Flamini mengambil jalan lain. Dia mendanai riset lingkungan secara diam2.
Selama bertahun2, bahkan rekan setim terdekatnya di Arsenal maupun Milan nggak tahu bahwa Flamini sedang membangun kerajaan bisnis kimia. Dia sengaja merahasiakannya agar bisa fokus total pd sepak bola tanpa gangguan media.
Pada 2013, bersama Granata, Flamini resmi mendirikan GFBiochemicals. Perusahaan ini fokus pada produksi Asam Levulinat, sebuah molekul yang dianggap sebagai salah satu dari 12 molekul yang bisa menyelamatkan dunia oleh Departemen Energi AS.
Asam Levulinat ini menggantikan bahan kimia berbasis minyak bumi yang ada di sampo, deterjen, cat, hingga plastik, dgn alternatif berbasis tanaman yang jauh lebih aman bagi kesehatan dan bumi.
Flamini banyak menjelaskan perbedaan mendasar dari kedua dunia yang dia jalani. Sebagai pemain dia dinilai berdasarkan performa individu di lapangan.
Sebagai CEO, Flamini harus memimpin, memberi inspirasi, memikul tanggung jawab atas ratusan karyawan dan lebih2 masa depan lingkungan.
Flamini mengaku datang sebagai outsider di industri kimia, namun mentalitas atletnya membuat dia tidak takut menghadapi tantangan teknis yang rumit.
Beberapa tahun belakangan dikenal Flamini bukan lagi sebagai mantan pemain Arsenal atau Milan saja, tp seorang pengusaha sukses.
Kekayaan bersihnya sering kali dilaporkan mencapai angka yang sangat fantastis. Meski dia sering merendah soal ini. Tetapi, Flamini terus menegaskan bahwa motivasi utamanya bukan uang, melainkan bagaimana dia memberikan dampak besar pada lingkungan.
Dulu, ada Perdana Menteri Israel yang cukup moderat. Namanya Yitzhak Rabin. Bersama Presiden Palestina Yasser Arafat, keduanya mulai membicarakan solusi dua negara di luar jalur perang. Bahkan keduanya bersalaman di hadapan Bill Clinton yang berperan sebagai mediator. Momen bersejarah ini terjadi pada 1993 di depan Gedung Putih.
Namun langkah Rabin ditentang oleh partai oposisi sayap kanan yang sangat konservatif. Mereka enggan berkompromi karena ingin penguasaan penuh atas tanah Palestina (karena menganggap itu hak sejarah & teologisnya).
Salah satu yang paling vokal menentang Rabin adalah politisi radikal sayap kanan bernama Benjamin Netanyahu.
Rabin yang berasal dari Partai Buruh kemudian dibunuh oleh ekstremis sayap kanan pada 1995. Ia ditembak dua kali. Rabin dibunuh karena mencoba mencari jalan tengah konflik berkepanjangan dengan perdamaian, tanpa kekerasan.