nanti kalo hidup udah gak sesesak sekarang, semoga kita punya kesempatan untuk benar benar merasakan hidup ya.. bukan cuma untuk bertahan hidup seperti sekarang..
🚨 FOR YOUR INFORMATION 🚨
Mas Tri Purnomo Aji – membuat website untuk memantau langsung real time status gunung dan sebaran abu vulkaniknya! 😮
Beneran useful banget! Karena kalian bisa cek perkiraannyaa sampai 18 jam ke depan! ⏳️
webnya gratis buat cek abu vulkanik dari gunung yang lagi siaga di Indonesia.
Tinggal buka, gak perlu install apa-apa.
Yang bisa dicek: gunung mana aja yang statusnya siaga sekarang, abunya lagi ke arah mana, dan yang paling penting, kota tempat mu tinggal bakal kelewatan abu apa engga, dari sekarang sampe 18 jam ke depan‼️
Datanya diambil langsung dari lembaga resmi yang tugasnya emang mantau abu vulkanik buat keselamatan penerbangan dunia, bukan dari grup WA atau kabar burung.
Sumber yang sama yang dipake maskapai buat nentuin rute pesawat.
Cara pakenya gampang: buka web-nya, pilih gunung yang siaga, ketik nama kota mu (atau tinggal izinin lokasi HP). Langsung keliatan hasilnya, aman atau kena, plus jaraknya berapa km.
Websitenya:
https://t.co/wlqvTeJTpx
Website kedua yang dibuat beliau adalah:
https://t.co/LZLbiv9ErB
buat ngecek intensitas gas SO2 yang ada di wilayah kalian! 😮✨️
BIG W FOR WNI‼️
Respect and credit ofc for Mas Tri 🙏🏻✨️
*shared with permission 🤞🏻
STAY SAFE TEMAN TEMAN🫶🏻 ini zona merah sebaran Sulfur dioksida (SO2) wajib pake masker guys yaa yang mau berkegiatan keluar rumah 🫂 yang ngerasa rumahnya dizona merah tapi ga ada abu tapi harus tetap hati hati karena adanya sebaran gas yang tidak terlihat
Fires are smoldering in Indonesia, which is in a severe and widespread drought. Some of these are tropical peatland fires, which burn slowly, release higher amounts of air pollution, and are notoriously difficult to extinguish.
TERNYATA INI ALASAN BELIAU BIKIN KREASI MAKANAN DAN BUKAN CUMA BUAT KONTEN... 🥹
tadi bu kimpul/bu black sheep sempat live bentar sebelum dibatasin tiktok, dan beliau cerita kenapa sering bikin makanan yang dianggap "aneh"
beliau cerita kalau punya tanah peninggalan ayahnya yang dulu banyak ditanami kimpul, mbote, kentang klesi, jagung, dll. sekarang tanaman-tanaman itu udah mulai jarang ditemui. petani mudanya juga makin sedikit
pas ke pasar pun beliau lihat yang jual tempe benguk, ongol-ongol, dan makanan tradisional lainnya kebanyakan udah orang tua. terus beliau kepikiran, "kalau bukan anak muda yang nerusin, nanti penjual dan makanannya siapa yang melanjutkan?" 😔💔
makanya beliau sengaja bikin makanan tradisional dikemas jadi makanan yang lebih familiar buat anak muda. harapannya bukan cuma viral, tapi bikin orang penasaran dan akhirnya mau nyobain bahan pangan lokal Indonesia
beliau juga bilang, bukan berarti makanan modern itu jelek. cuma menurut beliau, banyak pangan lokal kita yang gizinya juga bagus, bahkan ada yang bisa lebih baik, tapi mulai terlupakan....
Guys, ada momen di rapat DPR yang menurut gue paling jujur dan paling mewakili kondisi keuangan daerah yang sedang kritis tapi paling sedikit disorot media.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda bicara langsung di hadapan Mendagri, Menpan RB, dan seluruh kepala daerah. Dan apa yang dia sampaikan sangat sederhana tapi sangat berat.
Daerahnya tidak punya uang untuk bayar gaji PPPK sampai akhir tahun.
Ini kondisinya yang paling mengejutkan:
DAU Dana Alokasi Umum Maluku Utara hanya sekitar Rp960 miliar.
Tapi belanja pegawai daerahnya sudah mencapai Rp1,1 triliun.
Artinya: sebelum satu rupiah pun dipakai untuk bangun jalan, perbaiki sekolah, bayar tagihan rumah sakit, atau program apapun uang dari pusat sudah habis hanya untuk bayar gaji pegawai. Bahkan masih kurang Rp140 miliar lebih.
Dan ini bukan anomali Maluku Utara saja.
Gubernur Sulawesi Tengah dan kepala daerah lain menyampaikan keluhan yang sama.
Ini adalah kondisi yang merata di banyak daerah seluruh Indonesia.
Dan ini tentang solusi yang ditawarkan pusat yang tidak menyelesaikan masalah:
Pemerintah pusat memberikan relaksasi melongggarkan aturan penggunaan anggaran supaya daerah bisa lebih fleksibel menggeser pos untuk bayar gaji PPPK.
Sherly menerima relaksasi itu dengan apresiasi. Tapi dia langsung menyampaikan masalah yang lebih mendasar:
Relaksasi itu berarti daerah harus memotong belanja infrastruktur untuk bayar gaji. Jalan yang harusnya dibangun tidak jadi dibangun.
Jembatan yang harusnya diperbaiki tidak jadi diperbaiki. Fasilitas publik yang harusnya ditingkatkan tidak jadi ditingkatkan.
"Relaksasi yang diberikan ini adalah hal yang baik tapi akan mengorbankan belanja infrastruktur.
Dan infrastruktur itu diperlukan untuk pondasi percepatan pertumbuhan ekonomi di daerah.
Dan pertumbuhan ekonomi di daerah adalah pondasi pertumbuhan ekonomi nasional."
Artinya: solusi jangka pendek ini sedang menciptakan masalah jangka panjang yang jauh lebih besar.
Dan ini tentang DBH yang paling menyesakkan:
Sherly tidak meminta APBN membayar gaji PPPK mereka. Dia tidak minta bailout dari pusat.
Yang dia minta jauh lebih sederhana: kembalikan sebagian dari 60% Dana Bagi Hasil yang selama ini ditahan oleh pusat.
DBH adalah uang hasil sumber daya alam daerahnikel, tambang, hasil laut yang seharusnya kembali ke daerah penghasil. Tapi 60%-nya ditahan di pusat.
"Kami tidak meminta dari DAU. Kami tidak meminta dibayar oleh APBN. Kami hanya minta sebagian dari 60% DBH dikembalikan. Jika itu dikembalikan kita akan mengambil jalan tengah."
Maluku Utara adalah provinsi penghasil nikel terbesar di Indonesia. Nikel yang jadi tulang punggung hilirisasi yang dibanggakan pemerintah pusat. Tapi provinsinya tidak bisa bayar gaji pegawai.
Dan ini tentang ruang inovasi yang sudah dipersempit:
Sherly menyampaikan poin yang menurut gue paling fundamental dan paling jarang diakui secara terbuka oleh pemerintah pusat.
Ketika kepala daerah disuruh berinovasi mencari sumber pendapatan baru kenyataannya banyak kewenangan dan otoritas daerah sudah ditarik ke pusat. Ruang untuk bergerak sudah dipersempit oleh aturan yang tidak fleksibel.
Daerah disuruh mandiri tapi alatnya sudah diambil.
Daerah disuruh inovatif tapi kewenangannya sudah dipangkas.
Dan sekarang daerah disuruh cari solusi sendiri untuk masalah yang sebagian besar diciptakan oleh kebijakan pusat sendiri.
Ini bukan sekadar masalah Maluku Utara. Ini adalah potret dari sistem fiskal yang sedang tidak sehat di seluruh Indonesia.
APBN dipotong Rp306 triliun atas nama efisiensi. Transfer ke daerah menjadi yang terkecil dalam 10 tahun terakhir. DBH ditahan 60%.
Tapi PPPK yang diangkat atas kebijakan pusat gajinya harus dibayar oleh daerah yang tidak punya uang.
Dan di ujung rantai yang paling panjang dan paling tidak terlihat ada guru honorer, tenaga kesehatan, dan pegawai pemerintah daerah yang sudah bekerja berbulan-bulan dan belum menerima gaji.
Mereka bukan angka dalam spreadsheet keuangan negara.
Mereka adalah orang-orang nyata yang masih harus makan, masih punya cicilan, dan masih harus menghidupi keluarga sementara di Jakarta orang-orang berdebat tentang relaksasi anggaran.
Guys, ada kasus yang menurut gue paling menyakitkan dan paling perlu diketahui banyak orang sekarang.
Lebih dari 2.000 orang kemungkinan jauh lebih banyak kehilangan uang yang mereka tabung bertahun-tahun untuk satu tujuan:
beribadah ke tanah suci.
Dan pelakunya adalah seorang anak muda 29 tahun yang berlatar belakang pendidikan agama dari Mesir yang memulai bisnisnya dari niat yang tampaknya baik, tapi berakhir dengan menghancurkan ribuan mimpi orang.
Ini kasusnya Hanania Group:
Hanania Group adalah travel umrah yang dipimpin Ahmad Syah Farhan Rachman.
Awalnya bisnis ini tumbuh dari memfasilitasi teman-teman mahasiswa Indonesia di Mesir untuk umrah.
Pulang ke Indonesia, dia dan istrinya membangun PT Khazanah Tamma Internasional.
Dan bisnisnya tumbuh besar.
Sangat besar.
Sampai mendapat rekor MURI untuk jumlah jemaah yang diberangkatkan.
Artis-artis ternama menggunakan jasanya dan memberikan testimoni bagus. Fasilitas oke.
Pelayanan profesional. Track record nyata.
Itulah kenapa ribuan orang percaya.
Tapi sejak 2025 semuanya sudah retak dari dalam:
Farhan mengakui sendiri bahwa sejak 2025 perusahaan sudah bermasalah secara finansial.
Direksi-direksi mulai mengundurkan diri dari Februari karena tidak ada transparansi keuangan.
Sistem finansial internal tidak terbuka bahkan kepada petinggi perusahaan sendiri.
Dan alih-alih menutup atau jujur kepada jemaah mereka justru membuka pendaftaran baru untuk menutup lubang lama.
Gali lubang tutup lubang.
Dengan uang orang yang ingin beribadah.
Dan ini berlanjut sampai malam takbiran Idul Adha 2026 di situlah Farhan akhirnya mengakui kepada perwakilan jemaah Syawal:
uangnya sudah habis.
Tidak ada yang bisa diberangkatkan.
Sementara di saat yang sama tim marketingnya masih aktif mengejar pelunasan dari jemaah yang dijadwalkan berangkat Juni, Juli, Agustus, Oktober.
Dan ini cerita-cerita di balik angka yang paling menyayat:
Bukan sekadar uang yang hilang.
Ada seorang ibu yang ibunya sudah tua kaki pengapuran, harus disuntik supaya bisa berjalan.
Tapi sang nenek bersemangat: "
Enggak usah takut, Mama masih kuat.
Nanti adik dorong pakai kursi roda."
Uangnya hilang.
Ibunya sudah pasrah.
Ada guru ngaji yang menabung dari uang kencleng Jumat Rp80.000 per minggu.
Dari honorarium khatib Rp100.000.
Disisihkan Rp250.000 per bulan dari mengajar ngaji privat. Pelan. Konsisten. Bertahun-tahun.
Semuanya hilang.
Ada seorang kurir ekspedisi yang menabung tiga tahun semua untuk memberangkatkan ibunya.
Setelah ikut melapor ke Polda sampai jam dua dini hari dia naik motor sendiri pulang dari Jakarta ke Cikarang. Sendirian. Tengah malam.
Ada seorang anak yang menyimpan penyesalan mendalam karena tidak bisa hadir saat ibunya meninggal bertahun-tahun lalu.
Dia menabung dengan satu niat:
mengumrahkan ibunya sebagai bentuk penebusan.
Mimpi itu sekarang hancur.
Dan ini yang paling mengerikan tentang pelakunya:
Ketika dihadapkan kepada ribuan korban dan aparat kepolisian Farhan tidak menangis.
Tidak menunjukkan ekspresi bersalah.
Tidak ketakutan. Cool.
Analisis yang muncul dari korban yang paling lucid:
dia sudah menghitung semua ini sebelumnya.
Sudah tahu risiko masuk penjara.
Sudah mempertimbangkan bahwa lebih baik pasang badan beberapa tahun daripada harus mengembalikan puluhan miliar.
Dan yang lebih mengejutkan di tengah semua ini dia masih menyatakan niat untuk membuat travel umrah baru setelah ini selesai.
"Bisnis ini seksi," katanya.
Dan ini yang paling fundamental perlu diketahui:
Total kerugian yang Farhan sendiri perkirakan jika semua jemaah Syawal sampai Oktober meminta refund:
sekitar 60 miliar rupiah.
Dan itu belum termasuk investor.
Dari 2.000 lebih jemaah yang tercatat kemungkinan masih ada yang belum terhitung.
Farhan sudah ditetapkan tersangka dan ditahan.
Dijerat tiga pasal: penipuan, penggelapan, dan tindak pidana pencucian uang yang terakhir ini membuka kemungkinan penyitaan aset.
Tapi pertanyaan yang paling penting bagi ribuan korban: apakah uang mereka bisa kembali?
Realistisnya 50% dianggap sudah bagus oleh salah satu korban.
Karena kemungkinan besar aset sudah disiapkan untuk disembunyikan.
Dan ini yang paling penting untuk semua orang yang masih merencanakan umrah:
Sebelum mempercayakan uang ke travel manapun pastikan terdaftar resmi di Kemenag dengan izin PPIU yang masih aktif.
Pastikan ada rekening escrow terpisah untuk dana jemaah. Minta histori keberangkatan yang bisa diverifikasi dari jemaah sebelumnya.
Dan jangan pernah bayar lunas jauh sebelum keberangkatan tanpa jaminan tertulis yang bisa dituntut secara hukum.
Track record bagus di masa lalu tidak menjamin kondisi keuangan perusahaan hari ini.
Orang-orang ini tidak mencari kekayaan.
Tidak mencari keuntungan investasi.
Mereka hanya ingin sujud di depan Ka'bah dengan uang halal yang dikumpulkan dengan susah payah selama bertahun-tahun.
Dan itu dimanfaatkan oleh seseorang yang tahu persis betapa sakral dan betapa rentannya impian itu.
"Kamu belajar agama.
Tapi kamu menipu dengan jalan agama."
Kalimat itu bukan tuduhan.
Itu adalah fakta yang paling menyakitkan dari seluruh kasus ini.