Mencermati kelas kata—khususnya kata benda, kerja, dan sifat—bisa membantu kita menyusun kalimat yang logis. “Gubernur sedang emosi” dan “Korban masih trauma” adalah kalimat yang keliru mengidentifikasi kelas kata.
Siniar #CeletukBahasaTempo episode 96:
https://t.co/AlLDh9PZdr
Ada masanya istilah “bintang film” lazim digunakan--bintang film Hong Kong, India, Barat, dan sebagainya. Kini “bintang film” jarang digunakan. Istilah yang sering dipakai adalah “artis” dan “selebritas”, juga “idol”.
Siniar #CeletukBahasaTempo episode 94:
https://t.co/CPBXGzwJ4z
Orang Indonesia sangat gemar memproduksi singkatan. Saking banyaknya, tak jarang kita temukan singkatan kembar. Misalnya KKN (kuliah kerja nyata; korupsi, kolusi, dan nepotisme; Kantor Kas Negara; kura-kura ninja).
Siniar #CeletukBahasaTempo episode 93:
https://t.co/YRim6jfELR
Coba tengok penggunaan bahasa Indonesia di media sosial. Banyak kata nonbaku, termasuk istilah gaul, dan susunan kalimat yang serampangan. Apakah berkembangnya media sosial menjadi racun bagi bahasa Indonesia?
Inilah siniar #CeletukBahasaTempo episode 92.
https://t.co/4H6VYRDaYJ
Memaafkan tak selamanya berarti melupakan. Namun melupakan sebenarnya secara diam-diam memaafkan. Memaafkan dan melupakan bertemu sebagai tindakan yang sama-sama mengajari kita menjadi penipu....
Inilah siniar #CeletukBahasaTempo episode 91.
https://t.co/d8ZWGEGOY1
Kata depan “dari” dan “kepada” punya fungsi yang berbeda. Namun ada dua kalimat ini: “Mereka menuntut pertanggungjawaban dari kementerian” dan “Mereka menuntut pertanggungjawaban kepada kementerian”. Mana yang tepat?
Siniar #CeletukBahasaTempo episode 90:
https://t.co/jrRcecZi9E
"Apotik", "trek", dan "bis" adalah contoh pelafalan kata yang lazim kita dengar. Banyak orang yang mungkin sudah tahu bahwa pelafalan kata itu tidak sesuai dengan penulisannya di KBBI, tapi masih sering melakukannya.
Siniar #CeletukBahasaTempo episode 89:
https://t.co/BemUilPAXS
Penduduk Indonesia amat kreatif dalam memberikan nama untuk anak-anaknya. Tak ada rumus tertentu yang berlaku. Seperti apakah nama islami dan bagaimana nama Indonesia?
Inilah siniar #CeletukBahasaTempo episode 88, yang dipetik dari tulisan Qaris Tajudin.
https://t.co/zWYlP1HxIc
Masih banyak yang keliru menggunakan kata seperti “acuh”, “absen”, “nuansa”, dan “bergeming”. Kekeliruan itu terus berulang hingga dianggap benar. Apa yang bisa kita lakukan agar salah kaprah tersebut tak berlanjut?
Siniar #CeletukBahasaTempo episode 87:
https://t.co/5q59Dh9sG8
Mengapa pedagang yang menggunakan gerobak dan berjualan di pinggir jalan disebut “pedagang kaki lima”?
Inilah siniar #CeletukBahasaTempo episode 86.
https://t.co/1O4iu1lPZy
Kata “syahid” berasal dari bahasa Arab dan “martir” berasal dari bahasa Inggris. Keduanya sering dianggap bermakna sama. Padahal, kedua kata itu memiliki makna yang tidak hanya berbeda, tapi juga bertentangan.
Inilah siniar #CeletukBahasaTempo episode 85.
https://t.co/HMJjmkxlOu
Drive-thru atau istilah asing lain belum tentu dipahami semua orang. Tapi kadang padanan istilah asing dalam bahasa Indonesia pun kurang akrab di telinga kita. Alhasil, istilah atau kata asing tetap populer digunakan.
Siniar #CeletukBahasaTempo episode 84:
https://t.co/MuNi0VPvd8
Surat lamaran kerja adalah contoh surat resmi. Artinya, tata bahasa dan kosakatanya mesti baku. Format penulisannya pun harus baku. Hal ini akan membuatnya mudah dipahami dan tidak menimbulkan interpretasi ganda.
Siniar #CeletukBahasaTempo episode 83:
https://t.co/BMc8guh5G2
Sumpah Pemuda 1928 membuahkan rumusan awal bahasa pemersatu. Tanpa bahasa pemersatu, tak bisa dibayangkan bagaimana cita-cita pembentukan bangsa akan diwujudkan dalam masyarakat yang heterogen. Mengapa bahasa Melayu?
Siniar #CeletukBahasaTempo episode 82:
https://t.co/bZmLnYoJBk