It's okay if your kindness isn't appreciated. Do it for the sake of Allah. As a scholar says "pujian manusia takkan memuliakanmu dimata Allah. Hinaan manusia takkan merendahkanmu dimata Allah", by remember this, it'll make you feel better. Keep spreading kindness.
#formyself
One thing about my sis, dia selalu ngeduluin adek2nya ;-; pdhl dgn uang segitu bisa aja yaa dia milih nikah dan lepas tangan urusan adek2ny.. tp dia rela uangnya dipake buat adek2nya 🥲🥲🥲🥲 mellow dikit, moga semua anak pertama di dunia ini bahagia selalu.
Lo masih bingung: “HIV tuh nular lewat apa sih?”
Pernah mikir, “Ciuman bisa bikin HIV gak ya?” tapi malu buat nanya?
Atau takut cek darah karena takut tau hasilnya?
Gw kumpulin pertanyaan yang sering ditanyain —dan jawabannya dijelasin pake bahasa manusia.
A thread Pt.1 ⬇️⬇️⬇️
Bro… Gue mencium aroma pahit realita dari kalimatmu.
Kamu nggak sedang ngomong soal cinta.
Kamu sedang ngomong tentang struktur sosial, ekonomi, dan psikologi pria modern dalam realitas pasca-romantis.
Dan kalimatmu itu, sadis tapi banyak benarnya.
Mari kita buka layer demi layer. Tanpa drama. Tanpa ilusi.
🧠 Hipotesis: Laki-laki tidak menikahi yang paling dia cintai, tapi yang hadir saat dia siap.
✅ Kebenaran Sosiologis:
Pria Butuh Timing + Kestabilan Ekonomi untuk Melamar
Banyak pria tidak bisa atau tidak berani melamar sampai:
Kariernya stabil
Punya tempat tinggal
Nggak malu sama orang tua si cewek
➤ Jadi ketika dia "siap" secara materi, dia akan lihat: “Siapa yang tersedia sekarang dan tidak bikin hidup tambah ribet?”
Cinta jadi pilihan sekunder.
Kesiapan & kompatibilitas logistik jadi primer.
⚠️ Data Psikologis:
Studi dari University of Chicago (dan beberapa riset psiko-sosial) menyebut:
“Keputusan menikah pada pria lebih dipengaruhi oleh momentum psikologis dan kesiapan finansial dibanding oleh intensitas emosional terhadap pasangan.”
“Laki-laki lebih cenderung memilih pasangan ‘realistis’ daripada ‘ideal’ saat berada di fase stabil.”
(Sumber: Buss & Shackelford, Evolutionary Psychology of Mate Choice)
🔥 Dan jangan lupa realita ekonomi zaman now:
Di banyak kota besar, harga hidup = tekanan brutal.
Biaya nikah, rumah, anak, bahkan hedon sosial → semua jadi faktor kalkulasi bawah sadar.
Pria akhirnya berpikir:
“Mending yang satu frekuensi, gak ribet, bisa kerja sama. Cinta nanti nyusul.”
Apakah ini berarti romantisme pria udah mati?
Tidak.
Pria tetap punya sosok yang pernah dia cintai mati-matian.
Tapi banyak dari mereka hanya hidup di kepala—bukan di KUA.
Laki-laki modern lebih realistis daripada romantis.
Mereka menikah bukan karena “ini cinta sejatiku,”
tapi karena: “Dia yang hadir ketika aku siap jadi kepala rumah tangga.”
Dan… kadang itu berhasil. Kadang tidak. Tapi yang jelas:
cinta tidak selalu jadi variabel utama.
Gue umur 35, dan masih single. Krn orang sekitar gue bener2 supportif, gue ga sadar kalo di luar sana society masih mempertanyakan keputusan cewek utk single. Gue pengen kasih tau sebenernya kenapa, berdasarkan pengalaman gue dan perempuan di sekitar gue.
saran aja, kalo istri disuruh bantu usaha suami, pastiin jadi pemegang saham CV or PT-nya dengan kepemilikan 35-50%.
yang udah udah, kalo sukses nanti suaminya kawin lagi sama cashiernya.
kalo ngga sukses ya jadi konten bersyukur or berita acara pengadilan.
risk tertinggi masih di cewek.
pattern yg gw sering liat dari individual sandiwich gen.
- kakak pertama nikahnya telat dan gak ada waktu untuk romantisme karena harus biayain adik2nya (ortu gak berguna/mempensiunkan dini)
Voters 02 duduk manis saja. Soal periuk nasi kalian yg diganggu rezim biar urusan 01 dan 03 saja.
Kami pernah berhasil menjadikan gas melon tidak langka lagi.