Untuk Brand Miras Newport, kalian sudah kelewatan, membuat promosi hafal ayat Al-Qur'an ditukar sama Miras. Segera klarifikasi dan minta maaf. Ini sudah masuk ranah penistaan agama!
Perlu diingatkan lagi, Joko Widodo berulang kali menyatakan proyek KCJB menggunakan skema business to business (B2B), sehingga tidak menggunakan APBN dan tidak memerlukan jaminan pemerintah.
Luhut Binsar Pandjaitan, sebagai Menko Kemaritiman dan Investasi, berkali-kali menegaskan bahwa utang proyek tidak akan dibayar menggunakan APBN dan mengkritik pihak yang menyebut proyek itu akan menjadi beban negara. Bahkan pada 2025 ia kembali mengatakan tidak pernah ada permintaan agar utang Whoosh dibayar memakai APBN. (tautannya: https://t.co/CJjEJwqPn4)
Sejumlah pejabat KCIC dan kementerian pada masa itu juga konsisten menyampaikan narasi bahwa proyek bersifat komersial (B2B) sehingga risikonya berada pada perusahaan, bukan negara.
Tak terhitung juga para politisi dan buzzer pendukung Jokowi saat itu yang menyampaikan narasi ini dan menyerang mereka yang mengritik KCIC. Jika sejak awal proyek dijanjikan sepenuhnya B2B tanpa membebani negara, mengapa kini penyelesaiannya harus diambil alih pemerintah?
Bagaimana pertanggungjawabannya? Kemana mereka sekarang?
Kalau LBP sih masih punya jabatan sih.
The sprawling multi-ethnic archipelago cannot simply be given orders as if it were an army unit. It needs a leader who listens to many voices, rather than one who surrounds himself with yes-men https://t.co/3Rf4W3HXnX
Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya mengatur ketat arus informasi istana.
Mulai dari meminta wartawan memberitakan yang baik-baik saja, hingga menelpon manajemen dan petinggi media saat tidak suka dengan isi pemberitaan.
#DeadPressSociety#YaAkuBakalDibaca https://t.co/O6XCuqB4dA
Pada 1975-1979 ada diktator di Kamboja yang anti orang pintar, namanya Pol Pot.
Orang yang dianggap pintar dieksekusi. Termasuk dosen, guru, dokter, insinyur, pengacara, seniman, orang yang bisa bahasa asing, bahkan orang yang pakai kacamata (dianggap banyak baca).
Orang pintar tidak disukai diktator karena orang pintar cenderung mempertanyakan kebijakan, sementara diktator membutuhkan kepatuhan mutlak.
Orang pintar juga memiliki alat analisis untuk membongkar kebohongan atau kegagalan pemerintah.
Orang pintar juga mampu menciptakan narasi tandingan yang dapat menggerakkan kesadaran masyarakat.
Diktator kerap menyerang orang pintar (yang jumlahnya sedikit) sebagai alat populis untuk merangkul kelas pekerja (yang jumlahnya banyak) dengan mengatakan bahwa kaum elit terpelajar adalah penyebab penderitaan mereka.
Secara umum, rezim mana pun yang dipimpin orang yang memiliki sifat diktator biasanya akan menunjukkan bibit-bibit anti intelektualisme.
@Outstandjing saya dan temen” berusaha menghidupkan ini, bukan THR nya, tp lebih ke membesarkan dan mudik pas idul adha, karena sayang kehilangan momen 10 malam terakhir Ramadhan buat perjalanan mudik.
Bread and Circuses atau roti dan sirkus, kata Juvenal, pada akhir abad pertama tentang rakyat Romawi yang sebenarnya miskin dan menderita pada saat itu tetap mendukung penguasa karena penguasa menyediakan tontonan rutin di koloseum dan membagikan roti gratis.
Hari ini…
dulu dosen ilmu negara gw bilang kalau tonggak suatu negara tuh ada tiga; kesejahteraan rakyat, kesetaraan pendidikan, dan keadilan penegakkan hukum.
indonesia nggak tiga2nya anjir 😭
Dipikir pikir enak banget ya kerja di Dishub. Ga pernah kerja, tapi kalau ada kecelakaan begini yg dibawah tanggung jawabnya, gapernah tuh disalahin sama netizen.
1. Jalan raya minim rambu laku lintas, garis marka gaada, lampu lalu lintas gaada. Diem tuh ga pada nyalahin dishub
Pelajar SMK mengirim surat kepada Presiden, ia menolak menerima MBG dan meminta jatah makan MBG miliknya diberikan untuk kesejahteraan guru. Para pelajar kita, ada yang pikirannya tajam dan halus perasaannya. Rafif Arsya, anda membuat sejarah.
🔥🔥🔥🔥🔥
Guys Whoosh kereta cepat Jakarta Bandung itu bukan sekadar soal kereta yang lambat sampai atau tiketnya mahal.
Ini bom waktu yang sumbunya sudah pendek banget.
Gw mau jelasin kenapa dari awal.
Biaya awalnya Rp84 triliun.
Sekarang sudah bengkak ke Rp118 triliun.
Bunganya saja bukan bayar pokoknya 2 triliun per tahun. Sementara pendapatan tiket tertinggi yang pernah dicapai Whoosh cuma 1,5 triliun per tahun.
Artinya dari operasional Whoosh tidak akan pernah bisa nutup utangnya sendiri.
Tidak sekarang.
Tidak dalam waktu dekat.
Dan ini yang paling aneh dari awal.
Tahun 2015 ada dua tawaran.
Jepang kasih bunga 0,1 persen hampir gratis.
Tapi minta jaminan pemerintah.
China kasih bunga 2 persen jauh lebih mahal.
Tapi bilang tidak perlu jaminan APBN.
Murni business to business.
Indonesia pilih China.
Pak Jonan waktu itu Menteri Perhubungan bilang jangan jalan proyek ini.
Proyeksinya tidak masuk akal.
Penumpang ditarget 50 sampai 60 ribu per hari. Realitanya sekarang cuma 16 sampai 22 ribu per hari.
Pak Jonan dipecat.
Pak Agus ahli transportasi yang sudah transform PT KAI dari rugi ke untung juga bilang tidak masuk akal.
Dan Jokowi bilang ini ide saya sendiri.
Proyek jalan.
Sekarang hitung biaya per kilometer pembangunannya.
Indonesia bayar 52 juta dolar per km.
China bangun kereta cepat di negaranya sendiri 17 sampai 18 juta dolar per km.
Hampir tiga kali lipat lebih mahal.
Mahfud MD sendiri yang nanya siapa yang bisa naikkan harga setinggi ini?
Dugaan markup.
Dan belum ada yang bisa jelaskan ke mana selisihnya.
Sekarang utangnya menumpuk.
Purbaya tidak mau bayar pakai APBN karena dari awal strukturnya B2B.
Tapi di satu sisi sudah ada suntikan lewat PMN ke PT KAI sebagai induk KCIC.
Jadi pakai APBN juga cuma lewat pintu belakang.
Sekarang bola dilempar ke Danantara.
Danantara lagi kaji semua opsi.
Belum ada yang mau step up bayar.
Dan ini yang paling genting.
China punya rekam jejak soal ini.
Sri Lanka bangun pelabuhan Hambantota pakai utang China.
Tidak bisa bayar.
Akhirnya kasih hak kelola 99 tahun ke China Merchant Port.
Mahfud sudah wanti-wanti kalau Indonesia tidak bisa bayar, yang bisa diminta China adalah Natuna.
Natuna.
Wilayah yang selama ini sudah jadi titik panas klaim China di Laut China Selatan.
Dari debt trap ke kedaulatan wilayah itu bukan teori konspirasi.
Itu yang sudah terjadi di Sri Lanka.
Dan infrastrukturnya sendiri pun tidak masuk akal secara desain. Kereta cepat tapi stasiunnya jauh dari pusat kota. Penumpang harus naik feeder dulu baru sampai. Di saat opsi lain travel, tol, kereta biasa tetap lebih praktis untuk mayoritas orang.
Faisal Basri menyebutnya proyek paling konyol di dunia. Dan gw tidak bisa bilang dia salah.
Satu pelajaran bisnis yang paling mahal dari Whoosh.
Ketika sebuah proyek dijalankan bukan karena kalkulasi ekonomi tapi karena ego, gengsi politik, atau kepentingan tertentu rakyat yang bayar. Bukan yang bikin keputusannya.
Dan sampai sekarang tidak ada satu pun yang dimintai pertanggungjawaban secara serius.
Itu yang lebih mengkhawatirkan dari utangnya sendiri.