Mungkin Allah belum mengizinkan kita merasakan nikmatnya dicintai oleh seseorang. Tapi di saat yang sama, Allah membuka pintu rezeki yang lain.
Allah memberi kesempatan untuk melihat dunia yang lebih luas, bertemu banyak orang, belajar banyak hal, dan mengenal diri sendiri lebih dalam.
Kadang kita terlalu fokus pada satu nikmat yang belum datang, sampai lupa bahwa Allah sedang menghadiahkan nikmat lain yang juga luar biasa.
Habis dengar podcast Ustaz Don, ada satu kalimat yang sederhana tapi sangat dalam maknanya:
"Kita jatuh hati kepada seseorang pun karena Allah yang membolak-balikkan hati."
Kalimat itu mengingatkan bahwa rasa cinta bukan sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Allah yang menghadirkan rasa.
Allah juga yang mampu mengubahnya.
Maka ketika hati sedang mencintai seseorang, jangan lupa melibatkan Allah dalam setiap langkahnya.
Dan ketika harus melepaskan seseorang, yakinlah bahwa Allah juga mampu menenangkan hati yang paling terluka.
Hati ini milik Allah.
Dia yang membolak-balikkan hati, dan Dia pula yang paling tahu siapa yang terbaik untuk kita.
Pergilah selagi masih muda, meski tabunganmu belum banyak.
Karena di usia sekarang, kamu masih bisa menikmati perjalanan dengan hal-hal sederhana. Tidur di penginapan murah, naik kendaraan berjam-jam, makan seadanya, lalu tetap pulang dengan hati yang bahagia karena mendapatkan pengalaman baru.
Jodoh itu termasuk takdir muallaq; ia bisa bergerak mengikuti usaha, ikhtiar, dan doa-doa yang tak pernah lelah kau langitkan. Ada pertemuan yang terasa mustahil, lalu dipermudah karena kesungguhan dan ketulusan dalam meminta.
Namun, tidak semua yang sudah dekat pasti menjadi milik. Ada hubungan yang runtuh karena manusia sendiri merusaknya, karena pengkhianatan, maksiat, atau karena lupa menjaga nikmat yang diberikan.
nemu tulisan cantik di ig, kira kira kaya gini isinya :
jangan taruh semua cinta di satu orang, satu mimpi atau satu tempat aja. coba kasih sebagian ke teman yg selalu ada, ke makanan yang bikin mood bagus, ke hobi yang bikin lupa waktu, ke lagu yang lagi kamu suka, atau mungkin ke hal hal yg bikin kamu tetap jalan hari ini. dan yang paling penting sisain juga cinta untuk diri sendiri. karna hidup itu rapuh kalau bahagianya cuma bergantung ke satu hal aja. karna cinta ga diciptakan buat dikurung tapi disebarin, biar kalau satu runtuh, kamu ga ikutan hancur.
ya emang. being an introvert kalau masih miskin jatuhnya penghambat.
kalau lu ngikutin rasa nyaman lu karna lu introvert, dengan alasan energi lu yang cepet abis itu, lu akan stuck di situ situ aja. trus gimana? paksa.
ngga bisa basa basi? paksa. paksa diri lu buat mulai obrolan meski jatuhnya awkward. nanti lama lama juga lu tau kok gimana caranya biar ngga awkward.
lu ngga punya energi buat tampil depan umum? paksa. paksa walau terbata bata, nanti bakal terbiasa.
energi lu cepet abis kalau ketemu orang? paksa buat berangkat. paksa diri lu buat berangkat atau lu ngga punya relasi atau ngga punya temen sama sekali.
gpp jadi introvert, gw juga introvert, tapi jangan jadi introvert yang terlalu memanjakan diri. kalau terlalu ngikutin zona nyaman lu itu, nanti lu ngga berkembang.
Usia 30 tahun + belum menikah + branding 'sukses'. Gimana cara menghadapi stereotype?
Menjelang Idul Fitri kayak sekarang ini pasti sebagian kawan-kawan yang usianya 27+ dan masih single punya perasaan bakalan jadi obrolan kerabat dekat atau reuni seangkatan.
Semua belief system, mindset, preferensi hidup mulai goyah pas balik ke lingkungan yang kurang mendukung.
Mulai ada obrolan kayak:
"Lu standarnya ketinggian"
"Ah nyari duit mulu, sepi masa tua lu."
"Atau jangan-jangan lu gak normal yah?"
dan berbagai spekulasi dan asumsi lainnya.
Padahal kalau dipikir-pikir, siapa sih yang gak pengen punya pasangan hidup? Punya tujuan bareng, ibadah bareng, sampai punya buah hati yg imut lucu. Kan sebagian besar orang pengen.
Cara paling bijak buat menghadapi pertanyaan basa-basi yg gak sopan ialah ditanggapi aja dengan tenang dan gak defensif. Gak perlu over-explaining preferensi hidup kita, dan cukup iya-iya aja. Ini cara paling tenang.
Dan kalaupun bisa balik ke 5-7 tahun lalu pas masih early 20s, aku akan tetap memilih fokus berkarya dan upgrade karir dibandingkan fokus nyari pasangan hidup.
Sepi itu pasti, tapi bukan berarti kesepian. Sepi yah karena menjalani kehidupan sendiri. Makanya tiba-tiba banyak yang jadi atlet dadakan, bangun bisnis, ikut komunitas, biar waktunya dialihkan ke hal-hal yg produktif.
- Kawanku yang udah nikah dan cemara sampai hari ini? Banyakkk
- Udah nikah terus cerai? Juga banyak
- Kawanku yg single dan living their best life? banyakk bangett
- Single and unhappy? adaaa juga
Kita gak pernah tau apa yg dilalui oleh orang lain. Goals hidupnya kayak gimana. Usaha nyari pasangannya udah ketemu zonk berapa kali. We never know right? Yang tau persis yah yg jalani.
Satu kalimat ibuku yg gak pernah aku lupa:
"Better late than jalan sama orang yg salah."
"Saya stres mas karena nggak bisa nyukupi kebutuhan keluarga, nggak bisa nyukupi anak dan istri.."
Ya Ayyuhannas!
Pantesan kamu stres! Lha wong kamu mikirnya kamu yang nyukupi mereka! Kamu merasa dirimu pemberi!
Kita ini lho siapa kok berani-beraninya mau nyukupi orang lain, lha wong kita aja masih terus selamanya dicukupi sama Gusti Allah! Yang nyukupi anak istrimu itu bukan kamu, tapi Gusti Allah lewat berkah dan rejekinya! Tugasmu bukan jadi sumber, tugasmu itu cuma jadi jalan!
👨:Kenapa pilih jadi kurir ekspedisi, sayang kan S1 mu ?
👦: Karena saat ini pintunya yang kebuka ini dan keluargaku butuh aku kerja, bukan menunggu.
Teringat obrolan sore bbrp tahun lalu di warung nasi uduk.