Tanggal 25 Mei 2026.
Mama Yasinta Moiwend dijemput dg Privete Jet Milik PT Jhonlin Group di Wanam dan di kawal oleh Ibu Kepala Distrik Ilwayab Crstin Rumlus dan Komdan Mandala Berangkat ke Merauke dan langsung ke Jakarta.
Keluarga semua tidak Tauh dan Hilang Kontak sampai tanggal 29 Mei 2026 tiba tiba mama muncul di media sosial dan media Meinstrim dan berita berita nasional terkait dg Laporan Ke Polda Metro Jaya.
Informasi dari Arnoldus Anda di Merauke
@Mulalt_@Dandhy_Laksono@BentalaRakyat@GreenpeaceID
#Indonesia: Deeply concerned by horrific acid attack on Andrie Yunus, the Deputy External Affairs Coordinator of the Commission for Missing Persons and Victims of Violence (@KontraS). Those responsible for this cowardly act of violence must be held to account. HRDs must be protected in their vital work & able to raise without fear issues of public concern. - @volker_turk
Mau tau seberapa besar jurang ketimpangan di Indonesia?
Bayangin ada 100 potong ayam goreng KFC buat 100 orang.
Idealnya, satu orang dapat satu potong.
Tapi di Indonesia:
- 1 orang ambil 50 potong buat dia sendiri
- 9 orang berikutnya masing masing dapat 2 potong
- 40 orang berikutnya harus berbagi 18 potong, per orang bahkan kurang dari setengah potong
- sementara 12 potong ayam sisanya harus diperebutkan 50 orang terakhir, masing-masing cuma dapat suwiran daging yang nempel tulang atau bahkan cuma kebagian tulang yang tercecer.
Victor Valdés warned before retiring: “When I retire, I will disappear. I’ll go somewhere no one can find me.”
And he did.
The legendary goalkeeper of Guardiola’s Barcelona, after a career filled with titles and unforgettable nights, decided to walk away completely from football and public life.
He tried his hand at coaching, even returning to Barça to lead the U19 squad, but three years later he left without notice — no press conference, no statement.
He deleted WhatsApp. He doesn’t answer messages. Nobody knows where he lives, what he’s doing, or if he even wants to be found.
A man who once stood on football’s biggest stages now lives in complete silence.
Sejauh ini masih percaya kalo akhir dunia disebabkan antara zombie apocalypse atau alien invasion.
Tapi jadi survivor kayak Carol di Pluribus sepertinya enak.
Skenario alien imvasion yg lebih santun ketimbang zombie apocalypse.
😖
Lagi-lagi soal Kapitil
Saya nulis ini sebenarnya sambil agak emosi (akan saya jelaskan).
Kok bisa2nya entri kata seperti "kapitil" masuk KBBI. Di lain pihak, ini sebenarnya tidak mengejutkan karena dalam beberapa tahun terakhir ini KBBI mulai sembarangan memasukkan kata ke dalam KBBI, mungkin karena mengejar target. Semuanya ini dimulai karena nafsu mengejar jumlah kosa kata supaya "bisa disejajarkan" dengan bahasa-bahasa besar di dunia.
LIhat: https://t.co/bBAXKNaXnq
Tahun 2024 mereka ditarget untuk menambah 80.000 lema, mengejar target 200.000 lema. Saya kira target ini bisa jadi dijadikan semacam KPI bagi Badan Bahasa yang mengampu KBBI. Jadilah segala macam kata hantu belau dimasukkan ke dalam KBBI, termasuk yang terakhir ini: kapitil.
Bagaimana sesungguhnya sebuah kata bisa masuk KBBI? Mengacu pada sebuah artikel yang ditulis oleh Badan Bahasa sendiri (https://t.co/xI2qlolFwR), syaratnya ada lima. Mari kita lihat satu per satu.
1. Unik. Belum memiliki makna dalam bahasa Indonesia. Oke, boleh, dengan syarat jangan ngarang, dan jangan maksa. Kita sudah punya lema kapital untuk huruf besar, dan nonkapital untuk huruf kecil, ada juga onderkas, mungkin mirip seperti lowercase, sebuah kata lama peninggalan dari Belanda. Jadi, apakah kita butuh kapitil? Tidak.
2. Eufonik. Enak didengar. Ini keluhan yang paling banyak saya dengar saat orang berkomentar tentang kapitil. Apaan tuh? Kok bunyinya seperti ... (you know what I mean). Jadi syarat ini udah jelas-jelas dilanggar.
3. Seturut kaidah bahasa Indonesia dalam pembentukan kata. Saya pikir syarat ini kurang relevan
4. Tidak berkonotasi negatif. Lah, justru ini yang paling parah. Soalnya mirip dengan .... (you know what I mean)
5. Kerap dipakai. Memang, untuk membela diri, Badan Bahasa memasukkan entri kapitil sebagai ragam cakap, alias nonformal. Pertanyaan saya, dalam percakapan di mana muncul kata kapitil ini? Perasaan gak pernah dengar dan lihat. Ternyata jawabannya ada di sebuah artikel di detik: https://t.co/ke53Kz1BJI
Kata ini berasal dari joke internal di Badan Bahasa. What?Joke internal boleh dimasukin kamus? Kalau begitu kenapa lema anjir, jancuk, dan cabe-cabean yang bahkan pemakaiannya jauh lebih luas tidak dimasukkan? Karena belum diusulkan masyarakat? Jawaban macam apa itu.
Ini hanya menunjukkan satu hal. Badan Bahasa memegang cek kosong untuk memasukkan kata ke dalam KBBI secara semena-mena. Mereka bahkan melanggar aturan yang mereka buat sendiri. Bayangkan, joke internal kantor, yang tidak dikenal masyarakat luas bisa masuk kamus. Saya menyebutnya dengan istilah otoritarianisme bahasa, atau fasisme bahasa (grammar nazi, everyone).
Sebagai penutup, saya mau cerita sedikit. Saya dulu pernah bersurat kepada redaktur KBBI perkara lema "batalion". Menurut saya, seharusnya yang masuk kamus itu adalah "batalyon", seperti yang umum dipakai oleh TNI. Kok KBBI tidak mengikuti pemakaian umum melainkan ngarang sendiri. Surat saya dijawab sederhana: bentuk bakunya adalah "batalion", tanpa membuka ruang diskusi. Kalau bukan fasis, apalagi namanya.
(Update terakhir, kata "batalyon" dimasukkan sebagai varian dari "batalion")
Bahasa adalah milik bangsa, milik pemakainya, bukan milik Badan Bahasa. Dengan memasukkan entri secara serampangan, Badan Bahasa sesungguh sudah merusak bahasa Indonesia. Ingat, "Bahasa Mencerminkan Bangsa." Mungkin rusaknya bangsa kita memang tercermin dari rusaknya bahasa Indonesia.
PT Jhonlin Group, milik Haji Isam, secara sepihak mencoba mencaplok tanah hak ulayat masyarakat adat kampung Nakias, distrik Ngguti, Papua, demi proyek jalan 135 km PSN.
Lahan dibuka tanpa dialog dan tanpa persetujuan pemilik adat, namun aktivitas tetap berjalan diam-diam
Presconnya gak menjawab apa-apa. Dari sekian banyak yang dituntut, dipersempit cuma soal tunjangan DPR.
Dibilang small wins juga enggak ada. Bener kata komentar di YouTube, ini mah kek kerja kelompok: kena deadline, beres gak beres dikumpulin.
Kondisi semakin tidak kondusif, setelah penangkapan 20 orang lebih, polisi terus menyisir ke semua sudut. Lebih baik kita tarik diri dulu, simpan energi, atur lagi strategi. Jangan sampai menambah martir lagi.
Ingat nama-nama mereka, kawan. Ingat juga bahwa nasib kita sebenarnya sama dengan mereka. Di mata negara, kita cuma angka. Korban kolateral agenda penguasa.