@nirlunae Saya sedang sibuk memilah berkas, hingga kehadirannya yang tiba-tiba nyaris tak terasa. Kecuali gumam-gumam kecil nyanyian yang ia senandungkan. “Apa yang kamu perbuat kali ini?” Pelan-pelan saya mengintip dari balik kertas. Cat kuku hitam? Ide dari mana lagi ini. —
— sempat berkata bahwa keran wastafel sedikit terbuka. “Anda tidak menyentuh wastafel sama sekali ‘kan, tuan Lagusa?” Netra saya beranjak dari rumpun kata yang tertulis di kertas, kini menatap sosoknya di seberang meja. Penuh selidik. — @nirlunae
Kiranya saya bisa beristirahat hari ini usai satu kasus panjang dan melelahkan. Namun siapa sangka, semesta telah menyiapkan skenario dan kasus baru untuk saya tuntaskan.
Petang itu, saya bahkan belum sempat menyesap kopi yang dihidangkan barista, panggilan telepon menyita —
— sama sekali, bagus.” Sebab ketika saya dan tim forensik datang ke tempat kejadian perkara, barang-barang dan suasana apartemen itu dideskripsikan sama, sesuai, tiada beda.
Gemericik air, oh. Gemericik air. Mata saya membola. Teringat bahwa kala itu, tim forensik —
— korban ketika anda sampai pertama kali? Sebab anda yang menemukan jasad Anneliese. Atau mungkin anda sempat melihat sesuatu yang mencurigakan di sekitar apartemen tersebut?”
Produser film, akan saya catat dulu untuk yang satu ini. Menarik untuk diteliti lebih lanjut nanti.
@nirlunae — bertatap muka atau bicara pada malam itu?” Pena bertinta hitam menggores beberapa garis pada daftar laporan yang saya genggam. Kasus ini cukup pelik, sebenarnya.
Sejenak saya mencuri pandang, biru lautnya— selalu elok dan tak pernah gagal buat saya tenggelam.
@nirlunae “Mm,” Angguk paham, jadi lelaki di hadapan saya ini tak lebih dari sekadar kenalan. Mengantar pulang, sebab Anneliese mabuk berat hingga hilang kesadaran.
“Di malam sebelumnya anda bertemu dengan korban di klub, kan? Apa ada yang janggal? Dengan siapa saja Anneliese —
— partisipasi anda dan jawab saya sejujur-jujurnya.” Dokumen di hadap muka saya buka, beserta foto-foto tkp yang telah ditangkap dan dipilah oleh tim forensik. Lurus obsidian saya menatap biru lautnya, indah tanpa celah. “Apa kaitan anda dengan korban?” / @nirlunae
— ingin bertemu saya lain kali, tuan Lagusa.” Namanya bahkan masih melekat di bibir saya, seakan baru kemarin kami dimabuk cumbu secara tiba-tiba. Ah, mikir apa saya ini.
“Baiklah, kita mulai interogasinya. Selamat sore, tuan Lagusa. Saya Glenn Lawrence. Mohon —
— korban telah berada di ruang interogasi, detektif Lawrence.” Ia menuntas, saya mengangguk tanpa menjawab.
Segera kedua tungkai melangkah masuk ke dalam ruang interogasi. Benak saya dipenuhi berbagai ekspetasi. Namun, bukan @nirlunae , sama sekali.
“... Kenapa kamu lagi?”
— seluruh atensi. Tanpa peduli, saya putuskan untuk kembali. Markas London dengan hiruk-pikuk sibuk, tiada henti.
“Anneliese Campbell,” Margareta menghampiri saya, menyerahkan sebuah dokumen dari hasil olah TKP yang berbuah pertanyaan besar. “Saksi yang menemukan jasad —