Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia, Rachmat Pambudy: MBG LEBIH MENDESAK DARIPADA LAPANGAN KERJA!!!
***
Pada waktu saya ditanya , "Mengapa MBG itu penting?"
"Apakah MBG itu penting?" Penting sekali!
Apakah MBG lebih penting dari memberi lapangan kerja? Saya mengatakan
MBG LEBIH MENDESAK DARIPADA LAPANGAN KERJA!!!
Tetapi, dikatakan, katanya, MBG lebih penting daripada lapangan kerja.
MBG penting, lapangan kerja penting.
TETAPI MBG LEBIH MENDESAK!
Ada yang bilang, "Tolong kasih kail, jangan kasih ikan!"
KALAU DIKASIH KAIL, SUDAH KEBURU MATI!!!
Yg paling disayangkan dari bubarjya eos tuh— harris gin sama arion tuh creator bagus. I like how they engage to their viewers. Yg paling kecewa si harris sih kayanya. Quiet graduation is such a silent graveyard, without a proper good bye.
saya ga begitu paham sepak terjang menteri pupr sebelumnya, tapi saya punya cerita tentang beliau.
tahun 2023, saya pernah dinas ke jogja naik pesawat atr-nya citilink dari halim. bagi yang belum tau, pesawat atr itu pesawat yg lebih kecil yaa yg ada baling-balingnya.
waktu lagi nunggu boarding, saya liat ada rombongan pejabat lewat. ternyata itu rombongan pak bas. saya pikir mereka naik pesawat charter karena berangkat dari halim. ternyata beliau naik pesawat yg sama dgn saya, alias pesawat komersil tsb.
sepanjang perjalanan saya mikir, “wah satu pesawat sama menteri” wkwkwk. itu pengalaman saya 1 pesawat dgn pejabat level atas, pesawatnya pesawat kecil pula yg bahkan gak ada business class-nya.
waktu turun saya sempat lihat beliau dikawal. saya fotoin buat kabarin grup keluarga walaupun gak kelihatan.
bukti terlampir 😅
✨OPEN ORDER ✨
Wayang Pandavva
(Slot terbatas, akan diinfokan bila penuh)
T.o.S/List Character : https://t.co/yZBvAWTqcg
Form Pemesanan : https://t.co/VNDspAqjKQ
Halo teman-teman, kalau ada pertanyaan, feel free to DM me!!! Thx 🙌🏻
🔁&♥️are appreciated! #zonakaryaid#artidn
Demo mahasiswa dan buruh menghasilkan:
1) Jam kerja 8 jam sehari, lebih dari itu wajib dihitung lembur.
2) Ada upah minimum, UMR, buat buruh atau karyawan perusahaan.
3) UMR juga tiap tahun disesuaikan dengan inflasi dan kebutuhan hidup.
Mau kaya gaji pokok PNS yang gak berubah dari tiga puluh tahun lalu? Kaya tunjangan fungsional dosen yang nominalnya gak berubah dari 2007? Tuh kalau gak pernah demo, suka-suka mereka.
4) THR juga hasil demo tahun 1960an. Kita masih nikmatin sampai hari ini.
5) BPJS ketenagakerjaan.
6) Cuti tahunan minimum 12 hari.
7) Reformasi. Suharto turun.
Kalau nggak mungkin hari ini semua sosmed diblokir sama "Departemen Penerangan".
Mungkin semua berita di TV cuma datang dari "Berita Malam" sama "Dunia Dalam Berita" punya TVRI dan direlay semua TV swasta.
Pidato Presiden selalu live. Mau kalian dengerin "nyenyenye" live?
***
Semua itu kita nikmati hari ini.
Gitu banyak yang nyinyirin rakyat demo.
Macet paling berapa jam sih?
not my country tapi demi tuhan sakitnya aku pun rasa sekali. dahlah jadi pemerintah pun bodoh, 10+6=17, hantar dia ke kumon pls biar muntah buat math tiap hari.
For those who want a bit more context: a massive student and worker protest is unfolding in Indonesia’s capital in response to the Prabowo government’s decision to raise fuel prices, alongside other policies that many Indonesians are calling corrupt because they deepen the burden on working-class Indonesians already struggling with rising living costs and a weakening rupiah.
What’s fueling the anger even further is the broader feeling that economic pressure is being pushed downward onto ordinary people while major policy decisions continue to favour politicians and the ultra wealthy.
Just last year, Indonesians protested over the same kind of government corruption, which led to a crackdown on its own civilians using military force in cities like Jakarta and Bandung, resulting in multiple deaths and injuries, including those of students.
This situation, however, embarrassed the Probowo government, as people from all over the world began paying attention and massed mobilised to send food, medical/legal aid and financial donations via apps like Grab and Ojek (the region’s equivalent of Uber) the movement received particularly strong support from people across Asia, especially Southeast and East Asia, while also drawing contributions from around the world. This is why Indonesians are asking the world pay attention to their country again.