Kolom Jonathan Liew di The Guardian setelah laga Portugal vs Prancis di Euro 2024 ini bisa menjadi gambaran mengapa sikap para pemain Portugal kepada Ronaldo biasa2 saja di Piala Dunia 2026.
"Theo Hernandez mencetak penalti kemenangan, dan seketika para pemain Portugal secara naluriah langsung berlari mengerumuni João Félix yang patah hati—satu-satunya pemain yang gagal mengeksekusi penalti—dan mendekapnya dalam pelukan mereka. Mendes berlari menghampirinya."
"João Palhinha berlari menghampirinya. Nelson Semedo berlari menghampirinya. Pepe menyampingkan kesedihannya sendiri—padahal ini bisa jadi merupakan pertandingan terakhirnya—dan berlari menghampirinya. Masih ada sebuah tim di sini, dan satu-satunya hal yang menyedihkan adalah kita tidak pernah diberi kesempatan untuk melihatnya."
"Satu orang tidak berlari ke arah Félix. Sebaliknya, ia berjalan ke arah lain, menyendiri, hanya dikejar oleh sorotan kamera yang penuh rasa ingin tahu. Dia Cristiano Ronaldo."
https://t.co/3SFiTvdbXl
Ronaldo: “Bellingham, sekarang ada Lamine (Yamal), ya para generasi muda ini, ada Vinicius juga. Mereka semua fantastis. Lanjutkan kerja keras kalian, tapi.. mereka yaa gak lebih bugar dari saya, mereka semua tau kok.”
👥👥👥: *tepuk tangan*
Lamine Yamal: 🧐
Imagina treinar como um louco por 25 anos e depois ser tachado de "preguiçoso" simplesmente por não postar nada nas redes sociais…
Messi está no mais alto nível do futebol porque também treinou sem parar. 🐐
Perbandingan sikap junior-junior Ronaldo dan Messi ini memang aneh.
Kalo ditelisik, di Argentina, mereka sudah punya pemain level dewa sebelum Messi ada, yaitu Diego Armando Maradona.
Kebesaran dan kehebatan Maradona di masa lalu bahkan membuat nama-nama yang muncul di era berikutnya selalu diharapkan sebagai Next Maradona.
Portugal juga punya pemain level dewa yaitu Eusebio. Namun dia muncul di era yang jauh lebih lampau yaitu 60-an sehingga saksi hidup yang masih ada di era Ronaldo tentu tidak sebanyak saksi hidup yang melihat Maradona saat Messi mulai menampakkan sosoknya.
Portugal memang punya Luis Figo, pemain termahal dunia dan peraih Ballon d'Or. Namun level Figo belum sampai level 'dewa'.
Dengan begitu, harusnya Ronaldo mendapatkan rasa respek yang lebih tinggi atau setidaknya sama dengan Messi.
Tapi yang terlihat, Messi mendapatkan segala rasa hormat dari juniornya. Bahkan hingga rasanya komentar mereka tak masuk akal.
Seperti ingin mempersembahkan Piala Dunia terakhir untuk Messi. Hal itu jelas-jelas menunjukkan betapa ambisi dan keinginan pribadi mereka ditekan demi Messi.
Bahkan memenangkan Piala Dunia 'demi Messi' itu seolah sejajar dengan 'demi Argentina' itu sendiri.
Mereka yang berkomentar seperti itu adalah mereka yang tumbuh dengan melihat punggung Messi. Punggung yang menanggung beban berat sebagai harapan Argentina yang lama puasa juara.
Sedangkan hal yang sama harusnya bisa didapatkan Ronaldo. Bukankah pemain-pemain muda Portugal juga tumbuh dengan melihat punggung Ronaldo yang berusaha keras memasukkan nama Portugal ke level elite dunia?
Tapi perjalanan Ronaldo dan Portugal malah diiringi situasi dan isu ketidakharmonisan.
Argentina juga punya masalah tapi yang pasti keharmonisan tidak menjadi hal-hal yang termasuk dalam masalah tim mereka.
Perbedaan paling mencolok yang bisa dilihat di lapangan adalah perlakuan kedua tim.
Pemain-pemain Argentina langsung datang bergerombolan ketika Messi dijatuhkan. Terkesan lebay namun mungkin itulah besarnya rasa hormat dan cinta mereka terhadap Messi.
Pemandangan yang tak banyak terlihat dari Ronaldo dan rekan-rekan setimnya di Portugal.
Kalo kita ngomongin gol di semi-final, roket dari Enzo Fernandez mungkin jadi yg paling indah.
Tapi harus diakuin, poin gol Enzo agak menurun karena posisi dia enak banget emang buat ngeshoot.
Sementara gol Lautaro ini, walaupun posisi Messi buat ngumpan enak, El Toro sendiri gak seluluasa Enzo.
Gol ini yg mastiin Argentina comeback.
Gol ini yg mastiin Inggris going home.
Dalam waktu normal pula pulangnya..
Lautaro.
Pemain yang buang dua peluang bagus di babak tambahan waktu final Piala Dunia 2022, bikin Argentina harus lewatin adu penalti.
Dianya gak ikutan nendang pula pas adu penalti itu, padahal baru masuk waktu babak tambahan waktu!
Sekarang jadi pencetak gol kemenangan Argentina yg bawa mereka ke final untuk kedua kalinya secara beruntun!
Catatan pemain Inter Milan selalu ada di final Piala Dunia sejak 1982 pun berhasil dipertahankan. Oleh kapten Inter! 🐍🔥
Itu kenapa, gol Lautaro ini layak jadi yg terbaik di semi-final Piala Dunia 2026.
Setuju gak? 🫵😁
@toshibatv_id | #FeelEveryGoal
🚨 Breaking News
Lionel Messi sang goat yang setiap langkahnya seolah sudah direstui oleh semesta ternyata sentuhan tangannya juga ajaib 🤯
selain Lamine Yamal yang dimandiin ternyata Messi pernah memberikan restu kepada pedri dengan menyentuh kakinya, terbukti beberapa tahun kemudian pedri menjadi salah 1 pemain terbaik dan pernah mendapatkan trofi kopa + golden boy 🌟
luar biasa bukan rencana semesta ini 👏🏻
Jadi inget omongan Jose Fonte pas wawancara bareng Rio Ferdinand soal aksi Cristiano Ronaldo di final Euro 2016.
Ronaldo yang ditarik keluar karena cedera bertingkah layaknya pelatih bagi rekan-rekannya. Dia berteriak, menunjuk-nunjuk, ngasih instruksi dsb.
"Jujur, kami yang ada di lapangan gak memperhatikannya. Kami fokus pada apa yang mesti kami lakukan. Kami ingin menang & jadi juara", aku Fonte.
Fonte nambahin, pemain Portugal yang ada di lapangan baru bener-bener tau tingkah Ronaldo setelah pertandingan selesai & melihatnya dari rekaman ulang.
@arsenalskitchen seneng cerita-cerita model gini 😌