Ada teori dalam marketing:
"Semakin niche suatu produk, maka edukasi ke market makin panjang. Butuh biaya dan waktu lebih banyak sebelum terjual."
Misalkan kamu jualan:
"Supplemen Fitness"
Emang bisa sekali jualan langsung laku?
Sulit 😩
Perlu edukasi dulu:
- Kandungan
- Keamanan
- Siapa produsennya
Sampai akhirnya market tahu dan yakin.
Beda cerita kalo kamu jualan:
"Basreng"
Semua orang tahu basreng.
Edukasi ke market jadi lebih pendek:
- Biaya
- Waktu
Packaging rapi & harganya menarik,
udah pasti mudah laku 👍
Begitu juga buat produk FILM.
Tiket film horor mudah terjual.
Karena orang udah tahu ekspektasinya pas nonton:
- Ketegangan
- Dapat jumpscare
- Seru
Sedangkan film festival kayak PARA PERASUK, orang gak punya bayangan filmnya kayak apa.
Berarti edukasinya perlu lebih panjang.
Butuh biaya & waktu lebih banyak.
Nah, jujur PARA PERASUK ini bikin kaget.
Tahu-tahu tayang di bioskop.
Review dari kritikus sebenernya membantu.
Tapi butuh LEBIH BANYAK dan SERING.
Sampai akhirnya market tahu, penasaran, dan tertarik.
Dan salah satu marketnya adalah aku.
Tapi, pas mau nonton udah keburu turun layar.
Andai geliat marketing PARA PERASUK lebih awal sebelum tayang, kayaknya bakal punya cerita berbeda.
15 juta ga otomatis bikin kamu bahagia
Lingkungan sehat ga otomatis bikin kamu bahagia
Yang bikin bahagia adalah pikiran dan jiwa kita dalam menyikapi keadaan.
1 atau 2, hasilnya sama aja kalau kita ga bisa bersyukur.
Soal tren cowo2 pada bilang "sepakat" termasuk ada cewe2 yang mulai ikut2an ngebela. Kurasa, orang2 ini akan sulit berkembang.
Kenapa?
Pandanganku gini, menyimak argumen atau mengolah opini seseorang di kepala itu termasuk "menghargai" dia di dalam relasi itu, entah pertemanan, pasangan atau mungkin di ranah lingkar diskusi kolektif. Bahkan kontra sekalipun isi argumennya.
Kan ada yg disebut "mengoreksi", kalo misal ada argumen yang dirasa miss atau gak sesuai sama standar pengetahuan tertentu, terus masih bisa diexplore bareng2 letak kesalahan argumennya (karena argumen itu mewakili cara berpikir).
Itu dinamika yang sehat kok. Sering aku lakuin sama kawan2ku juga, entah cowo atau cewe, yang cowo pun gak takut kalo misal argumen mereka dipatahin :)
Karena ya masing2 orang punya titik berangkat yang beda buat akses pengetahuan. Gak semua pengetahuan diketahui. Dan itu wajar btw:)
Bahkan di ranah penelitian aja tuh, banyak penelitian baru atau teori baru yang diciptain buat matahin temuan sebelumnya.
Nah baru kalo emang ada orang yang udah dikasih tahu ini kalo pandangannya kurang tepat, tapi masih ngeyel, yaudah bikin boundaries aja. Misalnya kaya para incel sama misoginis tuh kan ya ngeyel bgt:)
@hongmurr@yappingfess Meskipun memang banyak yang overuse dan bego dalam penggunaan kata sepakat, tapi percayalah, beberapa opini dari sisi kalian memang patut diberi kata “sepakat”.
@ATM_GarisLunak Cakep ni, tapi mahal ga kak
Saya kaum mendang mending yang gapernah beli IKEA. Lebih sering beli furniture di fb marketplace lalu direstorasi 😅
Kalo ada dokter minta pasienya pake BPJS bukan berarti BPJS ngasih duit banyak ke dokternya, tapi dokternya tahu kalo biaya pengobatan penyakit tertentu bakal mahal. Bersyukurlah nemu dokter kek gitu. Berarti dia peduli sama pasienya.
@goldgloryandyou Setuju, tapi kalau kita mau bahas solusinya, kira-kira gimana?
Apakah sosialisasi jurusan perlu dikuatin pas masih pada SMA?
Atau konten semester 1 perkuliahan yang perlu diubah isinya?
@tvindonesiawkwk Entah, kurang berkesan. Ceritanya sih memang banyak yang bagus ya.
Tapi secara experience nonton, film Indonesia kurang memberi hal atau pengalaman baru.
Rasanya formula yang sudah works dikemas ulang dengan cerita lain.